Anilisis John Caine Center

Inilah Tiga Tokoh Penyelamat Demokrasi Indonesia

Inilah Tiga Tokoh Penyelamat Demokrasi Indonesia
Tokoh penyelamat demokrasi Indonesia ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Rully Satriadi / RSAT Rabu, 9 Oktober 2019 | 15:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemilu sukses diselenggarakan. Kedamaian terus terjaga. Silaturahim juga berjalan harmonis. Dinamika demokrasi terus mengalir penuh nilai, walau ada beberapa gelombang aksi dan penolakan atas beberapa kebijakan pemerintah yang tidak sejalan.

Berdasarkan analisis dan penelitian serta diskusi bersama pakar politik, ilmuan, dan intelektual selama tiga pekan di Jerman dan Eropa, John Caine Center (JCC) yang dikomando Najib Salim Attamim menyimpulkan ada tiga tokoh nasional yang dinilai sebagai sosok pembaru penyelamat sistem demokrasi di Indonesia. Ketiganya adalah Presiden Jokowi, Prabowo Subianto, dan Megawati Soekarnoputri.

Tiga tokoh tersebut memiliki kesamaan ideologi dan nasionalisme yang sangat kental. Partai-partai lain peserta Pemilu 2019, baik di dalam koalisi maupun oposisi bukan berarti tidak memiliki kesamaan. 
 “Akan tetapi, kami yakin, apabila tiga tokoh ini menyatu dan solid, sangat optimis akan mampu menyelesaikan aneka persoalan yang menimpa bangsa Indonesia,” katanya.

Sejak Pemilu terselenggara dengan sukses dan damai, pelantikan wakil rakyat (DPR) sudah terealisasi, kini tinggal pelantikan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, yang diharapkan juga berjalan aman dan sukses dilaksanakan.

Namun, ritme perjalanan demokrasi penuh dengan khasanah bermakna. Hal itu tidak terlepas dari peran dan strategi luar biasa yang dimainkan oleh tiga tokoh nasional. Yakni Presiden Jokowi, Prabowo dan Megawati.

“Ketiganya jadi sosok pemeran utama bagaimana demokrasi itu penuh khasanah dan makna, bagaimana NKRI tetap berwibawa,” jelas Chairman John Caine Center (JCC), Najib Salim Attamimi di Jakarta, Kamis (9/10/2019).

Analisis politiknya, beber Najib, partai politik yang berkoalisi dengan Jokowi, itu banyak. Tapi kondisinya sangat berbeda dengan kondisi yang ada di internal PDI Perjuangan dan Partai Gerindra yang didukung oleh para tokoh umat Islam yang menonjol dan jadi panutan bagi mayoritas umat Islam.

“Kekuatan politik ini terlihat mulai dibangun secara harmonis untuk membangun kekuatan dan menjaga maruah bangsa Indonesia,” katanya.

Selanjutnya, pada sisi ekonomi nasional dan internasional, gerakan dan strategi dari tiga tokoh itu, akan mampu mencapai target yang diinginkan. Jika koalisi ini betul-betul terbangun, akan menjadi kekuatan luar biasa.

“Target ekonomi akan terus melaju dengan cepat. Akan sangat berbeda dengan kondisi saat ini,” terang Najib.

Najib juga membeberkan, seperti penanganan kemiskinan, memang dimiliki oleh semua partai. Tapi akan terjadi lompatan dan terobosan luar biasa jika kekuatan PDI Perjuangan dan Gerindra terbangun dengan solid dan berkualitas.

Prabowo telah didukung oleh negara-negara di Eropa. Tidak ada partai lain di Indonesia yang memiliki kekuatan tersebut. Sementara, Presiden Jokowi dan Megawati, memiliki hubungan baik dengan Tiongkok dan Timur Tengah.

Jika hal itu dilakukan dengan maksimal, akan lebih baik dan kokoh di sektor pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Bisa terjadi, ekonomi Indonesia akan menjadi negara rujukan di sektor ekonomi dan politik secara global,” jelasnya.

Semua hal ini akan terjadi jika penggabungan konsep yang disetujui dan dilakukan dengan maksimal dan demokratis. Nilai-nilai yang menjadi akar kekuatan NKRI akan terus terawat dan terjadi. NKRI tidak akan tersandera dengan negara-negara asing.

“Karena kekuatan nasionalisme itu ada pada sosok Prabowo, Megawati dan Jokowi. Tapi bukan berarti tokoh dan partai-partai lainnya tidak nasionalis,” tegas Najib.

Selain itu, Najib berharap, dalam waktu singkat, tiga tokoh tersebut, segera mengambil kebijakan konkrit, bijak dan arif untuk kepentingan bangsa dan negara. Dan tidak gampang digoyang oleh kekuatan lain, baik dari dalam maupun luar negeri.

“Besar harapan kami dari John Caine Center, dengan analisis ini, tidak untuk dijadikan satu polemik. Peran tiga tokoh pembaru penyelamat khasanah demokrasi Indonesia ini, diharapkan malah menjadi spirit untuk bersatu padu mendukung kekuatan yang tak terhingga demi kepentingan semua pihak, bukan hanya kepentingan kelompok,” harapnya.



Sumber: Suara Pembaruan