LIPI Dukung Kajian Mikro Keluarga Indonesia

LIPI Dukung Kajian Mikro Keluarga Indonesia
Ilustrasi keluarga yang menuntun anak agar tidak konsuntif dengan makan bersama.
Ari Supriyanti Rikin / FMB Senin, 14 Oktober 2019 | 17:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemetaan mikro keluarga di Indonesia diperlukan untuk mengetahui kondisi dan permasalahan yang ada, karena untuk mencetak sumber daya manusia yang unggul, haruslah dimulai dari keluarga.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Laksana Tri Handoko mengatakan, keluarga merupakan wadah terkecil yang sangat menentukan hadirnya sumber daya manusia yang unggul di Indonesia. Namun 73 juta keluarga di Indonesia punya kekhasan kondisi dan masalah yang berbeda satu dengan yang lainnya. Untuk itu, diperlukan pemetaan mikro keluarga di Indonesia sehingga bisa disentuh dengan solusi spesifik sesuai dengan masalah yang dihadapi.

Saat ini pemerintah melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Bencana Nasional (BKKBN) melakukan pemetaan kondisi mikro 1.000 keluarga di Indonesia bersamaan dengan penyusunan indeks pembangunan keluarga untuk pertama kalinya di Indonesia.

Handoko menambahkan, untuk membuat indeks pembangunan keluarga memang membutuhkan data di level mikro. Data tersebut riil dan bukan sekadar sampling.

"Data tersebut diambil dari lapangan seperti penghasilan, jumlah anak, demografi, pekerjaan, kondisi rumah dan lainnya. Dengan mengetahui lebih mikro, treatment-nya juga lebih mikro," katanya di sela-sela Seminar Nasional Kesetaraan Gender dan Ketahanan Keluarga Menuju Sumber Daya Manusia Unggul Indonesia Maju di Jakarta, Senin (14/10/2019).

Dalam upaya penyusunan indeks pembangunan keluarga ini, LIPI diminta untuk menganalisa dan mengevaluasi indikator yang dibuat berdasarkan kajian ilmiah. Dalam penyusunan indeks pembangunan keluarga ini ada tiga indikator utama, antara lain ketenteraman, kemandirian dan kebahagiaan.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo mengungkapkan, saat ini BKKBN diberi tugas membuat indeks pembangunan keluarga. Oleh karena itu diperlukan pemetaan secara mikro kondisi keluarga di Indonesia. Untuk itulah BKKBN juga mengandeng LIPI dalam penelitian ini.

"Di tahun 2019 kita kembangkan (tool) lebih valid. Kita uji ke 1.000 keluarga dan akan diperluas di tahun 2020," ucap Hasto.

Indeks pembangunan keluarga yang ditargetkan mencapai 50,4 di tahun 2020. Dengan tiga variabel besar itu perlu dikerucutkan tetapi tetap representatif menggambarkan kondisi tiap keluarga.

"Yang mau kita capai (treatment) kepada masyarakat harus data mikronya atau berdasarkan kondisi di keluarga," imbuhnya.

Pemetaan mikro di level keluarga ini akan membuat pemecahan masalah lebih tepat sasaran. Di tahun 2020 sensus pemetaan keluarga mikro ini akan menyentuh 63 juta keluarga di Indonesia.



Sumber: Suara Pembaruan