Jangan Anggap Enteng Covid-19
INDEX

BISNIS-27 426.538 (11.39)   |   COMPOSITE 4842.76 (103.04)   |   DBX 923.5 (7.76)   |   I-GRADE 127.867 (3.45)   |   IDX30 404.318 (11.17)   |   IDX80 105.647 (2.92)   |   IDXBUMN20 263.312 (10.37)   |   IDXG30 113.239 (2.36)   |   IDXHIDIV20 361.834 (9.72)   |   IDXQ30 118.461 (3.18)   |   IDXSMC-COM 206.934 (3.31)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (5.97)   |   IDXV30 99.778 (3.02)   |   INFOBANK15 760.318 (27.06)   |   Investor33 353.585 (10.19)   |   ISSI 142.238 (2.46)   |   JII 514.346 (9.5)   |   JII70 174.038 (3.75)   |   KOMPAS100 945.162 (25.96)   |   LQ45 740.002 (20.32)   |   MBX 1338.07 (31.05)   |   MNC36 264.409 (7.18)   |   PEFINDO25 251.635 (8.18)   |   SMInfra18 228.656 (4.87)   |   SRI-KEHATI 297.818 (8.93)   |  

Jangan Anggap Enteng Covid-19

Tajuk: Suara Pembaruan

Jumat, 17 Juli 2020 | 08:00 WIB

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memutuskan untuk kembali memperpanjang pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi selama 14 hari, terhitung mulai 17 Juli hingga 30 Juli mendatang. Pertimbangannya, penambahan jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 dalam dua pekan perpanjangan PSBB transisi, justru terus meningkat.

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta telah memperpanjang PSBB transisi sejak 3 Juli hingga 16 Juli 2020. Perpanjangan dua pekan lalu lantaran wabah Covid-19 masih ada di tengah-tengah masyarakat.

Kita mengapresiasi keputusan Pemprov tersebut yang memprioritaskan kesehatan dan keselamatan warga Jakarta. Apalagi, sejumlah indikator penyebaran virus corona menunjukkan tren memburuk. Dua pekan silam, rasio kasus positif terhadap jumlah orang yang menjalani tes (positivity rate) di Jakarta sempat di bawah 5%, dan merupakan ambang batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk dapat melonggarkan pembatasan di suatu wilayah. Kini positivity rate dalam seminggu terakhir naik menjadi 10,5%, atau melonjak dua kali lipat.

Lonjakan kasus di Jakarta tersebut disebabkan masifnya penelusuran (tracing) yang dilakukan Pemprov. Rata-rata, di Jakarta mampu melakukan tes swab polymerase chain reaction (PCR) sebanyak 28.000 per minggu, yang merupakan tertinggi dibanding wilayah lain di Tanah Air. Dari tes yang sangat masif tersebut, ditemukan fakta bahwa 66% dari kasus positif berasal dari orang tanpa gejala (OTG). Dengan demikian, sungguh mengerikan apabila tidak dilakukan tes swab secara masif, para OTG itu bakal bekeliaran di tengah-tengah masyarakat dan menimbulkan potensi besar penyebaran.

Sama seperti saat memutuskan perpanjangan PSBB transisi pada awal Juli lalu, Pemprov melihat bahwa wabah Covid-19 masih ada di tengah-tengah masyarakat berkat swab test yang secara masif dilakukan Pemprov DKI hingga ke perkampungan penduduk. Saat itu, menurut penuturan Gubernur Anies, penambahan kasus baru tidak lagi berasal dari pasien yang ada di rumah sakit, tetapi di kampung-kampung melalui tes yang dilakukan tenaga medis di tingkat puskesmas.

Langkah ekstra hati-hati ini yang menjadi pilihan Pemprov DKI Jakarta. Hal ini juga sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo, supaya pemerintah daerah (pemda) benar-benar mempertimbangkan data lapangan sebelum memutuskan pelonggaran menuju new normal. Setiap keputusan harus berbasis data faktual yang dianalisis secara scientific.

Keputusan untuk memperpanjang PSBB transisi merupakan langkah bijaksana yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta, ketimbang kembali ke masa PSBB seperti yang diterapkan sepanjang April-Mei silam. Sebab, dengan PSBB transisi, aktivitas ekonomi bisa tetap berjalan secara terbatas. Berbeda jika PSBB kembali diterapkan, nyaris seluruh kegiatan ekonomi dilarang untuk dilakukan.

Dengan demikian, di masa transisi ini kegiatan ekonomi produktif bisa bergerak. Ada harapan untuk menjaga momentum agar ekonomi tidak lesu. Sebab, jika dibiarkan tidak ada kegiatan ekonomi dalam jangka waktu lama, akan sulit untuk membangkitkan kembali sektor-sektor usaha yang telanjur mati.

Dalam dua pekan ke depan, yang perlu dilakukan Pemprov DKI Jakarta adalah menegakkan terlaksananya protokol kesehatan secara lebih tegas. Jika sebelumnya masih dijumpai warga beraktivitas tanpa masker atau warga yang berkerumun tanpa menjaga jarak fisik, hal ini tidak boleh terjadi lagi. Tindakan tegas harus ditempuh terutama kepada warga yang masih menganggap enteng ancaman Covid-19.

Di sisi lain, warga juga harus disiplin menjalankan protokol kesehatan. Perlu kesadaran tiap-tiap individu untuk tidak saja berlaku disiplin bagi diri sendiri, tetapi juga harus ada kepedulian untuk mengingatkan atau menegur orang lain yang mengabaikan protokol kesehatan. Kepedulian itu harus ditumbuhkan mulai dari komunitas terdekat seperti keluarga, permukiman, dan tempat kerja, hingga di tempat-tempat umum.

Hanya dengan pendekatan yang lebih tegas dari aparat dan kesadaran tinggi dari warga akan pentingnya protokol kesehatan, penyebaran Covid-19 bisa segera diputus. Dengan demikian kita dapat segera beraktivitas secara penuh dengan tata kehidupan yang baru.


BAGIKAN


BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS