Menyelamatkan Anak Indonesia
INDEX

BISNIS-27 426.538 (11.39)   |   COMPOSITE 4842.76 (103.04)   |   DBX 923.5 (7.76)   |   I-GRADE 127.867 (3.45)   |   IDX30 404.318 (11.17)   |   IDX80 105.647 (2.92)   |   IDXBUMN20 263.312 (10.37)   |   IDXG30 113.239 (2.36)   |   IDXHIDIV20 361.834 (9.72)   |   IDXQ30 118.461 (3.18)   |   IDXSMC-COM 206.934 (3.31)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (5.97)   |   IDXV30 99.778 (3.02)   |   INFOBANK15 760.318 (27.06)   |   Investor33 353.585 (10.19)   |   ISSI 142.238 (2.46)   |   JII 514.346 (9.5)   |   JII70 174.038 (3.75)   |   KOMPAS100 945.162 (25.96)   |   LQ45 740.002 (20.32)   |   MBX 1338.07 (31.05)   |   MNC36 264.409 (7.18)   |   PEFINDO25 251.635 (8.18)   |   SMInfra18 228.656 (4.87)   |   SRI-KEHATI 297.818 (8.93)   |  

Menyelamatkan Anak Indonesia

Tajuk: Suara Pembaruan

Jumat, 24 Juli 2020 | 08:00 WIB

Peringatan Hari Anak Nasional tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 yang membuat hampir 100.000 orang di Indonesia terinfeksi, meniadakan seremoni peringatan Hari Anak yang pada tahun-tahun sebelumnya mempertemukan anak-anak dengan presiden dan para menteri terkait.

Tahun ini, anak-anak Indonesia, dan juga di semua negara, tengah dihantui ancaman terpapar virus corona yang mematikan. Akibatnya, perlindungan terhadap anak-anak menjadi fokus utama pemerintah. Tema yang dipilih pada peringatan Hari Anak, “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” terasa sangat relevan dengan situasi yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Anak adalah masa depan, sehingga penting untuk melindungi anak-anak dari ancaman Covid-19.

Anak-anak, sejak empat bulan lalu dan entah sampai kapan, kehilangan dunianya. Mereka tak bisa bermain bebas dengan teman-teman di sekolah dan lingkungan rumah. Mereka tidak bisa belajar di ruang kelas karena sekolah ditutup. Mereka tidak bisa beraktivitas di luar untuk memperluas cakrawala pengetahuan dan keterampilannya.

Sejak empat bulan dan entah sampai kapan, anak-anak harus bertahan di rumah. Pandemi telah memaksa mereka belajar mandiri sejak dini, menerima materi pelajaran dari guru melalui layar komputer atau gawai. Tak sedikit yang mampu menyesuaikan kebiasaan belajar yang baru tersebut. Namun, lebih banyak yang tidak beruntung, lantaran memang belum mampu belajar mandiri. Ironisnya, banyak anak yang tidak bisa belajar karena tidak memiliki fasilitas belajar secara daring, entah karena tidak memiliki laptop, telepon pintar, atau karena tak terjangkau jaringan internet.

Pandemi jangan sampai merenggut harapan dan cita-cita tercabut dari benak anak-anak Indonesia. Pemerintah harus hadir menyelamatkan generasi penerus bangsa ini agar tetap menemukan dunianya dengan cara yang berbeda. Pemerintah harus menghadirkan pendidikan secara merata agar asa para belia kelak menjadi nyata.

Pun orangtua dituntut untuk lebih memperhatikan anak-anak mereka. Pandemi membuat anak-anak lebih banyak di rumah. Inilah kesempatan untuk hadir bagi buah hati mereka, menjalankan peran ganda sebagai orangtua biologis dan pendidik. Situasi yang mungkin terasa berat ini, justru selayaknya disyukuri. Sebab, orangtua dan anak memiliki waktu bertemu semakin banyak. Inilah anugerah yang mungkin tidak akan didapat dalam situasi sebelum pandemi.

Pekerjaan rumah semua pihak tidak semata menyelamatkan anak-anak di masa pandemi. Sisi gelap anak-anak di negeri ini masih kita temui. Di antaranya yang paling aktual peristiwa seorang bule yang melakukan kekerasan seksual terhadap sedikitnya 305 anak di Indonesia. Kisah ini seolah mengulang kisah yang sama sebelumnya. Ini pelajaran dan cambuk bagi pemerintah dan semua pihak, terutama orangtua, untuk bisa hadir melindungi anak-anak dari predator seksual yang tidak berperikemanusiaan.

Kita juga masih menjumpai anak-anak yang terpaksa harus membanting tulang membantu orangtua mencari nafkah, atau bahkan menjadi tulang panggung bagi keluarganya. Di sini kita juga menuntut negara dan semua yang mampu untuk hadir menyelamatkan mereka agar tetap bisa mengecap dunia indahnya, dan menimba ilmu bagi masa depannya.

Di sisi lain, di negeri ini tidak sedikit anak-anak yang menderita dan terancam stunting (tumbuh kerdil) karena asupan gizi rendah sejak dari dalam kandungan dan hingga menginjak usia dua tahun. Intervensi perbaikan gizi harus dilakukan negara terhadap hidup hamil dan bayi yang baru lahir, agar anak-anak kelak tumbuh sehat dan cerdas.

Peringatan Hari Anak Nasional, kiranya menjadi pengingat bahwa masih banyak hal yang harus dilakukan pemerintah dan semua elemen bangsa untuk lebih mempedulikan kepentingan anak-anak, terutama untuk menyiapkan masa depan gemilang bagi generasi mendatang. Negara harus menjamin semua anak Indonesia tumbuh sehat dan berkembang sesuai dunianya. Negara harus menyediakan pendidikan untuk seluruh anak di negeri ini secara merata. Pun negara harus hadir melindungi anak-anak dari bahaya dalam bentuk apapun.


BAGIKAN


BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS