Arief Budiman: Pilkada 2020 Ujian Demokrasi Indonesia

Arief Budiman: Pilkada 2020 Ujian Demokrasi Indonesia
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman menyampaikan sambutan saat Penyerahan Data Pemilih Pemula Tambahan dan Peluncuran Pemilihan Serentak Tahun 2020 di gedung KPU, Jakarta, Kamis (18/6/2020). KPU menerima Data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (D4) tambahan sebanyak 456.256 orang dan meluncurkan alat perlengkapan pencegahan Covid-19 untuk digunakan dalam penyelenggaraan Pilkada serentak 2020. (Foto: ANTARA FOTO / Dhemas Reviyanto)
Robertus Wardi / JAS Kamis, 18 Juni 2020 | 18:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman mengemukakan pelaksanaan Pilkada 2020 di tengah wabah virus corona atau Covid 19 adalah ujian bagi proses demokrasi di negara ini. Jika berhasil, Indonesia akan semakin tangguh dan kuat dalam berdemokrasi.

Generasi mendatang pun akan belajar dari situasi sekarang. Jika gagal, proses pembangunan demokrasi ke depan akan sulit karena Indonesia tidak bisa menjalankan Pilkada langsung di tengah pandemi Covid 19.

"Apa yang kita lakukan hari ini sebetulnya bukan untuk kepentingan hari ini tapi jauh lebih dari itu. Yang kita lakukan hari ini untuk kepentingan generasi yang akan datang. Mereka akan mewarisi, belajar dari apa yang kita lakukan hari ini," kata Arief Budiman saat menerima penyerahan Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilihan (DP4) tambahan dari Kementerian Dalam Negeri di gedung KPU, Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2020).

Arief Budiman menjelaskan jika Pilkada tanggal 9 Desember 2020 berjalan baik dan sukses, bangsa ini akan mewariskan sebuah sistem penyelenggaraan yang bisa dipakai dan dimanfaatkan generasi berikutnya. Generasi mendatang tinggal menyempurnakan dari sistem yang dibangun saat ini.

"Ke depannya, mereka bisa langsung menjalankan pesta demokrasi dengan berbagai kondisi, termasuk jika situasi bencana non-alam serupa kembali berulang," ujar Arief Budiman.

Namun jika gagal, lanjut Arief Budiman, generasi yang akan datang kalau menghadapi situasi yang sama seperti ini, akan belajar dari awal. Mereka mencari referensi dan menyesuaikan banyak hal dalam melaksanana pemilu di tengah bencana.

"Tanpa dukungan seluruh elemen, menjadi hal yang mustahil bagi KPU untuk merealisasikan penyelenggaraan pemilu yang baik, sukses dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil," tegas Arief Budiman.

Pada kesempatan itu, Arief Budiman,, menyebut KPU menargetkan jumlah partisipasi pemilih pada Pilkada 2020 sebanyak 77,5 persen. Hal itu tidak mudah karena dilakukan ditengah pandemi Covid 19.

"Sebetulnya tidak ada hal yang berbeda yang kita lakukan dalam pemilu kali ini dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Cara dan hal lain itu sama, tapi keyakinan publik itu harus dibangun. Karena mereka harus melaksanakan aktivitas di masa pandemi. Selama protokol kesehatan dijalankan dengan ketat, dengan baik, maka tidak ada yang perlu ditakutkan untuk beraktivitas menggunakan hak pilihnya," jelas Arief Budiman. 



Sumber: BeritaSatu.com