Ketum PP Muhammadiyah Sebut Kemajemukan Telah Menjadikan Indonesia Kokoh
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Ketum PP Muhammadiyah Sebut Kemajemukan Telah Menjadikan Indonesia Kokoh

Kamis, 22 Agustus 2019 | 20:53 WIB
Oleh : Carlos KY Paath / WM

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia merupakan bangsa dan negara yang majemuk dalam hal pemeluk agama, suku bangsa, ras, kedaerahan, golongan, bahkan lokasi geografis. Bhinneka Tunggal Ika, selain telah menjadi idiom dan alam pikiran kolektif dalam kehidupan keindonesiaan, juga menjadi identitas dan rujukan sikap berbangsa.

Demikian disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam keterangan seperti diterima SP, Kamis (22/8.2019). Menurut Haedar, Bhinneka Tunggal Ika menggambarkan mozaik kearifan dari realitas kemajemukan di tubuh bangsa Indonesia. Kemajemukan itu yang telah menjadikan Indonesia kokoh sebagai negara dan bangsa.

“Dengan spirit Bhinneka Tunggal Ika, bangsa Indonesia dapat melewati gesekan dan masalah SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) dari masa ke masa, meskipun melalui pengalaman dan proses yang penuh pergumulan dan pengorbanan dari semua komponen bangsa,” ungkap Haedar.

Oleh karena itu, Haedar menyatakan, setiap warga bangsa baik secara individu maupun kolektif, penting menyadari dan menghayati betul makna kemajemukan. Bahwa masyarakat Indonesia itu sungguh beragam dan dapat hidup dalam keragaman.

“Jangan pernah merasa hidup sendiri di Republik ini. Manakala hakikat kemajemukan tersebut diabaikan dan tidak dipahami secara seksama akan muncul pernyataan, ujaran, sikap, dan tindakan yang tidak semestinya yang akan menyinggung dan mengganggu suasana kemajemukan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa, sehingga lahir masalah dan keresahan sosial,” ucap Haedar.

Haedar mengungkapkan, Indonesia perlu belajar dari sejarah mutakhir bubarnya Yugoslavia, karena pilar negaranya runtuh dan tidak mampu menyangga eksistensi kemajemukan bangsanya.

“Insyaallah Indonesia akan tetap kokoh menjadi negara-bangsa. Satu di antaranya jika semua komponen di tubuh bangsa ini menjaga anugerah Allah berupa Indonesia negeri dan bangsa yang majemuk ini bagikan rumpun bambu yang satu,” ungkap Haedar.

Melalui semangat kebinekaan dan didukung komitmen semua pihak, Haedar optimistis setiap permasalahan yang timbul dari gesekan antarkomponen bangsa dapat terselesaikan dengan baik. Tentunya dengan mengedepankan semangat perdamaian, persaudaraan, dan persatuan sebagai keluarga besar bangsa.

“Kejadian-kejadian yang mengganggu kolektivitas berbangsa apapun penyebabnya yang tentu saja sangat tidak diinginkan oleh semua pihak benar-benar harus dicegah agar tidak boleh lagi terjadi lagi karena merugikan dan mengancam keutuhan hidup kebangsaan di negeri tercinta,” kata Haedar.

Haedar pun menyebut, “Di sinilah pentingnya kedewasaan semua pihak dalam berujar, bersikap, dan bertindak agar tidak mengganggu keberadaan hidup bersama. Kembangkan segala ikhtiar untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang ditunjukkan oleh kemauan dan sikap lapang hati untuk saling berbagi dan peduli, empati dan simpati, meminta maaf dan memaafkan, mengedepankan perdamaian, mengokohkan kebersamaan, serta menjunjungtinggi persatuan seluruh keluarga bangsa.”

Hanya dengan kearifan dan jiwa ikhlas satu sama lain, Haedar menyatakan, bangsa Indonesia akan tetap terjaga persatuan dan kebersamaannya di tengah dinamika hidup dalam kemajemukan. Haedar mengimbau masyarakat luas di seluruh Tanah Air agar mampu menahan diri, seksama, dan bijaksana. Khususnya dalam menghadapi berbagai masalah di tubuh bangsa Indonesia.

Menjujung tinggi kebersamaan dengan mengembangkan kearifan kolektif bahwa hidup bersama dalam kemajemukan memerlukan toleransi dan kedewasaan yang tinggi satu sama lain.

“Bersama dengan itu warga masyarakat dan para elite agar tidak terpancing dan tidak mengembangkan isu-isu yang berpotensi memanaskan situasi dan hal-hal yang berpotensi memecah-belah keutuhan bangsa,” ucap Haedar.

Kepada para pihak, termasuk melalui media sosial, menurut Haedar, tidak perlu dikembangkan pernyataan-pernyataan dan apapun yang dapat memperkeruh keadaan. Sebaliknya, perlu dikedepankan ajakan, imbauan, dan pesan-pesan yang menciptakan suasana damai dan kondusif. Sikap bijak dan lapang hati tidak akan meluruhkan keberadaan setiap elite, warga, dan komponen bangsa.

“Sebaliknya kebesaran jiwa dan kearifan justru melambangkan kekuatan spiritual, moral, dan akhlak mulia setiap insan dan golongan bangsa di negeri tercinta ini,” kata Haedar.

Haedar mengatakan, persoalan bangsa Indonesia tidaklah sederhana. Memerlukan pemahaman, pemetaan, dan pemecahan masalah yang seksama dan menyeluruh. Karenanya diperlukan pendekatan dari aspek spiritualitas, hukum, politik, ekonomi, budaya, dan aspek-aspek lainnya yang saling terkait satu sama lain secara menyeluruh.

“Kepada para pejabat dan elite negeri maupun tokoh masyarakat dan agamawan di mana pun berada penting semakin mengedepankan komitmen, amanat, dan tanggunjawab yang tinggi dalam mengurus dan memperjuangkan kepentingan bangsa dan negara di atas egoisme diri dan kelompok sehingga rakyat dan umat memiliki panduan dan suri teladan dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara yang majemuk ini. Sebarkan nilai-nilai keagamaan dan keruhanian yang menenteramkan, mendamaikan, menyatukan, memajukan, dan mencerahkan kehidupan bersama,” ungkap Haedar.

Sebagai penutup, Haedar mengungkap, “Semoga Allah Yang Maha Kuasa memberikan bimbingan, perlindungan, dan berkah bagi bangsa Indonesia serta kita sebagai umat yang beragama semakin beriman dan bertaqwa kepada-Nya dengan terus beramal-kebajikan atas nama-Nya yang menyebar rahmat bagi semesta alam.”



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Persoalan Papua, GMNI: Utamakan Prinsip Persatuan Indonesia

Mengedepankan prinsip persatuan, kesatuan, dan persaudaraan dalam penyelesaian konflik-konflik yang terjadi adalah langkah yang harus diutamakan

NASIONAL | 22 Agustus 2019

Wacana Provinsi Bogor Raya, Mendagri Ingatkan Moratorium DOB

Kemdagri telah menerima 314 aspirasi yang meminta otonomi daerah baru (DOB).

NASIONAL | 22 Agustus 2019

Kebakaran Hutan Telah Mencapai 135.000 Hektare

Persentase titik api di 2019 meningkat dengan rata-rata lebih dari 50 persen ketimbang 2018.

NASIONAL | 22 Agustus 2019

Kepala BNPB Minta Pembakar Hutan Disanksi Tegas

Alasannya, kejadian kebakaran hutan sudah sering terjadi tiap tahun.

NASIONAL | 22 Agustus 2019

Ditanya Ibu Kota Baru Berada di Kaltim, Presiden: Masih Tunggu Kajian

Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih menutup rapat lokasi persis ibu kota baru.

NASIONAL | 22 Agustus 2019

Mendagri Usulkan Ibu Kota Baru Tidak Jadi Daerah Otonom Baru

Ibu kota baru itu nantinya tidak akan berbentuk daerah khusus ibu kota seperti yang disandang Jakarta saat ini.

NASIONAL | 22 Agustus 2019

Mendagri Jamin Pelayanan Publik di Papua dan Papua Barat Tetap Berjalan

Tjahjo meminta kepada kepala daerah di Papua dan Papua Barat melarang aparatur sipil negara (ASN) di daerah masing-masing untuk turun ke jalan.

NASIONAL | 22 Agustus 2019

Mahasiswa Papua: Rasa Sakit Hati Masyarakat Papua, Obatnya Presiden Jokowi

"Luka yang sudah mendarah di sana dan obatnya itu adalah bapak Presiden Joko Widodo" ujar Ketua Himpunan Pelajar Mahasiswa Papua Barat di Makassar.

NASIONAL | 22 Agustus 2019

Mendagri Minta Gubernur Papua dan Papua Barat Berdialog dengan Gubernur Jatim

Dialog antar gubernur penting untuk mencari titik temu terkait persoalan yang terjadi belakangan ini.

NASIONAL | 22 Agustus 2019

Hak Jawab Jo'mari Flobamora

Jo'mari Flobamora memberikan hak jawab atas berita berjudul "TKN Bantah Terkait dengan Jomari Flobamora".

NASIONAL | 22 Agustus 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS