Yayasan Helping Hands Siapkan Program Bela Hak Penyandang Disabilitas

Yayasan Helping Hands Siapkan Program Bela Hak Penyandang Disabilitas
Willy Suwandi Dharma (kiri), selaku pendiri Yayasan Helping Hands dan Wendy Kusumowidagdo (ketiga dari kiri), Direktur Eksekutif Yayasan Helping Hands bersama guru dan sejumlah penyandang disabilitas pada acara Media Gathering YHH di Jakarta, Rabu (14/8/2019) ( Foto: BeritaSatu Foto / Mashud Toarik )
Mashud Toarik / MT Rabu, 14 Agustus 2019 | 19:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Peringatan Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia diharapkan jadi momentum semua pihak untuk memberikan kesempatan bagi warga negara penyandang disabilitas agar bebas berkarya dan berkreasi dalam membangun Indonesia.

Yayasan Helping Hands (YHH) menilai, meski telah merdeka selama 74 tahun, banyak penyandang disabilitas yang terbelenggu dalam kesehariannya. Berbagai stigma pun mereka terima, bahkan terkadang berujung pada semakin terbatasnya ruang gerak mereka di tengah masyarakat.

“Karena itu, harus ada gerakan aksi nyata untuk membantu saudara-saudari kita yang hidup dengan disabilitas agar bisa berjalan beriringan dengan setara bersama seluruh lapisan masyarakat, untuk mewujudkan Indonesia Maju,” ujar Wendy Kusumowidagdo, Direktur Eksekutif Yayasan Helping Hands pada acara Media Gathering di Jakarta, Rabu (14/8/2019)

Berangkat dari kondisi tadi, YHH hadir untuk turut mendampingi penyandang disabilitas agar mereka memiliki kesempatan yang setara dengan anak-anak bangsa lainnya untuk turut membangun Indonesia.

“Slogan "Disabilitas Bukan Halangan", yang diusung Yayasan Helping Hands sejak awal berdiri dimaknai para pendiri Yayasan sebagai sebuah keyakinan, bahwa disabilitas bukan halangan untuk maju, dan bukan halangan untuk maju bersama, ujarnya.

Dalam diskusi tersebut diungkapkan, salah satu fokus aktivitas YHH adalah memperjuangkan kesempatan yang sama dalam mendapatkan pekerjaan formal. Menurutnya baru sekitar 1,2% penyandang disabilitas yang berhasil ditempatkan dalam sektor tenaga kerja formal.

“Padahal, UU No. 8 Tahun 2016 mewajibkan Perusahaan Swasta mempekerjakan paling sedikit 1%, Pemerintah, Pemda, BUMN dan BUMD mempekerjakan paling sedikit 2% penyandang disabilitas dari jumlah pegawai,” ujarnya.

Dalam upaya meningkatkan partisipasi penyandang disabilitas di sektor formal tadi, YHH pun berupaya menjadi jembatan antara dunia disabilitas dengan non-disabilitas.

“Dengan orang lebih mengenal seseorang yang difabel, memahami kemampuan, kelemahan, kebutuhan, kesamaan, perbedaannya, kami berharap ia akan lebih mau berupaya memberi dampak bagi komunitas difabel,” papar Willy Suwandi Dharma, salah satu pendiri Yayasan Helping Hands dalam kesempatan serupa.

Adapun dalam membangun jembatan kesetaraan dan kebersamaan, YHH menggunakan Metodologi Program berbasis empat elemen, Edukatif, Inklusif, Partisipatif dan Eksperensial. Keempat elemen tersebut selanjutnya diwujudkan dalam tiga Pilar Program Utama Yayasan, yakni Pendidikan Alam, Pendidikan Olah Raga dan Pengalaman Profesional.

Tiga pilar program itu yang kemudian dijalankan oleh para anak muda penyandang disabilitas yang menjadi peserta didik YHH.

“Dalam setiap geraknya, Yayasan Helping Hands selalu menyatukan anak-anak muda penyandang disabilitas dengan non-disabilitas. Melalui ketiga Pilar program, kita berupaya menyatukan anak muda disabilitas dengan non disabilitas ke dalam berbagai pelatihan nonformal. Kami percaya, melalui pelatihan bersama itu para penyandang disabilitas dan nondisabilitas akan berinteraksi sekaligus meresapi nilai-nilai yang diusung YHH, yakni toleransi, empati, kepemimpinan dan kerja sama yang akan membuka ruang kebersamaan yang lebih luas lagi kedepannya,” jelas Wendy.

Sementara di Pilar ketiga, Pengalaman Profesional, yang bertajuk Leadership Inclusive Taining (LIT), YHH membawa para siswa-siswi Sekolah Luar Biasa ke berbagai perusahaan untuk merasakan pengalaman pelatihan bersama dengan pekerja profesional.

Gandeng BCA

Salah satu program LIT yang akan dijalankan menurut Wendi yaitu kerja sama dengan Bank BCA pada tanggal 20 Agustus 2019.

Kegiatan yan digelar dalam memeriahkan HUT ke-74 RI tersebut akan diikuti oleh 15 anak tunanetra. Mereka akan dibawa ke fasilitas unit kerja Halo BCA di BSD, Tangerang.

Nantinya, 15 anak itu akan ditandem dengan 15 karyawan BCA dalam sebuah pairing program, 3-4 jam. “Kami harap melalui program tersebut di sisi anak disabilitas akan menumbuhkan kepercayaan diri untuk berinteraksi dan berkarya di dunia professional, sementara di sisi karyawan akan menumbuhkan empati yang kami harapkan ke depannya akan dapat memperluas wawasan mereka agar lebih inklusif dan ramah disabilitas, siapa tahu juga dapat membuka ruang kesempatan untuk bekerja bersama lebih lanjut dengan penyandang disabilitas di perusahaan,” terang Wendy.

Selain kepada perusahaan, YHH juga menawarkan berbagai programnya ke berbagai sekolah, seperti pelatihan pada Sekolah Umum dan Perusahaan. “Oleh Perusahaan, program ini bisa dinilai sebagai Corporate Social Responsibility (CSR), juga sebagai program Pelatihan dan Pengembangan SDM. Sehingga memberi manfaat dan nilai tambah besar bagi Perusahaan,” ujar Willy.

Sementara bagi sekolah, program YHH menurut Willy masuk sebagai program pengabdian masyarakat. Hal ini penting bagi anak-anak muda Indonesia, agar kepekaan, nilai toleransi dan kemasyarakatan lebih meningkat,” urai Willy Suwandi Dharma.



Sumber: Majalah Investor