Potensi Industri Event Belum Banyak Dilirik

Potensi Industri Event Belum Banyak Dilirik
Event Talks bertajuk Tren Literasi Event Management di Indonesia di Universitas Prasetiya Mulya, Jakarta. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Senin, 7 Oktober 2019 | 20:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Vice President of Marketing Loket.com, Mohamad Ario Adimas, mengatakan, salah satu sektor pariwisata yang punya peluang besar untuk dikembangkan dan bernilai ekonomis cukup tinggi di Indonesia adalah event, kegiatan yang dilakukan sekelompok orang untuk suatu tujuan. Sayangnya ceruk menguntungkan itu belum banyak dilirik masyarakat.

"Namun demikian, dengan kemajuan teknologi dan pertumbuhan pengguna internet yang begitu pesat di Indonesia, industri event dewasa ini meningkat tajam," ujar Mohamad Ario Adimas, pada sesi Event Talks bertajuk Tren Literasi Event Management di Indonesia di Universitas Prasetiya Mulya, seperti dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Senin (6/10/2019).

Diukur dari besarnya kelompok orang yang berkumpul, kata Dimas, sejumlah event di Indonesia bisa diklasifikasikan dalam event besar, menengah atau kecil, dan personal. Event besar yang selama ini terselenggara antara lain festival konser musik, pameran, liga olah raga, dan event internasional.

Event menengah dan skala kecil antara lain pentas seni (pensi) sekolah, workshop, konferensi, konser musik, reuni tahunan sekolah, dan event olah raga tahunan. Event menengah merupakan event yang paling sering diselenggarakan dan menguasai pasar event di Indonesia sampai saat ini.

"Sedangkan event yang sifatnya personal, meski tak sebanyak event menengah, selalu ada sepanjang tahun, seperti reuni kecil, bukber, nobar, pesta ulang tahun, bridal shower, sunatan, tasyakuran, dan kegiatan olah raga rutin seperti futsal, basket dan badminton,” jelas Dimas.

Dari data yang terkumpul di perusahaan pengelola event itu, tercatat event skala besar berkisar antara 300 hingga 400 event setahun. Secara keseluruhan, dilihat dari industri hiburan, tahun 2018 tercatat ada 5.000 event lebih, yang terdiri dari 360 penayangan film, dan 100 event per minggu.

"Dari data penjualan tiket tahun 2017 ke 2018, pertunjukkan musik itu naik 500 persen, MICE naik 225 persen, lalu sport ada di 250 persen. Sehingga industri event itu prospeknya besar sekali,” kata Dimas.

Sependapat dengan Dimas, Wakil Ketua Forum Program Studi MICE di Universitas Podomoro, Santi Palupi, meyakini bahwa perkembangan event, khususnya bidang MICE (meeting, incentive, conference, and exhibitions) begitu pesat, sehingga peluang siapa pun untuk menjadi wirausaha bidang event masih begitu besar.

"Di Indonesia, universitas atau sekolah tinggi yang memiliki program studi MICE itu hanya 5 perguruan tinggi. Sisanya hanya melekat dalam bentuk konsentrasi bidang ilmu atau mata kuliah pariwisata, apakah di perhotelan, usaha perjalanan wisata, atau manajemen pariwisata. Jadi MICE itu masih 'barang langka'. Itu artinya peluangnya masih banyak," ungkap Santi.

Industri pariwisata, khususnya di event MICE, menurut Santi membutuhkan data-data hasil riset yang memadai untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas event. Penelitian-penelitian itu umumnya bisa dilakukan para peneliti dari kalangan akademisi.

"Maka, riset di ilmu ini sangat dibutuhkan untuk meningkatkan industri pariwisata, khususnya bidang event. Dari beberapa penelitian ilmiah misalnya, kaum milenial itu khususnya di Jakarta, cenderung menyukai special event, khususnya life style event, seperti exhibitions, Gaikindo dan sejenisnya. Ini masih jarang penelitiannya, padahal bisa jadi itu peluang industri event di Indonesia," kata Santi.

Peningkatan industri pariwisata, khususnya event, menurut Pakar City Branding Jakarta Tourism Forum, Silih Agung Waseso, tak bisa lepas dari semangat kolaborasi semua pihak, baik kalangan akademisi maupun praktisi.

"Sudah waktunya kita bicara soal collaborative event. Sehingga sebuah event besar bisa terselenggara dengan baik karena seluruh elemen ditangani oleh masing-masing ahli di bidangnya. Dan tidak satu ahli pun bisa mengklaim mampu melakukan semua sendiri selain dengan kerja sama," ujar Agung.



Sumber: BeritaSatu.com