Pandemi, Perlu Insentif untuk Tarik Investasi ke RI
INDEX

BISNIS-27 426.538 (11.39)   |   COMPOSITE 4842.76 (103.04)   |   DBX 923.5 (7.76)   |   I-GRADE 127.867 (3.45)   |   IDX30 404.318 (11.17)   |   IDX80 105.647 (2.92)   |   IDXBUMN20 263.312 (10.37)   |   IDXG30 113.239 (2.36)   |   IDXHIDIV20 361.834 (9.72)   |   IDXQ30 118.461 (3.18)   |   IDXSMC-COM 206.934 (3.31)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (5.97)   |   IDXV30 99.778 (3.02)   |   INFOBANK15 760.318 (27.06)   |   Investor33 353.585 (10.19)   |   ISSI 142.238 (2.46)   |   JII 514.346 (9.5)   |   JII70 174.038 (3.75)   |   KOMPAS100 945.162 (25.96)   |   LQ45 740.002 (20.32)   |   MBX 1338.07 (31.05)   |   MNC36 264.409 (7.18)   |   PEFINDO25 251.635 (8.18)   |   SMInfra18 228.656 (4.87)   |   SRI-KEHATI 297.818 (8.93)   |  

Pandemi, Perlu Insentif untuk Tarik Investasi ke RI

Jumat, 24 Juli 2020 | 20:10 WIB
Oleh : Lona Olavia / WBP

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 berdampak negatif terhadap investasi di Indonesia. Jika tidak ditangani dengan baik, dikhawatirkan realisasi investasi tidak mencapai target yang pada gilirannya berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, perlu ada insentif untuk menarik investasi di tengah kondisi pandemi virus corona. Tujuannya, agar Indonesia memiliki peluang yang sama dengan negara lain di mata investor. Misalnya Vietnam yang memberikan kemudahan regulasi investasi, biaya ekspor yang lebih efisien, sampai infrastruktur untuk mendukung industri. "Kalau kebijakan mereka itu bagus, kenapa kita tidak copy paste saja,” ujarnya, Jumat (24/7/2020).

Ia menekankan, insentif tersebut harus bisa diterapkan pelaku usaha. "Jangan sampai kebijakan tersebut bagus di atas kertas tetapi ketika akan dieksekusi sulit diapikasikan. Sebenarnya kita sudah menyediakan insentif, namun sering kali sulit untuk diaplikasikan,” katanya.

Sementara Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, BKPM akan fokus membantu investor mengurus berbagai hal yang dibutuhkan seperti, perizinan dari daerah hingga pusat. Asalkan, investor tersebut benar-benar serius menanamkan modal di Indonesia. "Investor yang bawa modal, bawa teknologi, izinnya kami bantu. Contoh di Kawasan Industri Batang. Kami bikin tanahnya murah, izinnya cepat," kata Bahlil.

BKPM mencatat, nilai realisasi investasi di kuartal II-2020 sebesar Rp 191,9 triliun. Perinciannya, sebesar Rp 94,3 triliun merupakan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan sebesar Rp 97,6 triliun Penanaman Modal Asing (PMA). Dibandingkan periode sama tahun lalu, total nilai investasi di kuartal II-2020 turun sebesar 4,3 persen. Sedankan realisasi PMA turun sebesar 6,9 persen. Sementara jika dibandingkan kuartal I-2020, realisasi investasi di kuartal II-2020 turun hingga 8,9 persen. PMDN tercatat anjlok hingga 16,4 persen.

Bahlil mengakui, pencapaian realisasi investasi di kuartal II-2020 di bawah target yang ditetapkan yakni di atas Rp 200 triliun. Tidak tercapainya target ini disebabkan karena pandemi Covid-19. "Harus kami akui, kuartal II ini periode yang sangat berat karena kondisi Covid-19," ujarnya.

Menurut Bahlil, penurunan realisasi investasi asing disebabkan ekonomi global yang sedang lesu akibat corona, bukan karena investor asing tidak percaya pada Indonesia. Untuk mencapai target tahun ini, Bahlil mengatakan, BKPM akan terus mengejar investor yang telah menyatakan komitmen menanamkan modal.

Saat ini, BKPM telah memiliki Tim Mawar, tim yang dibentuk secara khusus untuk menggaet investor. "Tim Mawar mengikuti per hari, menanyakan tiap hari ke investor dan meyakinkan mereka," kata Bahlil.

Dengan adanya Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 tahun 2019, kewenangan pemberian insentif fiskal sudah beralih dari Kementerian Keuangan ke BKPM. Aturan tersebut membuat pemberian insentif fiskal bisa dilakuan lebih cepat. "BKPM tidak perlu lagi berlama-lama memutuskan pemberian insentif fiskal selama memenuhi kaidah yang diminta dalam Peraturan Menteri Keuangan," ujar Bahlil.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Jasamarga Resmikan Pujasera di Rest Area Batang-Semarang

Ke depannya, kata Denny, program penanaman pohon yang melibatkan para tenant akan diadopsi di rest area lainnya.

EKONOMI | 24 Juli 2020

Future Financial Festival 2020 Digelar 25-26 Juli

Di tengah situasi ketidakpastian ekonomi, masyarakat perlu belajar, khususnya di bidang ekonomi dan keuangan.

EKONOMI | 24 Juli 2020

Penyaluran KUR Bank Mandiri Capai Rp 7,03 Triliun

Kredit disalurkan pada 84.500 debitur.

EKONOMI | 24 Juli 2020

BI Perkirakan Juli 2020 Deflasi 0,03%

Penyumbang utama deflasi pada periode laporan antara lain berasal dari bawang merah, daging ayam ras, bawang putih,gula pasir, cabai merah, daging sapi.

EKONOMI | 24 Juli 2020

Banyak Kendala, Aturan Relaksasi Pajak PPh 21 Disederhanakan

Target dari stimulus PPh 21 DTP ini adalah kelas menengah yang juga ikut terdampak pandemi Covid-19.

EKONOMI | 24 Juli 2020

Presiden Bagikan Modal Kerja ke Pedagang Kecil di Istana Bogor

Pemerintah membagikan BMK sebesar Rp 2,4 juta kepada 12 juta pedagang kecil.

EKONOMI | 24 Juli 2020

Kemkop UKM Gandeng Kemtan Perkuat Warung Sembako

Kemkop UKM menyiapkan ribuan warung sembako di Jabodetabek yang siap memasarkan produk pertanian.

EKONOMI | 24 Juli 2020

Program Penjaminan Kredit Korporasi Akan Ciptakan KMK Rp 100 T

Perluasan program penjaminan kredit modal kerja ini karena melihat realisasi dari penjaminan kredit UMKM yang cukup menggembirakan.

EKONOMI | 24 Juli 2020

Kepala BKF Sebut RI Masih Berpeluang Tidak Resesi

Pemerintah saat ini tengah bekerja keras agar pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2020.

EKONOMI | 24 Juli 2020

FREN dan KAEF Pimpin Daftar Saham Teraktif

PT Smartfren Telecom Tbk (FREN) dengan frekuensi 46.611 kali.

EKONOMI | 24 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS