Penelitian UGM: KPPS Meninggal Secara Natural, Bukan Karena Diracuni

Penelitian UGM: KPPS Meninggal Secara Natural, Bukan Karena Diracuni
Petugas pemilu menjalani perawatan kesehatan. ( Foto: Antara )
Yustinus Paat / FMB Selasa, 25 Juni 2019 | 19:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan kajian lintas displin untuk mengungkap penyebab kesakitan dan kematian dari petugas Pemilu 2019. Kajian dilakukan di wilayah Provinsi D.I Yogyakarta mulai dari tanggal 20 Mei hingga akhir pekan kemarin.

Koordinator Tim Peneliti UGM Abdul Gaffar Karim mengungkapkan kajian ini menggunakan metode campuran (mixed-methods), yaitu kuantitatif dengan metode survei dan kualitatif dengan metode deskriptif. Survei ini dilakukan terhadap perwakilan TPS dan Petugas Pemilu (KPPS, PPS dan PPK) di 400 TPS yang tersebar di DI Yogyakarta.

Ke-400 TPS ini dipilih menggunakan teknik cluster random sampling dari 11.781 TPS di seluruh DIY. Sampel tersebut berfungsi untuk mengestimasi rerata beban kerja Petugas Pemilu.

"Data kami menunjukan bahwa semua yang meninggal itu disebabkan oleh penyebab-penyebab natural. Kami sama sekali tak menemukan indikasi misalnya diracun atau sebab-sebab lain yang lebih ekstrem," ujar Gaffar di Kantor KPU, Jalan Imam Bonjol, Menteng, Jakarta, Selasa (25/6).

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, kata Gaffar, petugas KPPS meninggal atau sakit murni karena penyebab natural atau alamiah di mana para petugas tersebut memiliki riwayat penyakit kardiovaslular seperti penyakit jantung, stroke atau gabungan keduanya. Selain itu, kata dia, penyebab lain adalah beban kerja petugas KPPS yang sangat tinggi sebelum, selama dan sesudah hari pemilihan.

"Rata-rata beban kerja petugas KPPS mencapai 20 hingga 22 jam. Selain itu 80 persen dari petugas KPPS yang meninggal ternyata telah memiliki riwayat penyakit kardiovaskular yang berkaitan dengan jantung dan pembuluh darah," ungkap dia.

Sementara Peneliti lain Riris Andono Ahmad alias Doni menerangkan bahwa kajian ini menggunakan tiga metodologi, yakni verbal otopsi untuk mencari penyebab kematian, survei potong lintas di tempat pemungutan suara (TPS), serta penelitian kasus kontrol untuk mengetahui penyebab sakit.

Berdasarkan hasil verbal otopsi oleh dokter spesialis forensik, kata Doni, ditemukan fakta bahwa delapan dari 10 petugas KPPS yang meninggal memiliki riwayat penyakit diabets, hipertensi, dan jantung serta 90 persen mempunyai riwayat merokok.

"Sementara dari temuan survei potong lintas di TPS ditemukan beban kerja petugas berkisar antara 20-22 jam pada hari pelaksanaan pemilu, 7,5 hingga 11 jam untuk mempersiapkan TPS, dan 8 hingga 48 jam untuk mempersiapkan dan mendistribusikan undangan atau formulir C6," terang Doni.

Kemudian, Doni meyebutkan, juga rata-rata petugas memiliki pekerjaan utama selain menjadi petugas KPPS. Hal tersebut membuat waktu istirahat para petugas KPPS menjadi semakin sedikit. Kurangnya istirahat menyebabkan para petugas kelelahan dan jatuh sakit.

"Beban kerja terberat terjadi saat hari pencobolosan suara dengan presentase 80 persen bekerja dan 20 persen istirahat. Sementara satu hari sebelum Pemilu 70 persen kerja 30 persen istirahat, dan satu hari setelah Pemilu 60 persen kerja 40 perseb istirahat," pungkas Doni.



Sumber: BeritaSatu.com