Theo Sambuaga: Mahasiswa Zaman Dulu Tidak Pernah Mempersoalkan Pancasila

Theo Sambuaga: Mahasiswa Zaman Dulu Tidak Pernah Mempersoalkan Pancasila
Theo Sambuaga. ( Foto: SP/Joanito de Saojoao )
Carlos KY Paath / FMB Rabu, 14 Agustus 2019 | 15:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Mantan Wakil Ketua Umum Dewan Mahasiswa (Dema) Universitas Indonesia periode 1973-1974, Theo L Sambuaga mengungkap, pergerakan mahasiswa sekitar 50 tahun silam tidak pernah mempersoalkan Pancasila. Para mahasiswa mempunyai semangat kebangsaan yang begitu tinggi.

“Pada waktu itu tidak ada yang berpikir untuk keluar atau menyimpang dari Pancasila dan NKRI. Tidak ada isu-isu yang permasalahkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA),” kata Theo kepada Beritasatu.com, Rabu (14/8/2019).

Theo menambahkan, setiap organisasi mahasiswa (ormawa) intra dan ekstra mengadakan latihan kepemimpinan secara teratur. Meski dilakukan sederhana, lanjut Theo, mahasiswa benar-benar diajarkan mengenai Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika atau yang sekarang dikenal dengan istilah Empat Pilar Kebangsaan.

Theo berharap peranan ormawa intra dan ekstra kampus ditingkatkan. “Saat ini saya kira perlu diberi ruang yang jelas, dan tegas. Terus optimalkan peranan-peranan organisasi mahasiswa. Meningkatkan nasionalisme dan komitmen terhadap Empat Pilar Kebangsaan,” tegas Theo.

Dengan begitu, Theo optimistis kelompok radikal yang menyusupi kampus-kampus akan tersisihkan. Menurut mantan pimpinan pusat GMNI tersebut, mahasiswa sepatutnya menunjukkan kepada publik bahwa wawasan kebangsaan dijaga dengan baik. “Kelompok radikal akhirnya tidak laku dan tersisihkan di tengah masyarakat maupun mahasiswa,” tegas Theo.

Theo yang juga tokoh Peristiwa 15 Januari 1974 (Malari) menuturkan, seluruh mahasiswa pada eranya sangat memperjuangkan kepentingan rakyat. Pembangunan harus berkeadilan agar rakyat keluar dari kemiskinan. “Supaya pangan dan sandang lebih murah, pembangunan diwujudkan untuk rakyat kecil,” ucap Theo.

Theo kembali menekankan, ormawa sama sekali tidak ada yang bersifat ekstrem. “Semua organisasi mahasiswa ketika itu pada dasarnya berdasarkan Pancasila. Kami justru ingin penerapan Pancasila dapat dilaksanakan sungguh-sungguh,” pungkas mantan Sekretaris Jenderal DPP KNPI periode 1981-1984 tersebut. 



Sumber: Suara Pembaruan