Soal Reshuffle Kabinet, Pengamat Ingatkan Jokowi Agar Tepikan Tekanan Politik

Soal Reshuffle Kabinet, Pengamat Ingatkan Jokowi Agar Tepikan Tekanan Politik
Presiden Jokowi. (Foto: istimewa)
Markus Junianto Sihaloho / WM Rabu, 1 Juli 2020 | 12:06 WIB

 

 

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago menyatakan bahwa kemarahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap kinerja kabinetnya adalah wujud dari eskalasi letupan politik. Momen ini harusnya menjadi titik penting bagi Jokowi agar menempatkan menteri yang tepat sesuai kemampuan, bukan sekadar karena titipan politik.

Menurut Pangi, jauh sebelum Jokowi membentuk kabinet seusai menang di Pemilu 2019, banyak pihak termasuk dirinya yang mengingatkan agar Jokowi tak salah memiliki menteri sejak awal.

"Pikirannya hanya sederhana. Jangan sampai Pak Jokowi nanti disibukkan dengan reshuffle berkali-kali, akibat salah memilih pembantunya. Gonta-ganti menteri berkali-kali dapat memperlambat akselarasi kerja pemerintahan. Karena menteri baru harus beradaptasi kembali," kata Pangi, Rabu (1/7/2020).

Dan saat ini terjadi. Kejadian marahnya Jokowi soal kinerja kabinet, menurutnya, adalah sebenarnya letupan politik, bukan kinerja. Dan jika reshuffle dilakukan dengan berbasis politik, berkali-kali reshuffle takkan menyelesaikan masalah.

"Saya pikir ini yang terjadi. Jadi kemarahan Jokowi kemarin hanya bagian dari kausalitas akibat presiden salah menempatkan pembantunya, tidak menjalankan hak prerogatif secara maksimal. bBlum lagi tidak menempatkan menteri berdasarkan basis the right man on the right place sesuai kapasitas keahliannya," ulasnya.

Yang penting, ke depan Jokowi memilih tidak hanya soal sebatas memenuhi representasi partai, ormas, profesional, tim sukses dan relawan. Namun benar-benar mewujudkan kabinet ahli, menteri ahli di bidangnya.

"Menteri yang bisa bekerja cepat, disiplin, mau bersabar, laten terhadap kerja-kerja teknis dan detail, mampu mengimbangi kerja cepat presiden, punya terobosan dan narasi besar memajukan bangsa dan negara," katanya.

"Jangan sampai nanti karena salah memilih menteri, Jokowi disibukkan dengan reshuffle. Tidak hanya satu atau dua kali saja, namun berkali-kali akibat salah memilih pembantunya," pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com