Sejahtera Bersama Koperasi
INDEX

BISNIS-27 428.182 (-2.86)   |   COMPOSITE 4879.1 (-9.06)   |   DBX 933.193 (7.61)   |   I-GRADE 128.434 (-0.58)   |   IDX30 404.523 (-3.21)   |   IDX80 106.174 (-0.61)   |   IDXBUMN20 268.239 (-2.84)   |   IDXG30 113.341 (-0.34)   |   IDXHIDIV20 361.328 (-3.85)   |   IDXQ30 118.527 (-0.83)   |   IDXSMC-COM 209.874 (0.28)   |   IDXSMC-LIQ 234.117 (0.48)   |   IDXV30 100.803 (-0.57)   |   INFOBANK15 767.134 (-9.65)   |   Investor33 355.071 (-2.81)   |   ISSI 143.565 (0.25)   |   JII 517.566 (1.34)   |   JII70 175.828 (0.4)   |   KOMPAS100 953.068 (-3.09)   |   LQ45 742.375 (-5.22)   |   MBX 1347.52 (-4.53)   |   MNC36 265.633 (-1.2)   |   PEFINDO25 258.006 (2.03)   |   SMInfra18 230.699 (-0.73)   |   SRI-KEHATI 299.246 (-2.35)   |  

Sejahtera Bersama Koperasi

Tajuk: Suara Pembaruan

Senin, 13 Juli 2020 | 08:00 WIB

Gerakan koperasi di Indonesia, pada Minggu (12/7/2020) genap berusia 73 tahun. Semangat utama yang mendasari pendirian koperasi oleh Wapres M Hatta pada 12 Juli 1947 adalah usaha bersama atas dasar kekeluargaan, demi terwujudnya kesejahteraan bersama.

Itulah alasan mengapa bentuk usaha koperasi dianggap paling sesuai dengan watak bangsa Indonesia, sekaligus sebagai model yang paling pas dengan amanat Pasal 33 UUD 1945. Selanjutnya koperasi dianggap sebagai sokoguru perekonomian nasional, karena orientasinya yang mengakar ke bawah.

Koperasi saat ini berkembang pesat. Mengutip data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemkop dan UKM), per 31 Desember 2019 jumlah koperasi aktif di Indonesia mencapai 155.000 unit, terdiri dari 123.000 koperasi aktif dan 35.000 koperasi yang berbadan aktif namun nonaktif.

Dengan total anggota tercatat 22,4 juta orang, gerakan koperasi mampu menghimpun modal sendiri hingga mencapai lebih dari Rp 70 triliun, dengan total aset mencapai Rp 152 triliun. Sepanjang 2019, total sisa hasil usaha (SHU) yang dibagikan seluruh koperasi sebesar Rp 6,2 triliun.

Semua itu merupakan pencapaian yang sangat signifikan bagi wadah kegiatan ekonomi yang berdasarkan prinsip gotong royong anggota, bukan sekadar mengandalkan kekuatan kapital. Fakta tersebut menunjukkan betapa gerakan koperasi memberi kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional, khususnya bagi anggota.

Di daerah, kita bisa menjumpai betapa koperasi memang sangat bisa diandalkan untuk menopang kegiatan ekonomi anggotanya. Melalui koperasi simpan pinjam, misalnya, petani dan nelayan banyak yang mengenyam manfaat untuk mengembangkan usahanya. Hal ini tak lepas dari masih sulitnya petani dan nelayan mengakses dana ke perbankan. Pada akhirnya koperasi menjadi andalan.

Hal itu disebabkan koperasi bersifat lokal, berbasis komunitas, sehingga mekanisme yang diterapkan pun benar-benar mewakili watak dan karakter anggotanya. Koperasi didirikan dan dikembangkan dengan semangat solidaritas dan hubungan antaranggota yang harmonis.

Ke depan, koperasi harus terus didorong untuk menjelma menjadi badan usaha yang modern dan profesional. Hal ini bukan berarti mengubah jati diri koperasi, tetapi bagaimana koperasi bisa dikelola secara lebih baik (good governance). Upaya ini perlu pendampingan dari Kemkop dan UKM untuk melaksanakan kewajiban konstitusional pemerintah mewujudkan keberpihakan pada koperasi sebagai wadah ekonomi rakyat.

Namun, tak bisa dimungkiri, koperasi juga menghadapi tantangan yang sulit. Orientasi ekonomi bergeser pada keuntungan sebesar-besarnya bagi kaum pemodal. Roda perekonomian dianggap hanya bisa berputar dengan kekuatan kapital, sementara prinsip usaha bersama menjadi luntur.

Pada akhirnya kapitalisme dilihat sebagai paham yang mampu mengembangkan ekonomi secara instan, dengan hasil optimal. Hal ini membuat kapitalisme mendominasi pola pikir dan perilaku insan ekonomi di Tanah Air, dan seakan-akan yang menjadi sokoguru perekonomian nasional. Gerakan koperasi pun tergilas deru kapitalisme.

Cita-cita agar koperasi menjadi sokoguru, sekaligus watak perekonomian nasional, diadang derasnya arus kapitalisme. Hal itulah yang antara lain memunculkan kasus-kasus penipuan investasi fiktif berkedok koperasi. Dengan iming-iming mampu memberi keuntungan besar, koperasi yang didirikan oleh individu-individu tamak ini mampu mengakumulasi dana hingga triliunan rupiah dari iuran anggota. Alih-alih untuk menyejahterakan anggotanya, iuran triliunan rupiah itu dilarikan sehingga menyisakan kerugian.

Tantangan itulah yang mesti disikapi gerakan koperasi nasional. Gerakan koperasi harus terus direvitalisasi melalui perbaikan manajemen atau tata kelola. Sejalan dengan itu, pemerintah perlu menunjukkan keberpihakan yang nyata kepada gerakan koperasi, sebagai manifestasi amanat Konstitusi. Dengan demikian, koperasi nasional mampu berjalan seiring dengan bentuk usaha-usaha lain di Tanah Air, dan bersama-sama menopang perekonomian nasional.


BAGIKAN


BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS