INDEX

BISNIS-27 450.793 (-2.26)   |   COMPOSITE 5144.05 (-15.82)   |   DBX 982.653 (2.46)   |   I-GRADE 141.194 (-0.62)   |   IDX30 430.883 (-2.17)   |   IDX80 114.327 (-0.59)   |   IDXBUMN20 295.098 (-2.05)   |   IDXG30 119.385 (-0.73)   |   IDXHIDIV20 382.257 (-1.97)   |   IDXQ30 125.574 (-0.78)   |   IDXSMC-COM 221.901 (-0.43)   |   IDXSMC-LIQ 259.068 (-1.66)   |   IDXV30 107.621 (-1.14)   |   INFOBANK15 842.759 (-2.22)   |   Investor33 376.322 (-1.83)   |   ISSI 151.265 (-0.8)   |   JII 550.5 (-4.84)   |   JII70 187.95 (-1.54)   |   KOMPAS100 1026.39 (-5.14)   |   LQ45 794.213 (-3.71)   |   MBX 1420.94 (-5.57)   |   MNC36 281.737 (-1.36)   |   PEFINDO25 284.937 (-1.16)   |   SMInfra18 242.709 (-2.12)   |   SRI-KEHATI 318.969 (-1.57)   |  

Penetrasi Baru 3%, Industri Asuransi Masih Terus Bertumbuh

Selasa, 22 September 2020 | 17:48 WIB
Oleh : Herman / WBP

Jakarta, Beritasatu.com – Menurut pengamat asuransi Tri Djoko Santoso, industri asuransi di Indonesia diyakini masih terus bertumbuh, meskipun saat ini ikut terdampak pandemi Covid-19. Apalagi tingkat penetrasi asuransi di Indonesia baru mencapai sekitar 3 persen.

“Kami melihat masih ada peluang untuk tumbuh di tahun depan, terutama karena pasar belajar bahwa di tengah-tengah ketidakpastian ini, perlu asuransi untuk melindungi keuangan seorang kepala rumah tangga dan juga melindungi aset-asetnya,” kata Tri Djoko dalam acara Best Insurance 2020 yang digelar Majalah Investor, Selasa (22/9/2020).

Disampaikan Direktur Pengawasan Asuransi dan BPJS Kesehatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Supriyono, pada Juli 2020, industri asuransi di Indonesia memang masih mengalami penurunan akibat tekanan Covid-19. Dari sisi aset, perusahan asuransi komersial mengalami penurunan Rp 17,2 triliun atau -2,2 persen dibandingkan Juli 2019. Sedangkan dari kinerja rugi-laba, penurunan juga terjadi untuk premi, di mana untuk asuransi komersial turun Rp 7,2 triliun atau -4,5 persen YoY. Di sisi lain, klaim justru meningkat sebesar Rp 4,3 triliun atau 3,8% YoY.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, menurut Supriyono, pemanfaatkan teknologi atau platform digital sangat penting agar pelaku industri asuransi bisa tetap bertahan. OJK juga melakukan pendekatan regulasi, di mana perusahaan asuransi bisa tetap menjalankan usahanya dengan menjual produk asuransi tanpa melakukan face to face melalui pertemuan jarak jauh untuk asuransi yang dikaitkan dengan investasi.

“Kami juga sudah menerbitkan satu ketentuan tingkat kesehatan yang baru untuk perusahan asuransi, di mana salah satu hal yang kami tekankan adalah unsur penilaian tata kelola terhadap perusahan asuransi. Sehingga ketika menilai kesehatan perusahaan asuransi tidak sekedar dari kinerja keuangan, tetapi juga melakukan assessment terhadap risiko-risiko yang dihadapi, bagaimana model bisnis yang dilakukan. Jadi istilahnya lebih holistik, dari mulai tata kelola, end to end kita coba cermati prosesnya, orang-orang yang melakukannya kita pastikan prudent, kemudian risiko-risiko yang diambil sudah di-asset dengan proper, mitigasinya juga dilakukan dengan proper, sehingga kita berharap yang terjadi saat ini bisa diperbaiki di masa yang akan datang,” kata Supriyono.

Memperkuat Renewal Business
Sementara menurut Direktur Utama PT BRI Asuransi Indonesia Fankar Umran, karakter dari bisnis asuransi sebetulnya mengikuti perkembangan bisnis lain. Bila sektor riil terdampak pandemi Covid-19, maka bisnis asuransi juga akan ikut terdampak, meskipun saat ini dampaknya belum begitu signifikan.

“Perlu hati-hati bagi teman-teman di industri asuransi, karena dia akan terdampak besar bukan sekarang ini, tetapi kemudian. Barangkali mungkin di 2021 ketika bisnis sudah merasa kesulitan cash flow. Sekarang ini masih banyak bisnis yang masih punya tabungan untuk membayar premi, individu pun begitu. Tetapi kalau pandemi ini berlangsung terus-menerus, dampaknya akan besar pada asuransi. Orang tidak akan lagi memprioritaskan asuransi, tetapi lebih memprioritaskan pada kebutuhan sehari-hari,” kata Fankar.

Karenanya, pelaku industri asuransi umum harus mengamati betul portofolionya, mana yang terdampak paling buruk dan yang akan meningkat. Kemudian selain mengakselerasi bisnis model ke digital, perusahan asuransi juga harus tetap menjaga portofolio yang masih harus face to face, misalnya korporasi atau asuransi yang complicated risk.

Lantaran tidak ada satu pun yang bisa memprediksi kapan pandemi Covid-19 akan berakhir, Fankar mengatakan para pelaku di industri asuransi juga harus melakukan langkah-langkah antisipasi. Caranya adalah dengan memperkuat renewal business, sehingga diharapkan masih bisa tetap bertumbuh.

“Seperti di bisnis lain, kita juga punya dua model yaitu new business dan renewal business. Maka yang perlu kita lakukan sekarang adalah memaintance yang renewal, sebab bagi asuransi renewal juga sama dengan new business. Ketika kita tidak bisa mendapatkan new business, maka renewal ini harus dijaga. Maka komunikasi harus dijaga, barangkali juga ada semacam keringanan-keringanan atau relaksasi,” kata Fankar.

Tetapi meskipun dalam situasi pandemi Covid-19, penetrasi perluasan bisnis atau market development menurutnya harus tetap dilakukan. Apalagi saat ini masih banyak masyarakat yang belum memiliki asuransi, di mana penetrasinya baru sekitar 3 persen. “Kita bisa perluas pasar dengan mengkomunikasikan asuransi melalui berbagai macam channel, antara lain channel digital,” kata Fankar.

Fankar juga meyakini bahwa industri asuransi punya potensi yang besar untuk semakin bertumbuh, sebab pasarnya masih sangat luas untuk digarap. Namun edukasi dan sosialisasi terkait asuransi menurutnya juga harus terus dilakukan. “Kita perlu sampaikan kepada masyarakat, yang mungkin belum insurance minded bahwa risiko sekarang itu juga terus meningkat. Kalau Anda tidak melakukan asuransi atau hanya membayar sedikit premi dan meng-cover banyak risiko, justru akan terjadi masalah besar ketika terjadi masalah dan Anda tidak punya asuransi,” kata Fankar.

Sementara itu menurut Direktur Utama PT Tugu Reasuransi Indonesia Adi Pramana, dalam menghadapi pandemi Covid-19, satu hal yang bisa dilakukan adalah efisiensi di masing-masing perusahan, terutama dengan adanya teknologi. Struktur biaya dari masing-masing perusahaan juga harus dianalisis.

Adi juga menekankan pentingnya sosialisasi terkait asuransi, sebab adanya pandemi Covid-19 juga dinilainya sebagai waktu yang tepat untuk mulai memiliki asuransi. “Kita meyakini kondisi ini akan berlalu, apalagi kalau nanti di semester I tahun depan sudah ada vaksin Covid-19. Optimisme ini penting sekali, dan nasabah juga harus diyakinkan. Apalagi dengan kondisi pandemi seperti sekarang, aset mereka terbatas, sehingga kalau terjadi apa-apa dengan asetnya justru malah tambah rugi. Jadi ini saat yang tepat untuk beli asuransi untuk melindungi aset mereka,” kata Adi.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

KAI Tambah Stasiun yang Layani Rapid Test

KAI menambah daftar stasiun yang menyediakan layanan rapid test Covid-19 menjadi total tersedia di 21 stasiun per tanggal 22 September 2020.

EKONOMI | 22 September 2020

Topang Industri 4.0, Pembangunan Infrastruktur Digital Buka Peluang US$ 150 Miliar

Kemperin terus mendorong sektor manufaktur di Tanah Air untuk dapat memanfaatkan teknologi industri 4.0.

EKONOMI | 22 September 2020

RUU Cipta Kerja Perlu Jamin Tercapainya Daya Saing Daerah Berkelanjutan

Omnibus Law diharapkan memberi ruang pada kewenangan daerah dalam mengembangkan potensinya dengan berbagai inisiatif inovasi.

EKONOMI | 22 September 2020

Kemhub Pertajam Rencana Kerja 2021 dengan Pertimbangkan Usulan Komisi V

Kemhub memprioritaskan untuk program padat karya dan pemulihan sektor riil.

EKONOMI | 22 September 2020

BBCA dan BBRI Saham yang Paling Banyak Ditransaksikan

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan frekuensi 32.337 kali.

EKONOMI | 22 September 2020

Kapitalisasi BMRI dan BBCA Ambles Paling Dalam

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mengalami pelemahan terdalam sebesar Rp 175 (3,1 persen) mencapai Rp 5.300 dengan kapitalisasi pasar Rp 244,8 triliun.

EKONOMI | 22 September 2020

Tak Berdaya, Rupiah Ditutup Melemah 85 Poin

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 14.700- Rp 14.811 per dolar AS.

EKONOMI | 22 September 2020

Cegah Covid-19, Anggaran Pilkada Naik Jadi Rp 20,46 Triliun

Anggaran Pilkada ditambah Rp 2,77 triliun.

EKONOMI | 22 September 2020

IHSG Ditutup Hilang 65 Poin ke 4.934

Sementara indeks LQ-45 melemah 11,5 poin (0,98 persen) ke level 756,3.

EKONOMI | 22 September 2020

Bursa Eropa Menguat di Tengah Kekhawatiran Covid-19

Pan-European Stoxx 600 menguat 0,5 persen pada awal perdagangan, dengan saham teknologi melonjak 1,4 persen memimpin kenaikan.

EKONOMI | 22 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS