Hunian Berkonsep TOD Manfaatkan Jaringan Komuter

Hunian Berkonsep TOD Manfaatkan Jaringan Komuter
PT Hutama Anugrah Propertindo, perusahaan hasil kerjasama PT Harapan Inti Persada Indah (HIPI) dan Karya Cipta Group, mengembangkan Serpong Garden Apartment yang berlokasi di kawasan Cisauk, Serpong, Banten. ( Foto: Beritasatu.com/Feriawan Hidayat )
/ FER Minggu, 29 September 2019 | 20:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Hunian berkonsep transportasi atau dikenal sebagai transit oriented development (TOD) mulai marak ke arah Serpong dengan memanfaatkan jaringan komuter sebagai tahap awal.

Baca Juga: Perumnas Bidik Konsumen Milenial

Direktur Utama PT Hutama Anugrah Propertindo, Ferdy Sutrisno, mengatakan, konsep TOD merupakan pendekatan pengembangan hunian yang memaksimalkan penggunaan angkutan publik, sekaligus meminimalisir penggunaan kendaraan pribadi.

"Serpong Garden Apartment sebagai gambaran pembangunannya didesain memiliki berbagai konektivitas dengan intermoda seperti Stasiun Komuter Cisauk, pasar modern, dan terminal terpadu. Kalau nanti pemerintah mengaplikasikan jalur bagi kereta api massal, kami sudah siap. Termasuk juga kelengkapan jaringan bagi para pejalan kaki atau pengguna sepeda,” jelas Ferdy di Jakarta, Minggu (29/9/2019).

Baca Juga: Proyek Infrastruktur Dongkrak Bisnis Properti

Ferdy mengatakan, dalam konsep TOD penghuni hanya cukup melangkah sudah bisa menjangkau jaringan komuter atau menjangkau pusat bisnis, sekolah, perguruan tinggi, tempat rekreasi, serta fasilitas-fasilitas lain.

"Konsep TOD ini akan mengurangi pemborosan energi sampai 85 persen, sehingga menghasilkan gaya hidup atau lifestyle yang lebih sehat karena didisain kemanapun cukup ditempuh dengan berjalan kaki atau bersepeda,” kata Ferdy.

Baca Juga: HAP Mulai Bangun Serpong Garden

Pengamat Tata Kota, Yayat Supriatna mengatakan, terkait TOD, terlebih dulu dibuat perencanaan yang dituangkan melalui perencanaan dalam bentuk master plan dan rencana tata bangunan dan lingkungan (RTBL).

"Saya melihat RTBL belum ada di wilayah Tangerang sebagai satelit Jakarta. Ini harus ditata melibatkan peran pengusaha dengan pemerintah daerah, sehingga memiliki perencanaan pembangunan, disesuaikan dengan berbagai studi yang mereka lakukan sebelumnya," ujar Yayat.

Menurut Yayat, kalau pembangunan diserahkan kepada pemda setempat, belum tentu memiliki kecukupan fiskal. Itu sebabnya pemerintah daerah bergantung kepada bantuan dan dukungan dari Pemerintah Pusat.

"Dengan demikian perlu ada sinergi antara pemerintah pusat dan daerah terutama untuk proyek strategis termasuk MRT atau LRT sebagai fasilitas berkembangnya TOD," tambah Yayat.



Sumber: ANTARA