BPPT Analisis Senyawa Kiral Bersama Perusahaan Kimia Jepang

BPPT Analisis Senyawa Kiral Bersama Perusahaan Kimia Jepang
BPPT mendapat bantuan Daicel Jepang berupa teknologi analisis kiral untuk ketahui cemaran dan efek samping obat, Rabu 2 Oktober 2019. ( Foto: SP/ari supriyanti rikin )
Ari Supriyanti Rikin / EAS Rabu, 2 Oktober 2019 | 14:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mendukung keamanan obat di Indonesia, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mendapat bantuan teknologi untuk mengindentifikasi senyawa kiral dalam obat yang bisa memberikan efek samping bagi tubuh manusia dalam jangka panjang.

Bantuan tersebut berupa alat High Performance Liquid Chromatography (HPLC) beserta kolom dan pelatihan analisis cemaran senyawa kiral dalam obat. Bantuan teknis atau hibah teknologi ini diberikan Daicel Corporation, sebuah perusahaan kimia Jepang yang mengembangkan teknologi analisa senyawa kiral sejak tahun 1979.

Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, melalui bantuan teknologi ini, BPPT sebagai lembaga penelitian pengkajian dan penerapan dipercaya untuk analisis kiral.

"Hal ini menjadi kesempatan bagi BPPT. Saya ingin mengembalikan kejayaan BPPT. Apalagi saat ini bahan baku obat di Indonesia 98% masih impor," katanya di sela-sela penyerahan peralatan teknis analisis kiral di gedung BPPT, di Jakarta, Rabu (2/10/2019).

Kepala Balai Bioteknologi BPPT Agung Eru Wibowo menjelaskan, alat HPLC ini menjalankan metode pemisahan kiral yang punya potensi toksik bagi tubuh.

"Supaya bisa menjamin obat aman, perlu dianalisis ada atau tidak efek sampingnya. Perlu pemisahan yang bisa diidentifikasi dari teknologi ini," ucapnya.

Banyak perusahaan farmasi di Indonesia yang belum mampu membuat senyawa untuk obat, tetapi juga perlu memastikan efek samping dari kandungan obat yang dibuatnya tersebut.

Agung menambahkan, dari bantuan ini BPPT akan mengembangkan metode pengujian dan nantinya disertifikasi Komite Akreditasi Nasional dalam proses pengujiannya. Mitra industri farmasi dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) diharapkan bisa terbantu dengan layanan jasa yang akan diberikan BPPT ini.

Di Indonesia, BPOM belum menerapkan pengawasan terhadap kandungan cemaran kiral. Salah satu faktornya karena analisanya tidak mudah, memiliki sifat kimia dan fisika yang identik dengan senyawa aktifnya.

Sebelumnya, kasus cemaran senyawa kiral mencuat setelah tahun 1950an. Efek samping senyawa ini didapat dari thalidomide atau obat pereda mual yang dikonsumsi ibu hamil. Namun dari obat yang dibuat perusahaan farmasi asal Jerman tersebut membuat bayi yang dilahirkan memiliki organ tubuh tidak sempurna. Setelah itu perusahaan farmasi tersebut ditutup dan tidak boleh lagi memproduksi thalidomide.  Selanjutnya, ada riset mendalam untuk mengetahui penyebabnya, salah satunya yang dilakukan Daicel. 



Sumber: BeritaSatu.com