Dalam 3 Tahun, Saudi Dua Kali Pecat Menteri Perminyakan

Dalam 3 Tahun, Saudi Dua Kali Pecat Menteri Perminyakan
Foto dokumentasi pada 1 Juli 2019 memperlihatkan Menteri Energi Arab Saudi Khaled al-Falih (kanan) dan Wakil Menteri Perminyakan Pangeran Abdulaziz bin Salman bin Abdulaziz berbicara kepada pers di sela-sela peristiwa ke-176 pertemuan Organisasi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan pertemuan ke-6 negara-negara OPEC dan non-OPEC di Wina, Austria. ( Foto: AFP / JOE KLAMAR )
Unggul Wirawan / WIR Senin, 9 September 2019 | 09:13 WIB

Riyadh, Beritasatu.com- Raja Arab Saudi Salman pada Minggu (8/9) menggantikan menteri energi dengan salah satu putranya. Setidaknya dalam tiga tahun, Saudi telah memecat dua menteri perminyakan. Pergantian ini merupakan perombakan besar ketika negara terbesar OPEC itu terpukul dari harga minyak yang rendah.

Penunjukan Pangeran Abdulaziz bin Salman adalah saudara tiri dari penguasa de facto Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Penunjukan ini menandai pertama kali seorang anggota keluarga kerajaan ditugaskan untuk menangani kementerian energi yang sangat penting.

Pangeran Abdulaziz menggantikan pejabat veteran Khalid al-Falih karena pengekspor minyak mentah utama dunia mempercepat persiapan untuk daftar stok raksasa minyak milik negara, Aramco, yang diperkirakan akan menjadi yang terbesar di dunia.

“Khalid al-Falih telah dipindahkan dari posisinya. Yang Mulia Pangeran Abdulaziz bin Salman telah ditunjuk sebagai menteri energi,” kata pejabat resmi Saudi Press Agency, mengutip dekrit kerajaan.

Sejak penunjukkan sebagai menteri perminyakan pada tahun 2016, Falih telah menjadi wajah kebijakan energi Saudi. Tetapi teknokrat veteran itu memperlihatkan portofolio yang menurun dalam beberapa pekan terakhir.

Pemecatan Falih terjadi hanya beberapa hari setelah dia dipindahkan sebagai ketua Aramco dan digantikan oleh Yasir al-Rumayyan, gubernur Dana Investasi Publik kerajaan yang luas.

Kekuatan Falih berkurang bulan lalu ketika pengekspor minyak utama dunia mengumumkan pembentukan kementerian industri dan sumber daya mineral baru. Dia memisahkan kementerian industri dari kementerian energinya.

Secara luas, ada spekulasi bahwa para pejabat tinggi tidak puas dengan Falih karena harga minyak merosot menjelang penjualan saham perdana (IPO) Aramco.



Sumber: Suara Pembaruan