Sosok Habibie di Mata Penerus Industri Dirgantara

Sosok Habibie di Mata Penerus Industri Dirgantara
Bacharuddin Jusuf Habibie ( Foto: Globe Asia / Dokumentasi )
Adi Marsiela / RSAT Kamis, 12 September 2019 | 11:20 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Industri kedirgantaraan Indonesia kehilangan sosok penggagas dan pendirinya seiring kepergian Presiden ke-3 RI, Bacharuddin Jusuf Habibie (83 tahun) pada Rabu, 11 September 2019 sekitar pukul 18.05 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, Jakarta.

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia, Elfien Guntoro menyatakan duka cita mendalam sekaligus belasungkawa mewakili seluruh karyawannya. “Semoga beliau husnul khatimah dan disempurnakan amal ibadahnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dalam menghadapinya,” kata Elfien di lantai sembilan PT Dirgantara Indonesia, Bandung.

Elfien mengungkapkan, almarhum merupakan sosok penting di industri dirgantara Indonesia dan dunia. Almarhum merupakan pendiri sekaligus Direktur Utama Industri Pesawat Terbang Nurtanio periode 1976-1985. Sebelum akhirnya berubah nama menjadi PT Industri Pesawat Terbang (1985-2000) hingga sekarang jadi PT Dirgantara Indonesia.

“Rekam jejak beliau di samping pendiri, penggagas, dimulai dari advance technology di BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) dengan LIPNUR (Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio). Beliau membuat terobosan bahwa production manufacturing plan dari kita mulai assembly sampai bisa desain sendiri pesawat,” terang Elfien di ruangan kantor yang sama dengan yang digunakan Habibie semasa menjadi direktur utama periode 1976-1998.

Jejak-jejak almarhum, sambung Elfien, terlihat jelas dalam produksi pesawat yang hingga kini diproduksi PT Dirgantara Indonesia. Beberapa di antaranya adalah NC212-100 yang sekarang menjadi NC212i yang sudah autopilot dan menjadi produk andalan PT Dirgantara Indonesia. “Pesawat dengan kapasitas 24 penumpang itu salah satu rekam jejak beliau,” tambah Elfien.

Selain itu, ada juga pesawat CN235 yang dibuat bersama-sama oleh insinyur Indonesia dengan Casa, pabrikan pesawat asal Spanyol. “Saat ini ada 283 pesawat CN235 di seluruh dunia. Putra-putri Indonesia membuat setengah bagian pesawat itu dari outer wing, fuselage sampai belakang. Sementara yang bagian depan sampai center wing itu dibuat Casa,” papar Elfien.

Rekam jejak yang paling mutakhir pada eranya adalah pesawat N250 yang sudah berhasil terbang. Saat itu, industri dirgantara bersama Habibie sudah berhasil merancang dan menerbangkan pesawat N250 dengan teknologi fly by wire. Namun saat proses sertifikasi berlangsung, Indonesia mengalami krisis moneter di tahun 1998.

“Kalau (N250) ini jalan, maka (pesawat) ATR tidak akan seramai ini. Negara kita dilanda krisis dan oleh IMF (International Monetary Fund) diberhentikan proyek itu,” terang Elfien yang bertekad melanjutkan semangat almarhum untuk merancang bangun dan menyelesaikan pesawat N219 dengan tenaga putra-putri Indonesia.

Saat ini pesawat berkapasitas 19 penumpang itu masih menjalani rangkaian sertifikasi dan ditargetkan selesai pada akhir tahun ini. “Sehingga kita bisa produksi,” imbuh Elfien.

Teori Habibie
Selain membawa Indonesia dalam kancah industri dirgantara, Elfien menuturkan, almarhum meninggalkan warisan penting berupa Teori Habibie. Teori itu ditemukannya setelah belajar teknik penerbangan di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH), Jerman. Almarhum menjalani pendidikan di Jerman pada 1955-1965.

Saat bekerja di perusahaan penerbangan di Jerman, almarhum menemukan teori tersebut. Teori ini menjelaskan titik awal retakan pada sayap atau badan pesawat. Habibie berhasil menghitung letak dan besar retakan pada konstruksi pesawat. Perhitungannya sangat detil hingga ke tingkat atom.

Pengaruhnya pada industri penerbangan, risiko kecelakaan pesawat bisa ditekan. Pesawat juga bisa bermanuver dengan lebih aman tanpa perlu menambahkan beban konstruksi seperti sebelumnya.

Elfien mengungkapkan, almarhum adalah sosok yang cerdas dan jenius terkait temuannya itu. “Perhitungan keretakan pesawat ini jadi rujukan ahli dirgantara di dunia dan negara kita,” ungkap Elfien lagi.

Untuk mengingat semangat dan inspirasi dari pendirinya, Elfien mengungkapkan, pihaknya masih menyimpan berbagai peninggalan almarhum. Tengok saja peninggalannya terkait pesawat N250 yang masih tersimpan dengan baik di lantai sembilan Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia.

Peninggalannya, antara lain, empat buah desain pesawat N-250 yang masing-masing diberi nama Gatotkoco, Krincingwesi, Koconegoro, dan Pututguritno. Dari rencana empat purwarupa itu, IPTN hanya bisa merealisasikan dua saja karena terganjal kebijakan peminjaman uang dari IMF.

Selain itu juga ada tulisan tangan almarhum berupa sajak yang dibuatnya untuk acara roll out pesawat N250 tanggal 10 November 1994. Sajak bertajuk "Generasi Penerus" itu ditulisnya pada 5 November 1994 pada pukul 15:38 seperti tertulis di bagian akhir sajaknya. Tulisan ini dibingkai dan digantungkan di ruangan rapat direktur utama.

Padamu Ibu Pertiwi
padamu pahlawan
padamu pejuang
dikenal mau pun tidak dikenal
terimalah persembahan kami generasi penerus
karya kami teknologi canggih umat manusia.

Kami kuasai
kami miliki
kami kembangkan
kami kendalikan
mandiri untukmu Ibu Pertiwi
meneruskan perjuangan
masyarakat Indonesia
adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 45

Pembangunan berkesinambungan
dengan semangat
tekad
tak mengenal lelah
tak mengenal menyerah
semangatmu
pahlawan bangsa
di bumi Indonesia
di alam baka
kami lanjutkan sepanjang masa.

Salah seorang sekretaris direksi, Pujiati, 53 tahun mengungkapkan, pihaknya masih merawat kamar istirahat yang digunakan almarhum semasa bekerja di ruang kerja direktur utama.

Ruangan itu terdiri dari satu tempat tidur, kursi, karpet, serta brankas. Di bagian luarnya ada meja makan yang digunakan almarhum semasa bekerja di sana. Berbeda dengan kasur pada umumnya, panjang tempat tidur ini lebih pendek disesuaikan dengan tinggi badan almarhum.

“Semuanya tetap sama. Tidak ada yang berubah di sini. Kami hanya mengganti bed cover saja,” kata Pujiati yang bekerja di PT Dirgantara sejak tahun 2003 silam.