AMP: HUT Melanesia Barat Momentum Wujudkan Persatuan Indonesia

AMP: HUT Melanesia Barat Momentum Wujudkan Persatuan Indonesia
Para anggota Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) berfoto bersama setelah acara Festival Budaya di Jakarta, Sabtu, 14 Desember 2019. (Foto: Istimewa)
Asni Ovier / AO Minggu, 15 Desember 2019 | 21:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Hari ulang tahun (HUT) Melanesia Barat yang jatuh setiap tanggal 14 Desember harus dirayakan dengan momentum persatuan dan kesatuan anak bangsa. Pesan itu yang disampaikan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) saat menggelar Festival Budaya di Gedung Djoeang Jakarta, Sabtu (14/12/2019).

Dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (15/12/2019), Sekretaris Jenderal AMP Rajid Pattiran mengatakan, momentum perayaan HUT Melanesia Barat bisa dijadikan sebagai ajang untuk menunjukkan persatuan dan kesatuan Indonesia di tengah gelombang disinformasi, berita bohong, dan ujaran kebencian yang menyerang masyarakat, khususnya di Papua.

"Menjaga kemerdekaan bangsa agar tetap utuh adalah pesan proklamator kita Soekarno-Hatta. Untuk itu, pada momen Festival Budaya ini, kami mengingatkan kepada semua elemen bangsa bahwa kita masih berdiri kuat sebagaimana cita-cita pendiri bangsa," kata Rajid.

Dijelaskan, Festival Budaya diisi dengan rangkaian acara yang menampilkan berbagai budaya dan kostum adat di Tanah Air. Acara dibuka dengan tarian dari daerah Maluku kemudian acara diisi dengan diskusi antara peserta yang kebanyakan adalah mahasiswa dari berbagai daerah, mulai dari Aceh, Sumatera Barat, hingga Maluku, Makassar, dan Papua.

Pada akhir acara, Rajid mengucapkan deklarasi Festival Budaya 2019 bersama puluhan perwakilan mahasiswa. Ada lima pesan untuk pemuda Indonesia dalam deklarasi itu. Pertama, mengajak seluruh anak bangsa untuk merawat toleransi demi menjaga kebersamaan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedua, menolak segala bentuk tindakan rasialisme terhadap sesama anak bangsa. Ketiga, menolak segala bentuk provokasi tidak bertanggung jawab yang menggangu keamanan dan ketertiban kehidupan berbangsa dan bernegara.

Keempat, meminta pemerintah pusat untuk menindak tegas para pihak yang berupaya mengancam keutuhan NKRI. Terakhir, menyatakan bahwa NKRI adalah harga mati dan tidak tidak dapat diganggu gugat.

"Kami membacakan pesan ini sebagai simbol bahwa memang ada keresahan saat ini. Tetapi, kami yakin, ini adalah ujian yang harus kita hadapi bersama-sama. Ini saatnya kita memperkuat, bukan malah bercerai-berai atau berpisah-pisah," ujarnya.

AMP juga akan memanfaatkan media sosial dalam menyampaikan narasi konstruktif terkait Festival Budaya dan HUT Melanesia Barat. Rahmat Syarif, Perwakilan dari Organisasi Kepemudaan dan Kedaerahan (OKK) Maluku Utara, mengatakan, media sosial adalah saluran informasi utama masyarakat di era digital.

"Kami memang mengimbau agar di media sosial itu disampaikan pesan-pesan positif dan membangun," kata Rahmat. Dikatakan, tujuan OKK mengikuti Festival Budaya adalah untuk menunjukkan keberagaman Indonesia sekaligus pesan Bhinneka Tunggal Ika yang masih menjadi pegangan NKRI.

"Festival Budaya ini memperlihatkan keragaman budaya yang ada di indonesia. Kita memang berbeda-beda. Ada Papua, Makassar, Betawi, Maluku, Sumatera, Kalimantan, dan lain-lainya. Tetapi, kita satu Indonesia. Ini yang harus kita ramaikan di medsos," ujarnya.

Rajid juga mengatakan pihaknya akan berupaya mengajak mahasiswa untuk mengisi status di akun-akun media sosial dengan narasi konstruktif dan membangun.

"Kami mengimbau agar menyampaikan informasi yang tidak merusak dan disampaikan nada-nada positif di medsos. Sifatnya membangun. Jangan lagi sifatnya menghasut, ujaran kebencian, dan konflik, tetapi pesan yang mudah dicerna masyarakat, terutama buat mahasiswa di mana pun berada. Mahasiswa Aceh atau Papua sama saja. Kita Indonesia," tegasnya.



Sumber: Suara Pembaruan