Sebelum Menindak Iran, Saudi Tunggu Hasil Penyelidikan

Sebelum Menindak Iran, Saudi Tunggu Hasil Penyelidikan
Para wartawan berkumpul di sebelah instalasi yang rusak di kilang pengolahan minyak Abqaiq, Arab Saudi, Jumat (20/9/2019). ( Foto: AFP / Fayez Nureldine )
Unggul Wirawan / WIR Senin, 23 September 2019 | 19:52 WIB

Riyadh, Beritasatu.com- Seorang pejabat senior Arab Saudi mengatakan Riyadh akan menunggu hasil penyelidikan sebelum menanggapi serangan terhadap fasilitas minyaknya. Hingga kini, Saudi masih menganggap Iran yang bertanggung jawab.

Jika investigasi menunjukkan serangan fasilitas minyak Arab Saudi memang diluncurkan dari wilayah Iran, kerajaan Arab Saudi akan menganggapnya sebagai tindakan perang. Meskipun demikian, Riyadh saat ini sedang mencari resolusi damai.

“Kami menganggap Iran bertanggung jawab karena rudal dan pesawat nirawak yang ditembakkan ke Arab Saudi adalah buatan Iran dan dikirim oleh Iran. Tapi peluncuran serangan dari wilayah Anda, kami letakkan dalam kategori yang berbeda dan itu akan dianggap sebagai tindakan perang,” kata Menteri Negara Luar Negeri Adel al-Jubeir kepada CNN pada Sabtu (21/9) malam.

Kepada wartawan sebelumnya, Jubeir mengatakan bahwa Riyadh sedang menunggu hasil penyelidikan. Saudi telah mengundang penyelidik internasional untuk bergabung, di lokasi serangan 14 September, serangan terbesar terhadap fasilitas minyak di pengekspor minyak utama dunia.

Riyadh telah menolak klaim oleh gerakan Houthi yang didukung Iran-Yaman bahwa mereka melakukan serangan. Washington menyalahkan Iran yang menyangkal keterlibatan apa pun.

“Jika mereka melanjutkan jalan ini, maka mereka mengambil risiko kemungkinan aksi militer. Tapi tidak ada yang menginginkan perang. Semua orang ingin menyelesaikan ini dengan damai dan hasil akhirnya harus menjadi akhir dari kebijakan agresif Iran,” kata Jubeir tentang Teheran.

Arab Saudi telah menyebut serangan terhadap fasilitas Abqaiq dan Khurais sebagai ujian kehendak global untuk menjaga ketertiban internasional. Saudi akan berupaya membentuk satu front persatuan di Majelis Umum PBB di New York, dalam waktu dekat.



Sumber: Suara Pembaruan