Survei CPCS: PDIP Berjaya, Anies-Sandi Tempel Ketat Prabowo-Puan

Survei CPCS: PDIP Berjaya, Anies-Sandi Tempel Ketat Prabowo-Puan
Prabowo Subianto. (Foto: Antara)
Yustinus Paat / AO Kamis, 12 Maret 2020 | 07:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 masih empat tahun lagi, namun publik sudah mulai ramai memperbincangkan para kandidat dan partai politik peserta pemilu. Dari temuan survei yang dilakukan oleh Center for Political Communication Studies (CPCS), PDIP meraih elektabilitas tertinggi sebesar 31,7% atau mendekati perolehan suara fenomenal pada pemilu legislatif 1999.

“Tidak bisa dimungkiri, kemenangan Jokowi dalam dua periode berkontribusi pada tingginya elektabilitas PDIP,” ungkap Direktur Eksekutif CPCS Tri Okta SK di Jakarta, Rabu (11/3/2020).

Sebagai partai penguasa, kata Okta, PDIP menguasai sumber daya dan terkait erat dengan kebijakan-kebijakan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin saat ini. Jika dibuat kluster, PDIP menempati posisi papan atas bersama Partai Gerindra (14,5%) dan Partai Golkar (8,9%).

"Ketiga partai politik ini mendominasi percaturan politik dan menjadi penentu kebijakan di legislatif maupun eksekutif, dengan PDIP sebagai inti dari segitiga kekuatan dominan tersebut," kata Okta.

Pada posisi papan tengah, PKS unggul dengan elektabilitas 6,7%, disusul PKB 5,9%, Partai Demokrat 4,6%, dan PPP 3,1%. “Bisa dikatakan bahwa PKS menjadi partai Islam paling unggul, jika dilihat meningkatnya partisipasi dari Pileg 2014 ke 2019 tampaknya PKS berhasil merebut suara golput dari pemilih Islam,” jelas Okta.

Sisanya, posisi adalah partai-partai dari kalangan nasionalis. PArtai Nasdem memiliki elektabilitas 2,9%, di bawah dari perolehan suara pada Pileg 2019. “PSI mampu merebut segmen pemilih nasionalis yang selama ini golput dengan kenaikan elektabilitas menjadi 2,8%,” papar Okta.

Berikutnya adalah PAN dengan elektabilitas tersisa 1,6%, Partai Hanura 0,9%, Perindo 0,7 persen, Partai Berkarya 0,6%, Partai Garuda 0,4%, PBB 0,3%, dan terakhir PKPI 0,1%. “Selain PAN, partai-partai tersebut pada Pileg 2019 lalu gagal mengirim wakil ke Senayan dan diperkirakan akan kembali menjadi partai gurem,” terang Okta.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Prabowo yang sudah tiga kali berlaga dalam pilpres masih berpeluang maju kembali pada 2024 dengan mengantongi elektabilitas tertinggi sebesar 22,7%. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membayangi (13,8%) disusul mantan wakilnya di DKI sekaligus cawapres Prabowo, Sandiaga Uno (12,1%).

Berturut-turut di bawahnya adalah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (8,5%), Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (5,8%), Menteri BUMN Erick Thohir (4,1%), Ketua DPR Puan Maharani (3,6%), Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (2,9%), dan Menko Polhukam Mahfud MD (1,6%).

Lalu, ada mantan calon gubernur DKI dan komandan Kogasma Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (1,4%), Menko Perekonomian sekaligus Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto (1,2%), dan Gubernur Jawa Timur Khofidah Indar Parawansa (1,1%). Selebihnya nama-nama yang ada meraih elektabilitas di bawah 1 persen.

Dalam focus group discussion yang digelar sebelumnya untuk menjaring aspirasi pemilih milenial, dipasangkan sejumlah nama yang berpeluang untuk dimajukan dalam Pilpres 2024. Dari hasil survei kepada masyarakat, pasangan Prabowo-Puan unggul dengan elektabilitas 32,1%.

Pasangan ini ditempel ketat oleh Anies-Sandi (29,8%) atau hanya terpaut sekitar 2%. “Paket Prabowo-Puan diperkirakan menjadi kandidat kuat yang bakal diusung koalisi PDIP-Gerindra,” kata Okta.

Meskipun demikian, langkah tersebut juga mendapat tantangan dengan menguatnya elektabilitas baik Anies maupun Sandi. Jika dipasangkan, kekuatan Anies-Sandi mampu mengganjal elektabilitas Prabowo-Puan.

Sementara, pasangan lainnya cukup jauh di bawah, yakni Erick Thohir-AHY (10,3%), Ganjar Pranowo-Ridwan Kamil (7,3%), dan terakhir Airlangga Hartarto-Khofifah (3,7%).

“Selain Prabowo, di antara menteri Jokowi yang paling bersinar adalah Erick Thohir, terlihat dari tingginya elektabilitas capres maupun ketika dipasangkan,” tutur Okta.

Survei CPCS dilakukan pada 20-29 Februari 2020, dengan jumlah responden 1.200 orang mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Metode survei dilakukan secara acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error ±2,9% dan pada tingkat kepercayaan 95%.



Sumber: BeritaSatu.com