Menunggu Vaksin Setengah Tahun Lagi
INDEX

BISNIS-27 434.406 (-0.23)   |   COMPOSITE 4934.09 (-16.14)   |   DBX 924.804 (3.39)   |   I-GRADE 130.838 (-0.55)   |   IDX30 413.425 (-1.26)   |   IDX80 108.094 (-0.37)   |   IDXBUMN20 272.657 (-3.39)   |   IDXG30 115.379 (0.39)   |   IDXHIDIV20 370.721 (-2.24)   |   IDXQ30 120.916 (-0.16)   |   IDXSMC-COM 211.116 (-0.82)   |   IDXSMC-LIQ 236.814 (-0.83)   |   IDXV30 102.468 (-0.58)   |   INFOBANK15 776.883 (-3.28)   |   Investor33 360.093 (-0.17)   |   ISSI 144.765 (-0.24)   |   JII 523.909 (0.36)   |   JII70 177.568 (-0.12)   |   KOMPAS100 966.07 (-3.19)   |   LQ45 756.376 (-2.2)   |   MBX 1366.8 (-5.86)   |   MNC36 270.277 (-1.09)   |   PEFINDO25 258.891 (-1.93)   |   SMInfra18 233.321 (-1.32)   |   SRI-KEHATI 303.606 (-0.74)   |  

Menunggu Vaksin Setengah Tahun Lagi

Tajuk: Suara Pembaruan

Rabu, 22 Juli 2020 | 08:00 WIB

Indonesia bakal memproduksi vaksin Covid-19 secara massal. Berita menggembirakan ini cukup menghibur di tengah kabar miring tentang rendahnya disiplin masyarakat mematuhi protokol kesehatan dan laju penambahan kasus Covid-19 yang cukup tinggi di Indonesia.

Harapan kita, vaksin akan menghapus pandemi. Kita bisa kembali hidup normal. Jadi, bukan lagi new normal atau normal dengan kebiasaan baru, melainkan benar-benar seperti sebelum pandemi karena kita sudah kebal.

Kembali normal tidak hanya berarti tak perlu repot memakai masker dan menjaga jarak. Lebih substantif dari itu, kehidupan normal bakal membuka semua pembatasan sehingga perekonomian dan pembangunan kembali normal. Seandainya terjadi resesi kita lebih cepat untuk bangkit kembali.

Pemerintah secara resmi telah menyatakan bahwa BUMN farmasi PT Bio Farma siap memproduksi vaksin Covid-19. Pada tahap pertama nanti BUMN yang bertanggung jawab terhadap produksi dan distribusi vaksin dari Tiongkok ini mengklaim mampu memproduksi 40 juta dosis per tahun. Tahap selanjutnya, bisa memproduksi 100 juta vaksin per tahun. Bahkan ada rencana untuk meningkatkan jumlah produksi mencapai 250 juta vaksin per tahun.

Namun demikian, vaksin yang berasal dari Tiongkok ini baru bisa diproduksi untuk umum pada Januari 2021. Saat ini baru pada tahap uji klinis ke-3. Uji klinis ini membutuhkan waktu untuk mendapatkan kesimpulan bahwa vaksin baik dan aman atau sebaliknya. Baik artinya vaksin tersebut benar-benar berdaya guna memberi imunitas terhadap serangan virus corona, dan aman artinya tidak ada efek samping membahayakan.

Kabar gembira soal produksi vaksin Covid ini masih dengan syarat, yakni uji klinis berjalan baik meski Kepala BPOM Penny Lukito mengklaim bahwa dengan uji klinis tahap ketiga ini Pemerintah Indonesia sudah berhasil menemukan dan memproduksi vaksin corona.

Pada tahapan uji klinis dan nanti menunggu produksi massal vaksin, kita tidak boleh lengah. Pertama, upaya menekan penularan Covid-19 tidak boleh kendur. Meskipun hampir semua kalangan optimistis soal vaksin, kita tidak boleh lengah menyepelekan kurva pandemi Indonesia yang terus menaik. Pun meski sampai saat ini relatif Indonesia tidak sampai kewalahan dalam mempersiapkan fasilitas kesehatan.

Kita berharap setidaknya sampai vaksin nanti diproduksi massal, Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang baru dibentuk harus dapat mengerem laju pandemi selain mendorong pemulihan ekonomi.

Kedua, Bio Farma maupun pihak-pihak di pemerintah yang terkait dengan izin edar vaksin tidak boleh lengah dalam memutuskan keampuhan vaksin. Keputusan akan tepat bila bukan didasarkan pada pertimbangan politis dan ekonomi, melainkan atas ukuran ilmiah.

Kita tahu bahwa pembuatan vaksin bukan pekerjaan mudah dan murah. Tak mengherankan bila temuan vaksin akhirnya diperhitungkan bukan saja dari sisi kesehatan melainkan juga dari sisi kepentingan dagang atau komersial. Produsen di dunia yang mengembangkan penelitian vaksin Covid-19 pun seolah berlomba. Karena itu kita sebagai mitra harus pandai memilih vaksin mana yang cocok untuk strain virus dalam negeri.

Ketiga, perlu dipersiapkan kapasitas produksi yang mencukupi. Untuk menghentikan pandemi setidaknya 70% penduduk mendapatkan vaksin dua kali. Artinya dibutuhkan sekitar 378 juta vaksin, sementara tahun pertama kita baru mampu memproduksi 40 juta.

Keempat, produk dalam negeri jangan sampai diabaikan. Bukan tidak mungkin temuan anak negeri justru sesuai dengan strain virus dalam negeri. Kita tahu Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menargetkan vaksin Covid-19 yang diberi nama Merah Putih dapat diedarkan secara massal akhir 2021.

Kelima, pemerintah perlu memberikan informasi setransparan mungkin soal vaksin kepada masyarakat. Selain sebagai sarana edukasi, informasi valid akan menangkal berbagai hoax maupun narasi publik yang kontraproduktif.


BAGIKAN


BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS