Ketua MPR Tegaskan Tidak Boleh Ada Larangan Salam Agama Lain

Ketua MPR Tegaskan Tidak Boleh Ada Larangan Salam Agama Lain
Bambang Soesatyo. ( Foto: Antara )
Yustinus Paat / YUD Senin, 11 November 2019 | 19:40 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo (Bamsoet) menegaskan tidak boleh ada larangan bagi pejabat publik untuk mengucapkan salam agama lain saat membuka pidato. Menurut Bamsoet, ucapan salam agama lain merupakan salah satu bentuk toleransi masyarakat Indonesia yang tinggi.

Bamsoet menyampaikan hal tersebut menanggapi imbauan yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur agar para pejabat atau siapapun, tidak mengucapkan salam atau kalimat pembuka dari semua agama saat acara resmi. Pasalnya, kalimat atau salam dari agama dianggap berkaitan dengan masalah keyakinan atau akidah agama tertentu.

"Jadi dikembalikan ke masyarakat yang menggunakan. Yang penting jangan ada larangan, karena itu urusan individu kita dengan Tuhan Yang Maha Esa," ujar Bamsoet di sela-sela acara Setara Institute, Ashley Hotel, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, Senin (11/11/2019).

Sebagai pejabat publik, Bamsoet mengaku tidak merasa ada masalah ketika mengucapkan salam agama lain saat memulai sambutan di acara resmi. Menurut dia, yang terpenting, ucapan tersebut tidak mempengaruhi iman dan keyakinannya.

"Saya tidak ada masalah dengan ucapan salam, yang terpenting tidak mempengaruhi keyakinan kita masing-masing terhadap agama kita masing-masing," tandas dia.

Lebih lanjut, Bamsoet mengimbau kepada seluruh elemen bangsa untuk mengedepankan sikap-sikap toleransi. Pasalnya, Indonesia merupakan negara yang majemuk dan kemajemukan tersebut merupakan berkah.

"Salam agama itu penting menunjukan bahwa kita memiliki sikap toleransi yang tinggi oleh pemeluk agama di Indonesia. Menurut saya justru yang kita inginkan sikap-sikap toleransi harus dikedepankan," pungkas dia.

Sebelumnya, MUI Jawa Timur mengeluarkan imbauan yang terlampir dalam surat bernomor 110/MUI/JTM/2019 yang diteken Ketua MUI Jatim KH. Abdusshomad Buchori pada Jumat, 8 November 2019. Ada delapan poin dalam surat imbauan itu, yakni meminta para umat Muslim membaca salam sesuai dengan agamanya, tidak memakai salam agama agama dalam sambutan.

Berikut delapan poin imbauan MUI Jatim terkait pengucapan salam semua agama:

1. Bahwa agama adalah sistem keyakinan yang didalamnya mengandung ajaran yang berkaitan dengan masalah akidah dan sistem peribadatan yang bersifat eksklusif bagi pemeluknya, sehingga meniscayakan adanya perbedaan-perbedaan antara agama satu dengan agama yang lain.

2. Dalam kehidupan bersama di suatu masyarakat majemuk, lebih-lebih Indonesia yang mempunyai semboyan Bhinneka tunggal ika, adanya perbedaan-perbedaan menuntut adanya toleransi dalam menyikapi perbedaan.

3. Dalam mengimplementasikan toleransi antar umat beragama, perlu ada kriteria dan batasannya agar tidak merusak kemurnian ajaran agama. Prinsip tolerasi pada dasarnya bukan menggabungkan, menyeragamkan atau menyamakan yang berbeda, tetapi toleransi adalah kesiapan menerima adanya perbedaan dengan cara bersedia untuk hidup bersama di masyarakat dengan prinsip menghormati masing-masing pihak yang berbeda.

4. Islam pada dasarnya sangat menjunjung tinggi prinsip toleransi, yang antara lain diwujudkan dalam ajaran tidak ada paksaan dalam agama (QS. al-Baqarah [2]: 256); prinsip tidak mencampur aduk ajaran agama dalam konsep Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku sendiri. (QS. al-Kafirun [109]: 6), prinsip kebolehan berinteraksi dan berbuat baik dalam lingkup muamalah (QS. al-Mumtahanah [60]: 8), dan prinsip berlaku adil kepada siapapun (QS. al-Maidah [8]: 8).

5. Jika dicermati, salam adalah ungkapan doa yang merujuk pada keyakinan dari agama tertentu. Sebagai contoh, salam umat Islam, Assalaamualaikum yang artinya semoga Allah mencurahkan keselamatan kepada kalian. Ungkapan ini adalah doa yang ditujukan kepada Allah Swt, Tuhan yang Maha Esa, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Salam umat Budha, Namo buddaya, artinya terpujilah Sang Budha satu ungkapan yang tidak terpisahkan dengan keyakinan umat Budha tentang Sidarta Gautama. Ungkapan pembuka dari agama Hindu, Om swasti astu. Om, adalah panggilan umat Hindu khususnya di Bali kepada Tuhan yang mereka yakini yaitu Sang Yang Widhi. Om, seruan ini untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan yang tidak lain dalam keyakinan Hindu adalah Sang Yang Widhi tersebut. Lalu kata swasti, dari kata su yang artinya baik, dan asti artinya bahagia. Sedangkan Astu artinya semoga. Dengan demikian ungkapan Om swasti astu kurang lebih artinya, Semoga Sang Yang Widhi mencurahkan kebaikan dan kebahagiaan.

6. Bahwa doa adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ibadah. Bahkan di dalam Islam doa adalah inti dari ibadah. Pengucapan salam pembuka menurut Islam bukan sekedar basa basi tetapi doa.

7. Mengucapkan salam pembuka dari semua agama yang dilakukan oleh umat Islam adalah perbuatan baru yang merupakan bidah yang tidak pernah ada di masa yang lalu, minimal mengandung nilai syubhat yang patut dihindari.

8. Dewan Pimpinan MUI Provinsi Jawa Timur menyerukan kepada umat Islam khususnya dan kepada pemangku kebijakan agar dalam persoalan salam pembuka dilakukan sesuai dengan ajaran agama masing-masing. Untuk umat Islam cukup mengucapkan kalimat, Assalaamualaikum. Wr. Wb. Dengan demikian bagi umat Islam akan dapat terhindar dari perbuatan syubhat yang dapat merusak kemurnian dari agama yang dianutnya.



Sumber: BeritaSatu.com