Sekjen Golkar: Mekanisme Aklamasi Bergantung Dinamika Munas

Sekjen Golkar: Mekanisme Aklamasi Bergantung Dinamika Munas
Airlangga Hartarto dan Lodewijk Freidrich Paulus. ( Foto: Antara )
Robertus Wardy / CAH Kamis, 14 November 2019 | 07:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sekjen Partai Golkar (PG) Letjen (Purn) Lodewijk Freidrich Paulus mengemukakan aklamasi atau tidaknya pemilihan Ketua Umum (Ketum) bergantung pada dinamika Musyawarah Nasional (Munas) tanggal 4-6 Desember mendatang. Yang menentukan adalah para pemilik suara dari daerah-daerah.

"Kita lihat perkembangan nanti, ini masih ada beberapa hari. Tentunya masih berpolemik apakah aklamasi atau tidak. Ya tentu aklamasi atau tidaknya tergantung pemilih hak suara. Kita tahu 514 DPD Kabupaten/Kota dan 34 Provinsi serta 10 organisasi," kata Lodewijk usai rapat pleno Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PG di Jln Anggrek Neli, kawasan Slipi, Jakarta Barat, Rabu (13/11/2019).

Ia mengungkapkan peta dukungan masih cair. Pelaksanaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) pada 14-15 November bisa memberikan sedikit, namun belum menjadi patokan.

"Kita masih tunggu. Ini kan politik ini cair banget, kita lihat nanti keputusan seperti apa, maunya seperti apa kita lihat. Mungkin gambaran dari Rapimnas secara tidak resmi, mungkin akan ada pembicaraan itu tetapi saya belum tahu. Intinya kita akan bicarakan itu setelah Munas dibuka dan panitia sudah ada, kita jalankan," jelas mantan Danjen Koppasus ini.

Di tempat yang sama, pengurus DPP Lamhot Sinaga mengemukakan sedang dikondisikan agar pemilihan Ketua Umum (Ketum) PG dilakukan secara musyawarah dan mufakat. Ujungnya diharapkan terjadi pemilihan secara aklamasi.

"Aklamasi untuk memilih kembali Airlangga Hartarto. Ini terus dibicarakan," kata Lamhot.

Dia menjelaskan pilihan itu harus dilakukan jika Golkar tidak kembali mau pecah. Alasannya jika dilakukan voting, pasti ada yang merasa sakit hati dengan mendirikan partai baru atau pindah ke partai lain. Alasan lainnya adalah pemilihan aklamasi untuk menjaga suara Golkar tetap utuh. Sejak pemilu 2004, suara Golkar terus turun. Hal itu karena internalnya tidak pernah utuh mendukung satu kepemimpinan. Jika tidak dijaga momentum kesolidan yang ada sekarang berupa pemilihan ketum secara aklamasi maka pada Pemilu 2024, suara Golkar berpotensi kembali turun.

"Pikiran-pikiran ini yang sedang dibangun di internal. Kita harus berkorban menggunakan mekanisme aklamasi untuk kebesaran Golkar," tutup anggota Komisi VI DPR ini.



Sumber: Suara Pembaruan