Tokoh Toraja yang Juga Mantan Anggota MPR Frederik Batong Tutup Usia

Tokoh Toraja yang Juga Mantan Anggota MPR Frederik Batong Tutup Usia
Frederik Batong (Foto: Istimewa)
Asni Ovier / AO Senin, 30 Maret 2020 | 17:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Seorang tokoh nasional dan putra terbaik asal Toraja, Sulawesi Selatan, Frederik Batong meninggal dunia karena sakit pada usia 62 tahun. Mantan anggota MPR itu mengembuskan napas terakhir di RS Mitra Kelapa Gading, Jakarta, Senin (30/3/2020).

Semasa hidupnya, Frederik Batong pernah menjadi anggota MPR Utusan Daerah Sulawesi Selatan periode 1999-2004. Almarhum juga pernah menjadi Dirut Inkud menjelang Orde Baru tumbang dan setelah sebelumnya sukses memimpin dan mengantarkan Puskud Hasanuddin, Ujungpandang (kini Makassar) sebagai Puskud terbaik nasional pada 1990-an.

Wartawan senior, Marselius Rombe Baan mengatakan, Frederik Batong meninggal dunia dipastikan bukan karena virus corona (Covid-19). Almarhum telah lama menderita komplikasi penyakit sejak 2019 hingga harus dirawat hingga pergi selamanya di RS Mitra Kelapa Gading.

“Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi warga Toraja yang tersebar di penjuru Nusantara, bahkan dunia,” ujar Marsel. Hingga akhir hidupnya, almarhum masih menjabat sebagai Ketua Umum Perhimpunan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI), sebuah organisasi sosial bagi masyarakat Toraja perantauan di seluruh Indonesia.

Pria kelahiran 12 februari 1958 itu juga pernah menjadi Ketua Ikatan Keluarga Toraja (Ikat) se-Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), yang menghimpun masyarakat Toraja di wilayah tersebut. Dia merangkul semua warga Toraja dari semua unsur, Kristen dan Katolik maupun Islam, dalam organisasi Ikat hingga PMTI, yang sebelumnya dipimpin Rektor Universitas Pelita Harapan, Prof Ir Jonathan L Para’pak.

Alumnus SMA Negeri 1 Rantepao, Toraja Utara, dan IPB Bogor ini mempunyai jiwa usaha dan bisnis yang luar biasa. Semua yang diraihnya dimulai Frederik Batong dengan semangat yang kuat, yakni pernah menjadi penjual rokok keliling di pasar saat kecil hingga mendirikan koperasi dan memiliki perusahaan taksi.

“Almarhum pernah sukses menghimpun usahawan muda di Kota Makassar dengan Taksi Lima Muda. Di Jakarta dia juga pernah mempunyai ratusan armada taksi dengan bendera Perisai Taksi. Karena itu, Frederik, selain digelari sebagai pendekar koperasi, dia juga dijuluki si Raja Taksi ketika itu,” kata Marsel.

Selain menjadi anggota MPR, Frederik Batong juga pernah menjabat sebagai Ketua Kopartemen Pertanian Kamar Dagang Indonesia (Kadin) pada 1988-1993 dan Ketua bidang Mutu dan Produksi Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) pada 1997-2001. Dia juga pernah menjabat sebagai wakil ketua umum Pemuda Pancasila.

Berjiwa Sosial
Sukses dalam karier dan bisnis tak membuatnya Frederik Batong tinggi hati atau bersikap individualistis. Dia adalah salah seorang tokoh Toraja yang dikenal luas sangat sosial, murah hati, dan kepeduliannya sangat tinggi bagi sesama.

“Wisma Buntu Ria miliknya dengan dilengkapi bangunan lumbung khas Toraja di kawasan Megamendung, Bogor, sering disiapkan untuk warga dari Toraja, termasuk rombongan para guru yang sedang studi our di Pulau Jawa. Bukan hanya menginap, dia juga menyiapkan akomodasi dan makanan bagi tamunya dari kampung,” kata Marsel.

Wartawan senior yang tinggal di Depok itu mengatakan, berbagai organisasi sosial, termasuk dari kalangan gereja, juga sering menggunakan wisma yang cukup luas dan bisa menampung 60-an orang menginap itu untuk kegiatan kerohanian, seperti retret dan semacamnya.

Fred Batong juga dikenal sebagai pribadi yang ringan tangan dan sering membantu banyak orang yang tertimpa bencana atau masalah, seperti di Papua, Kalimantan, dan gempa di Palu, bahkan bencana tsunami di Aceh. Tidak hanya merogoh koceknya dan mengajak yang lain membantu, Frederik Batong sering turun langsung ke lapangan mempimpin langsung pengiriman bala bantuan.

“Untuk urusan membangun Toraja (Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara), Fred Batong adalah sosok yang sangat peduli dan memberikan kontribusi, baik dana maupun pemikiran. Kalau ada keluarga Toraja atau dari Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) yang sedang berduka di Jabodetabek, dia selalu menyempatkan diri hadir menghibur keluarga yang ditinggal,” ujar Marsel.

Kini, warga Toraja benar-benar kehilangan seorang tokoh nasional, sosok yang peduli dan dermawan.
Almarhum lebih sering disapa Kak Fred atau Kak Pedi. “Itulah yang saya kenal dari sosok putra terbaik asal Toraja ini. Selamat jalan Kak Frederik Batong, Kak Fred, atau Kak Pedi. Pergilah dalam damai ke surga bersama Sang Khalik,” ujar Marsel.



Sumber: BeritaSatu.com