Rusak Estetika Kota, Tiang Monorel Harus Dibongkar
INDEX

BISNIS-27 503.122 (7.61)   |   COMPOSITE 5724.74 (89.25)   |   DBX 1066.46 (9.81)   |   I-GRADE 166.255 (3.05)   |   IDX30 491.004 (8.8)   |   IDX80 129.735 (2.65)   |   IDXBUMN20 364.991 (9.26)   |   IDXG30 133.352 (2.1)   |   IDXHIDIV20 441.973 (8.53)   |   IDXQ30 143.512 (2.54)   |   IDXSMC-COM 247.38 (3.5)   |   IDXSMC-LIQ 301.054 (8.02)   |   IDXV30 127.096 (4)   |   INFOBANK15 976.214 (12.27)   |   Investor33 422.656 (6.59)   |   ISSI 167.54 (3)   |   JII 607.336 (12.69)   |   JII70 209.626 (4.39)   |   KOMPAS100 1162.4 (23.4)   |   LQ45 904.834 (17.52)   |   MBX 1587.29 (26.24)   |   MNC36 315.598 (5.98)   |   PEFINDO25 317.232 (4.1)   |   SMInfra18 287.626 (7.78)   |   SRI-KEHATI 361.444 (5.7)   |  

Rusak Estetika Kota, Tiang Monorel Harus Dibongkar

Senin, 26 Oktober 2020 | 10:37 WIB
Oleh : Hotman Siregar / RSAT

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Komisi B DPRD DKI Jakarta Gilbert Simanjuntak mengatakan, proyek monorel yang dibangun era gubernur DKI Sutiyoso harus dievalusi. Sebab, tiang-tiang monorel itu merusak estetika kota.

“Saat ini harus dievaluasi apakah masih layak atau tidak, dan juga yang di belakang gedung DPR. Kalau sudak tidak layak lebh baik dibongkar karena citranya tidak baik,” ujar Gilbert Simanjuntak di Jakarta, Senin (26/10/2020).

Politisi PDI Perjuangan itu menjelaskan, perlu evalusi mendalam untuk menuntaskan tiang-tiang monorel tersebut. Rencana awal tiag-tiang monorel yang ada di Jalan Rasuna Said, Jalan Asia-Afrika akan sama sepeti di Bangkok.

“Pihak Pemprov seharusnya bisa mendesak apa kelanjutan tiang mangkrak itu karena menganggu estetika. Tentunya lahan punya DKI, jadi tidak mungkin itu didiamkan seterusnya,” kata Gilbert.

Pengamat Tata Kota Nirwono Joga menuturkan, setelah dilakukan perhitungan tiang-tiang monorel, ternyata lebih untung membangun baru LRT daripada menggunakan tiang monorel tersebut.

Hal itu yang menjadi alasan kenapa akhirnya memilih untuk membangun jalur baru di tegah ruas jalan Rasuna Said, padahal Adhi Karya juga yang membangun tiang monorel tersebut.

“Jadi, lebih kepada hitung-hitungan sebenarnya pada waktu itu. Sehingga Adhi Karya memilih untuk membangun LRT,” katanya.

Kemudian yang menjadi masalah bagaimana tiang-tiang monorel terbengkalai. Menurut Nirwono, melanjutkan proyek monorel tidak menguntungkan.

"Kalau diteruskan kontruksi monorelnya jenis rel dan keretanya berbeda dengan yang digunakan LRT sehingga tiang itu akhirnya tidak digunakan," jelasnya.

Persoalannya sekarang, sambung Nirwono, kalau tiangnya mau dibongkar siapa yang akan melakukannya. Sebab, perhitungan secara ekonomi sebenarnya tidak untung dengan kontruksi lama.

"Kemudian harus bongkar beton dan besi itu kan praktis tak bisa digunakan lagi. betonnya juga tidak bisa digunakan, besinya juga. Itu sudah masuk dalam kategori barang bekas,” katanya.

Apakah PT Jakarta Monorail yang dulu berinisiatif untuk membangun itu mau membongkar atau tidak? “Saya enggak yakin. Adhi Karya juga tidak akan mau karena secara teknis itu merugi sebenarnya. Maka, keputusan akhir ada di Pemprov DKI,” jelasnya.

Secara teknis, kata Nirwono, tiang-tiang itu milik PT Jakarta Monorail. Namun yang membangun adalah Adhi Karya di atas lahan Pemprov DKI. Oleh karena itu, Pemprov DKI tidak mengeluarkan biaya sama sekali untuk pembangunan tiang-tiang monorel tersebut. DKI hanya kebagian tempat dan kemudian biaya pembangunan dibiayai PT Jakarta Monorail.

Terkait dengan pertanggungjawaban, kata Nirwono, maka seharusnya PT Jakarta Monorail dan Adhi Karya yang tanggungjawab. Tiang itu menurutnya secara kontruksi tidak banyak bermanfaat juga.

“Kalau untuk tiang iklan tidak baik juga. Kalau bicara lansekap kota di Jalan Rasuna Said, dan Asia Afrika maka pilihan baik harus dibongkar. Dalam rangka menjaga estetika kota maka tiang-tiang monorel itu harus dibongkar,” kata Nirwono.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Kebakaran Terjadi di Lapangan Parkir Mal Senayan City

Ada empat unit mobil pemadam kebakaran di lokasi.

MEGAPOLITAN | 26 Oktober 2020

Epidemiolog: Hasil PSBB Transisi Kurang Bermakna

Epidemiolog Tri Yunis Miko Wahyono menilai, hasil PSBB transisi yang berlangsung di DKI Jakarta dua minggu lalu terbilang kurang memuaskan.

MEGAPOLITAN | 26 Oktober 2020

Depok Miliki Ratusan Kampung Siaga Covid-19

Pada wilayah PSKS, restoran, kafe, dan rumah makan, tidak boleh melayani pengunjung untuk makan di tempat.

MEGAPOLITAN | 25 Oktober 2020

Pekan Depan, Pemprov DKI Gelar Uji Emisi Gratis

Uji emisi dijadwalkan digelar rutin dua kali dalam sepekan setiap Selasa dan Kamis di Kantor Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.

MEGAPOLITAN | 25 Oktober 2020

Pemprov DKI Sebut Masyarakat Semakin Disiplin Gunakan Masker

Ada warga yang menggunakan masker tidak seuai aturan protokol kesehatan.

MEGAPOLITAN | 25 Oktober 2020

Pengelola Ancol Tegur Pengunjung yang Langgar Prokotol Kesehatan

Satgas Covid rutin mengingatkan pengunjung untuk menggunakan masker.

MEGAPOLITAN | 25 Oktober 2020

Pemkot Depok Siapkan Rumah Isolasi Mandiri

Pasien tanpa gejala dan gejala ringan positif Covid-19 akan mendapatkan pengawasan dari Dinas Kesehatan.

MEGAPOLITAN | 25 Oktober 2020

BMKG Peringatkan Fenomena La Nina, Curah Hujan di Bogor Meningkat

Pemerintah Daerah Bogor harus memperhatikan kondisi pohon-pohon di Kota Bogor, untuk menghindari terjadinya pohon tumbang saat angin kencang.

MEGAPOLITAN | 25 Oktober 2020

Waspada, Bandit Incar Pesepeda di Jalan

Tidak sedikit pesepeda yang menjadi korban bandit jalanan belakangan ini.

MEGAPOLITAN | 25 Oktober 2020

Dinas Damkar Antisipasi Banjir di Depok

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Depok melakukan langkah antisipasi mengatasi banjir di Kota Depok.

MEGAPOLITAN | 25 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS