PDIP Minta Pengurus Daerah Lakukan Pemetaan Politik

PDIP Minta Pengurus Daerah Lakukan Pemetaan Politik
Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, menghadiri rapat kerja daerah (Rakerda) di Bengkulu, Senin (24/6/2019). Hadir pengurus daerah PDIP dari seluruh penjuru Bengkulu. ( Foto: Beritasatu Photo / Markus Junianto Sihaloho )
Markus Junianto Sihaloho / FER Senin, 24 Juni 2019 | 20:16 WIB

Bengkulu, Beritasatu.com - Pengurus pusat PDI Perjuangan (PDIP) meminta jajaran pengurus daerahnya untuk setiap saat mampu melakukan pemetaan politik. Pemetaan itu berkaca dari pengalaman Bung Karno yang pernah dibuang oleh penjajah ke Provinsi Bengkulu.

"Bengkulu hanya 1,9 juta penduduk, kalah sama Kabupaten Bogor, Bekasi. Tapi kita melihat Bengkulu adalah sebuah tempat yang sangat bersejarah dalam konsolidasi perjuangan kemerdekaan Indonesia," kata Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, saat menghadiri rapat kerja daerah (Rakerda) di Bengkulu, Senin (24/6/2019).

Hasto mengatakan, ketika Bung Karno dibuang ke Bengkulu, tujuan penjajah adalah agar sang pejuang itu kena penyakit malaria. Bung Karno tak boleh bergeser kecuali di area 4 kilometer persegi. Walau begitu, semangat perjuangannya tak pernah lenyap. Bung Karno langsung melihat situasi yang ada. Salah satu yang dikritisi dan disampaikan Bung Karno dari apa yang dilihatnya dari kehidupan sehari-hari di Bengkulu saat itu adalah pemisahan laki-laki dan perempuan.

"Di Bengkulu, Bung Karno mengatakan bagaimana kita mau berjuang kalau laki dan perempuan dipisahkan dalam kelambu. Itu kata Bung Karno saat itu," ujar Hasto.

Menurut Hasto, hal yang paling penting dari perjuangan Soekarno saat dibuang di Bengkulu adalah melakukan pemetaan politik. Saat itu, Bung Karno bertemu dua orang guru yang dahulunya merupakan anggota PNI. Informasi dari kedua orang itulah, dijadikan dasar oleh Bung Karno untuk melakukan pemetaan politik.

Bung Karno kemudian menyadari juga bahwa kehidupan keislaman di Bengkulu sangat kuat. Maka dirinya langsung menggunakan sebagian 'gaji' sebagai tahanan politik Belanda untuk membangun masjid. 

"Maka Bung Karno memenangkan hati rakyat. Masjid itu dibangun dan beliau ikut bergotong royong dan bahkan menjadi arsitek masjid itu," ujar Hasto.

Dari situ Bung Karno memenangkan hati masyarakat untuk melakukan pemetaan dalam memimpin gerakan perjuangan untuk Indonesia merdeka.

Lalu konsolidasi serta pembagian tugas dilakukan bersama dengan Hatta dan Sjahrir. Semuanya memilih berjuang menyambut kedatangan Jepang. Dan dengan kesepakatan bersama, kata Hasto, Sjahrir yang kemudian diserahi tugas memimpin gerak bawah tanah dalam perjuangan kemerdekaan. "Pesan moral dari cerita sejarah ini adalah bahwa politik dimulai dari pemetaan," kata Hasto.

Selain itu, ketika Bung Karno hanya memiliki dua sahabat di Bengkulu, tetap bisa bergerak. "Dan itulah yang harus dimiliki PDIP agar bergerak menyatu dengan kekuatan rakyat sebagai partai pelopor," tegas Hasto.



Sumber: BeritaSatu.com