Jaga Kecukupan Pangan
INDEX

BISNIS-27 434.406 (-0.23)   |   COMPOSITE 4934.09 (-16.14)   |   DBX 924.804 (3.39)   |   I-GRADE 130.838 (-0.55)   |   IDX30 413.425 (-1.26)   |   IDX80 108.094 (-0.37)   |   IDXBUMN20 272.657 (-3.39)   |   IDXG30 115.379 (0.39)   |   IDXHIDIV20 370.721 (-2.24)   |   IDXQ30 120.916 (-0.16)   |   IDXSMC-COM 211.116 (-0.82)   |   IDXSMC-LIQ 236.814 (-0.83)   |   IDXV30 102.468 (-0.58)   |   INFOBANK15 776.883 (-3.28)   |   Investor33 360.093 (-0.17)   |   ISSI 144.765 (-0.24)   |   JII 523.909 (0.36)   |   JII70 177.568 (-0.12)   |   KOMPAS100 966.07 (-3.19)   |   LQ45 756.376 (-2.2)   |   MBX 1366.8 (-5.86)   |   MNC36 270.277 (-1.09)   |   PEFINDO25 258.891 (-1.93)   |   SMInfra18 233.321 (-1.32)   |   SRI-KEHATI 303.606 (-0.74)   |  

Jaga Kecukupan Pangan

Tajuk: Suara Pembaruan

Rabu, 29 April 2020 | 08:00 WIB

Di tengah pandemi Covid-19, ternyata kita juga menghadapi masalah pangan. Hal ini secara terbuka disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam rapat terbatas melalui video conference mengenai lanjutan pembahasan antisipasi kebutuhan bahan pokok yang digelar Selasa (28/4).

Berdasarkan laporan yang diterimanya, Jokowi menyebutkkan stok beras mengalami defisit di tujuh provinsi, stok jagung defisit di 11 provinsi, kemudian stok cabai besar defisit di 23 provinsi, stok cabai rawit defisit di 19 provinsi, stok bawang merah diperkirakan juga defisit di 1 provinsi, dan stok telur ayam defisit di 22 provinsi.

Selain itu, stok gula pasir diperkirakan defisit di 30 provinsi dan stok bawang putih diperkirakan defisit di 31 provinsi. Hanya stok minyak goreng yang diperkirakan cukup untuk 34 provinsi.

Pernyataan Jokowi tentu mengagetkan karena dalam beberapa minggu terakhir kita hanya mendengar lonjakan harga gula, dan sebelumnya sempat terjadi kelangkaan bawang putih. Kita tak pernah mendengar ada masalah dengan beras, jagung, atau telur ayam. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang memastikan stok 11 komoditas pangan pokok dalam kondisi aman.

Lalu, mengapa Jokowi mengungkapkan adanya defisit stok bahan pangan di sejumlah provinsi? Kita berpandangan, Jokowi ingin agar bawahannya memastikan bahwa negeri ini tak akan kekurangan bahan pangan, terutama di tengah pandemi, sekaligus tak suka dengan laporan “asal bapak senang” (ABS).

Untuk itu, setidaknya ada tiga hal yang patut kita soroti terkait pernyataan Presiden Jokowi tentang defisit stok bahan pangan di beberapa provinsi. Pertama, kesesuaian data yang dimiliki Kementerian Pertanian dengan kondisi riil di lapangan. Sebagai pejabat negara di tingkat pusat, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo tentu saja tak bisa bekerja sendiri. Pernyataannya tentang stok 11 komoditas pangan pokok dalam kondisi aman disampaikan berdasarkan laporan yang diterima dari berbagai daerah.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan stok beras sampai Mei 2020 diperkirakan surplus 7,78 juta ton, jagung surplus 4,33 juta ton, bawang merah surplus 240.390 ton. Delapan komoditas lainnya, yakni bawang putih, cabai merah besar, cabai rawit, daging sapi, daging kerbau, telur ayam, gula pasir, dan minyak goreng, juga diperkirakan surplus.

Komoditas, seperti bawang putih, gula dan daging sapi/kerbau diperhitungkan tersedia dalam jumlah cukup sampai Mei 2020, walaupun sebagian masih diimpor. Kementerian Pertanian sesuai kewenangannya juga telah mempermudah proses impor melalui percepatan penerbitan rekomendasi impor produk hortikultura (RIPH). Salah satunya untuk mengimpor bawang putih.

Kementerian Pertanian juga memfasilitasi penyediaan cold storage untuk penyimpanan ayam potong oleh mitra yang membeli ayam hidup dari peternak kecil atau peternak mandiri, sesuai harga acuan untuk menyelamatkan harga ayam yang rendah di tingkat peternak. Selain itu, mendorong kenaikan harga jual gabah petani guna menaikkan kembali nilai tukar petani saat panen raya, serta membangun buffer stock 11 pangan utama di setiap provinsi.

Mengingat ada perbedaaan data stok pangan di beberapa provinsi, sudah sepatutnya menteri pertanian langsung turun tangan untuk mengatasinya. Menteri pertanian bersama jajaran eselon satu perlu memastikan secara langsung stok pangan di semua provinsi tersedia dalam jumlah yang cukup, sehingga seluruh rakyat Indonesia tidak akan kekurangan makanan.

Kedua, memastikan produksi bahan pangan tak terganggu. Penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan imbauan untuk menjaga jarak (physical distancing) tentu saja memengaruhi pola kerja petani dan peternak. Oleh karena itu, kita mendukung instruksi Presiden Jokowi agar produksi pangan tetap berjalan normal, perlu dipastikan para petani tetap berproduksi dengan tentu saja menerapkan protokol kesehatan yang baik. Selain itu, juga memastikan program stimulus ekonomi betul-betul menjangkau mereka.

Ketiga, memastikan kelancaran distribusi bahan pangan. Meski PSBB diberlakukan di sejumlah wilayah, kendaraan yang mengangkut bahan pangan tetap boleh beroperasi. Aparat Kepolisian hendaknya memastikan tak ada hambatan transportasi bahan pangan agar bisa sampai di tujuan tepat waktu. Selain itu, aparat keamanan juga perlu memastikan tidak ada spekulan yang menimbun bahan pangan agar tidak terjadi gejolak harga, terutama selama puasa dan Lebaran.


BAGIKAN


BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS