5.000 Anak Yaman Terbunuh atau Luka dalam Perang
INDEX

BISNIS-27 434.406 (-0.23)   |   COMPOSITE 4934.09 (-16.14)   |   DBX 924.804 (3.39)   |   I-GRADE 130.838 (-0.55)   |   IDX30 413.425 (-1.26)   |   IDX80 108.094 (-0.37)   |   IDXBUMN20 272.657 (-3.39)   |   IDXG30 115.379 (0.39)   |   IDXHIDIV20 370.721 (-2.24)   |   IDXQ30 120.916 (-0.16)   |   IDXSMC-COM 211.116 (-0.82)   |   IDXSMC-LIQ 236.814 (-0.83)   |   IDXV30 102.468 (-0.58)   |   INFOBANK15 776.883 (-3.28)   |   Investor33 360.093 (-0.17)   |   ISSI 144.765 (-0.24)   |   JII 523.909 (0.36)   |   JII70 177.568 (-0.12)   |   KOMPAS100 966.07 (-3.19)   |   LQ45 756.376 (-2.2)   |   MBX 1366.8 (-5.86)   |   MNC36 270.277 (-1.09)   |   PEFINDO25 258.891 (-1.93)   |   SMInfra18 233.321 (-1.32)   |   SRI-KEHATI 303.606 (-0.74)   |  

5.000 Anak Yaman Terbunuh atau Luka dalam Perang

Kamis, 18 Januari 2018 | 17:42 WIB
Oleh : Unggul Wirawan / WIR

Sanaa - Perang di Yaman telah membunuh atau melukai lebih dari 5.000 anak-anak dan membuat 400.000 anak lainnya menderita kekurangan gizi dan berjuang keras untuk hidup.

Pada Selasa (16/1), badan dunia untuk anak-anak (UNICEF) menyatakan hampir dua juta anak-anak Yaman tidak bersekolah. Angka itu hampir seperempat dari jumlah mereka sejak konflik meningkat ketika koalisi pimpinan-Saudi melakukan intervensi pada Maret 2015.

"Seluruh generasi anak-anak di Yaman tumbuh tanpa mengetahui apapun kecuali kekerasan. Anak-anak di Yaman menderita akibat perang yang menghancurkan yang tidak mereka buat," kata Meritxell Relano, perwakilan UNICEF di Yaman.

Dalam satu laporan yang dirilis di Sanaa, UNICEF menyatakan lebih dari tiga juta anak terlahir dalam perang tersebut. Anak-anak itu mengalami tahun-tahun penuh kekerasan, pengungsian, penyakit, kemiskinan, kekurangan gizi dan kurangnya akses terhadap layanan dasar.

UNICEF menyatakan bahwa lebih dari 5.000 anak-anak yang terbunuh atau terluka dalam kekerasan tersebut berjumlah rata-rata lima anak setiap hari sejak Maret 2015. Badan PBB tersebut menyatakan lebih dari 11 juta anak atau "hampir setiap anak di Yaman, sekarang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

"Malnutrisi dan penyakit merajalela saat gagalnya layanan dasar. Mereka yang bertahan cenderung membawa bekas luka fisik dan psikologis selama sisa hidup mereka," katanya.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional menyatakan pihaknya menghadapi kesulitan ekonomi dan meminta sekutunya, termasuk Arab Saudi, untuk membantu mengatasinya.

Dalam pesan di Facebook, Perdana Menteri Ahmed bin Dagher mengirim surat kepada sekutu. Isi surat itu meminta mereka untuk membantu Yaman secara finansial agar menyelamatkan orang-orang Yaman dari kelaparan.

Dagher mendesak sekutu untuk mentransfer uang tunai ke bank sentral di Aden, ibu kota de facto pemerintahnya setelah pemberontak Houthi yang didukung Iran menggulingkannya dari Sanaa.

Perang tersebut telah membunuh 9.245 orang sejak Arab Saudi dan sekutu Arab-nya bergabung dalam perang melawan Houthi, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Perang memicu apa yang disebut PBB sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Lebih dari 2.200 orang meninggal akibat wabah kolera yang melanda negara itu sejak April. [AFP/U-5]



Sumber:Suara Pembaruan

TAG: 


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Jelang Rencana Repatriasi Rohingya, Kesiapan Myanmar Diragukan

Kekhawatiran semakin meningkat di antara badan-badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan kelompok-kelompok kemanusiaan mengenai kesepakatan repatriasi

DUNIA | 18 Januari 2018

Buntut Salmonella, Keamanan Makanan Prancis Diragukan

Kasus kontaminasi bakteri salmonella pada susu bayi telah memicu keraguan soal keamanan makanan di Prancis, serta menimbulkan pertanyaan tentang mencegah gelombang kekhawatiran kesehatan lainnya.

DUNIA | 18 Januari 2018

Penjaga Pantai Italia Selamatkan 1.400 Migran

Sekitar 1.400 pengungsi telah diselamatkan dari kapal-kapal yang penuh sesak di Laut Mediterania, di lepas pantai Libia.

DUNIA | 18 Januari 2018

Pasangan Suami Istri di California Siksa 13 Anaknya

Polisi Amerika Serikat (AS) telah mendakwa suami istri yang telah melakukan penganiayaan terhadap 13 anaknya.

DUNIA | 18 Januari 2018

Aksi Penjarahan di Venezuela Picu Ketakutan Warga

Gelombang penjarahan gerombolan warga yang kelaparan di seluruh Venezuela telah membuat di toko-toko sepanjang jalan tertutup di kota-kota provinsi.

DUNIA | 18 Januari 2018

Defisit Perdagangan Kimchi Catat Rekor Tertinggi

Disparitas harga merupakan faktor utama yang menyebabkan terjadinya defisit perdagangan kimchi.

DUNIA | 17 Januari 2018

Pemerintah India Setop Subsidi Ibadah Haji

Pemerintah India mengumumkan berakhirnya kebijakan panjang selama beberapa dekade untuk memberikan subsidi kepada ribuan umat Muslim dalam menunaikan ibadah haji di Mekkah.

DUNIA | 17 Januari 2018

Erupsi Gunung Mayon di Filipina, 21.000 Orang Dievakuasi

Lebih dari 21.000 orang telah dievakuasi dari lingkungan sekitar Gunung Mayon di Filipina karena letusan terus berlanjut memasuki hari keempat, Selasa (16/1).

DUNIA | 17 Januari 2018

Pertemuan Denuklirisasi Korut, Rusia-Tiongkok Tak Dilibatkan

Rusia dan Tiongkok tak dilibatkan dalam pertemuan membahas program denukliralisasi Korea Utara (Korut) yang berlangsung di Vancouver, Kanada, Selasa (16/1).

DUNIA | 17 Januari 2018

Repatriasi Myanmar-Bangladesh Selesai dalam 2 Tahun

Bangladesh dan Myanmar telah sepakat bahwa mereka akan berusaha menyelesaikan pemulangan kembali (repatriasi) ratusan ribu pengungsi Rohingya.

DUNIA | 17 Januari 2018


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS