Kerja Menteri Lamban Atasi Covid-19, Jokowi Marah di Rapat Kabinet

Kerja Menteri Lamban Atasi Covid-19, Jokowi Marah di Rapat Kabinet
Joko Widodo. (Foto: Antara)
Lenny Tristia Tambun / YUD Minggu, 28 Juni 2020 | 19:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Lambannya kinerja para menteri jajaran Kabinet Indonesia Maju dalam mengatasi pandemi Covid-19 membuat Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan kekesalannya. Ia terlihat marah saat memimpin rapat kabinet paripurna yang digelar internal pada 18 Juni 2020.

Biro Pers Media dan Informasi Sekretariat Negara baru mengunggah video tersebut di akun resmi YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (28/6/2020).

Dalam rapat tersebut, Jokowi mengatakan suasana tiga bulan terakhir ini adalah suasana krisis akibat merebaknya pandemi virus corona atau Covid-19. Namun ia melihat belum ada pandangan yang sama dalam diri para menteri dan pimpinan lembaga pemerintahan lainnya dalam menghadapi situasi yang sedang krisis. Jokowi menilai mereka belum memiliki Sense of crisis yang sama.

“Suasana dalam tiga bulan ke belakang ini dan ke depan, mestinya yang ada, adalah suasana krisis. Kita juga mestinya, juga semuanya yang hadir di sini sebagai pimpinan, sebagai penanggung jawab, kita yang berada di sini ini bertanggung jawab kepada 267 juta penduduk Indonesia. Ini tolong digaris bawahi, dan perasaan itu tolong kita sama. Ada sense of crisis yang sama,” kata Jokowi.

Ia meminta jajaran menterinya berhati- hati dalam menghadapi krisis ekonomi sebagai dampak pandemi Covid-19. Berdasarkan Organisasi Karja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), pertumbuhan ekonomi dunia terkontraksi minus enam persen, bahkan bisa sampai minus 7,6 pesen. Tidak hanya itu, Bank Dunia menyampaikan, pertumbuhan ekonomi dunia bisa terkontraksi minus lima persen.

Karena itu, Jokowi tidak ingin para pimpinan kementerian dan lembaga negara bekerja biasa-biasa saja dan menganggap kondisi saat ini adalah kondisi yang normal. Apalagi ia melihat mereka masih menganggap situasi sekarang masih normal sehingga bekerja dengan ritme biasa seperti belum ada corona.

“Perasaan ini harus sama. Kita harus ngerti ini. Jangan biasa-biasa saja, jangan linear, jangan menganggap ini normal. Bahaya sekali kita. Saya lihat masih banyak kita yang menganggap ini normal. Lha kalau saya lihat bapak, ibu dan saudara-saudara masih melihat ini sebagai masih normal, berbahaya sekali. Kerja masih biasa-biasa saja. Ini kerjanya memang harus ekstra luar biasa, extraordinary. Perasaan ini tolong sama. Kita harus sama perasaannya. Kalau ada yang berbeda satu saja, sudah berbahaya,” ucap Jokowi.

Ia ingin setiap kebijakan atau keputusan yang diambil pemerintah harus berdasarkan suasana kritis. Bukan kebijakan yang biasa dan normal.

“ Jadi, tindakan-tindakan kita, keputusan-keputusan kita, kebijakan-kebijakan kita, suasananya harus suasana krisis. Jangan kebijakan yang biasa-biasa saja menganggap ini sebuah kenormalan. Apa-apaan ini? Mestinya, suasana itu ada semuanya. Jangan memakai hal-hal yang standar pada suasana krisis. Manajemen krisis sudah berbeda semuanya mestinya,” tegasnya.

Kalau memang dalam mengeluarkan kebijakan atau keputusan dibutuhkan peraturan pengganti perundang-undangan (perppu) atau peraturan presiden (Perpres), ia siap menekennya.

“Kalau perlu kebijakan Perppu, ya perppu saya keluarkan. Kalau perlu Perpres, ya Perpres saya keluarkan. Kalau sudah ada PMK, keluarkan. Untuk menangani negara tanggung jawab kita kepada 267 juta rakyat kita,” papar Jokowi.

“Saya lihat, masih banyak kita ini yang seperti biasa-biasa saja. Saya jengkelnya disitu. Ini apa enggak punya perasaan? Suasana ini krisis,” tegas Jokowi.



Sumber: BeritaSatu.com