Restrukturisasi Polis Jiwasraya

Investor Daily Rabu, 8 Juli 2020 | 07:50 WIB

Skema penyehatan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) makin terang. Dalam rapat kerja bersama Panja Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (7/7), Kementerian BUMN dan manajemen Jiwasraya mengajukan opsi restrukturisasi polis nasabah sebagai langkah penyehatan keuangan jangka panjang. Restrukturisasi untuk mencegah penggelembungan utang klaim saving plan yang terus membesar.

Rencananya, Kementerian BUMN akan membentuk perusahaan asuransi jiwa baru bernama Nusantara Life di bawah naungan induk holding asuransi PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI). Seiring dengan rencana tersebut, program restrukturisasi mulai ditawarkan kepada para pemegang polis pada Agustus 2020 hingga Desember 2021.

Setelah itu, polis-polis yang disetujui untuk direstrukturisasi akan dipindahkan ke Nusantara Life, bersamaan saat perusahaan baru itu didirikan pada awal 2022. Peluncuran perusahaan baru itu dilakukan saat penyertaan modal negara (PMN) yang dibutuhkan bisa cair untuk memastikan liabilitas dan aset Nusantara Life dapat imbang dan terjaga baik.

Masuknya polis ke entitas baru itu akan memudahkan pemerintah untuk melakukan pemenuhan kewajiban kepada pemegang polis. Pemegang polis yang tidak memilih untuk mengikuti restrukturisasi, mereka akan mendapatkan risiko nilai pengembalian dana yang sangat rendah karena kondisi keuangan Jiwasraya sangat tertekan.

Nantinya, Nusantara Life ini akan menjadi perusahaan yang akan membawa polis-polis Jiwasraya yang telah direstrukturisasi. Opsi restrukturisasi ditawarkan untuk polis tradisional maupun polis JS Saving Plan. Setelah skema restrukturisasi ini disetujui, semua pemegang polis, baik yang kumpulan maupun yang ritel, apabila ingin masuk ke skema penyelamatan polis itu harus ada penyesuaian janji di masa depan.

Penyesuaian janji diperlukan mengingat saat ini polis JS Saving Plan menawarkan imbal hasil berkisar 12-15%. Imbal hasil sebesar itu membuat liabilitas Jiwasraya kian membengkak karena tidak ada aset yang bisa digunakan untuk membayar klaim sehingga utang klaim kian menumpuk. Melalui proses restrukturisasi, manajemen Jiwasraya akan melakukan penyesuaian imbal hasil polis ke besaran yang masih dinilai wajar. Besaran bunga setelah polis direstrukturisasi berkisar 6-7%.

Hingga Mei 2020, total gagal bayar klaim (utang klaim) Jiwasraya mencapai Rp 18 triliun. Perinciannya, utang klaim pada produk JS Saving Plan mencapai Rp 16,5 triliun terhadap 17.452 peserta dan polis tradisional senilai Rp 1,5 triliun bagi 35.145 nasabah. Utang klaim polis tradisional itu terdiri atas Rp 600 miliar bagi 22.735 nasabah korporasi, utang klaim ekspirasi atau meninggal senilai Rp 200 miliar, dan Rp 700 miliar klaim tebus bagi 12.410 nasabah tradisional. Gagal bayar klaim itu disebabkan janji manfaat nilai bunga polis yang terlalu tinggi, sehingga liabilitas terus meningkat. Selain itu, juga karena aset yang dimiliki terus tergerus karena tata kelola penempatan investasi yang kurang baik.

Opsi restrukturisasi polis akan menguntungkan kedua pihak. Bagi nasabah, meski nantinya manfaat bunga dari setiap polis menyusut, nilai itu lebih besar dan lebih pasti dibanding harus mempertahankan polis lama dengan janji manfaat bunga polis yang lebih tinggi. Kalau pemegang polis tidak pindah ke Nusantara Life, mereka akan mendapatkan nilai yang sangat rendah dibandingkan dengan polis yang dijanjikan di masa depan.

Di sisi lain, penundaan restrukturisasi polis akan menyebabkan kewajiban atau liabilitas Jiwasraya semakin membesar, utamanya disebabkan menumpuknya manfaat nilai polis dari para nasabah. Kondisi aset yang berkualitas buruk dan pengelolaan produk yang tidak optimal, membuat Jiwasraya memiliki negatif ekuitas Rp 35,9 triliun. Aset perseroan pelat merah itu hanya Rp 17 triliun. Karena itu, manajemen Jiwasraya dan Kementerian BUMN perlu meramu opsi jangka panjang berupa restrukturisasi polis agar kondisi negatif ekuitas tidak terus membesar.

Selain restrukturisasi polis, opsi penyehatan Jiwasraya juga dilakukan melalui penjualan 70% saham anak usaha PT Jiwasraya Putra yang telah disepakati senilai Rp 2,6 triliun kepada PT Asuransi Jiwa Taspen (Taspen Life). Sedangkan sisa 30% saham dimiliki oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN. Saat ini, penjualan anak usaha perseroan masih dalam proses penandatanganan perjanjian jual beli saham (conditional sales purchase agreement/CSPA).

Pembentukan Nusantara Life akan menciptakan optimisme baru bagi nasabah Jiwasraya bahwa dana yang mereka telah investasikan bakal cepat kembali. Namun, Kementerian BUMN tidak bisa bekerja sendirian dalam menangani kasus besar ini. Penanganannya membutuhkan kerja sama lintas kementerian dan lembaga. Yang saat ini ditunggu adalah komitmen dari Kementerian Keuangan dalam pemberian PMN untuk mempercepat pembentukan Nusantara Life.