Seniman Kontemporer Unjuk Gigi di Art Jakarta 2019

Seniman Kontemporer Unjuk Gigi di Art Jakarta 2019
Art Jakarta 2019 ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / IDS Sabtu, 31 Agustus 2019 | 12:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pameran seni rupa Art Jakarta kembali diselenggarakan pada Jumat (30/8/2019) hingga Minggu (1/9/2019). Salah satu booth yang dihadirkan adalah ART_UNLTD. Booth ini menghadirkan seniman dari berbagai kota yang mwakili beragam medium.

Pengunjung akan melihat beragam jenis seni dengan beragam media. Ketua Penyelenggara ART_UNLTD, Donny Ahmad, menyebut bahwa seniman dihadirkan dari Karawang, Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, Samarinda, Riau, dan Bali.

"Kebanyakan kontemporer. Seni murni tidak karena dari kuratornya ingin mengajak praktisi kreatif yang terlibat di bidang kriya maupun desian grafis. Berkaryanya sesuai dengan kelaziman seni kontemporer. Ada karya 3D, digital, 2D. Berusaha menampilkan keberagaman medium," ungkap Donny di Jakarta, Jumat (30/8/2019).

Hadirnya ART_UNLTD diharapkan mampu membantu para seniman pada penjualan maupun sorotan dari karya yang mereka buat. Terbukti dengan hadirnya ART_UNLTD di tahun lalu, beberapa karya seniman ada yang terjual.

“Penjualan karya ini bukan hanya sekadar memberi peluang untuk seniman berkarya lagi, melainkan juga memberikan kepercayaan diri lebih pada seniman untuk bisa berkembang dan memberikan karya terbaiknya,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Hilmar Farid mengatakan, ajang ini mampu menjadi sebuah motor penggerak industri seni rupa di Indonesia. Tak hanya pasar seni semata, tetapi juga ajang temu kreativitas bagi seniman dan para pencinta seni.

Art fair semacam ini dapat menggerakan kegiatan kesenian secara umum. Terelebih fokus utama ajang ini adalah pemasaran seni. Di Indonesia penting sekali, kalau untuk urusan kreasi seniman Indonesia sangat menonjol. Namun, untuk bisa mengembangkan karyanya dan masuk ke dalam art market itu sulitnya luar biasa. Ini PR kita, dibalik kekayaan seni yang kita miliki, tetapi masih banyak orang yang belanja seninya justru di luar negeri,” ungkapnya.



Sumber: Suara Pembaruan