Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Mengikuti Bung Karno Inspeksi Kapal Perang ALRI

Opini: Guntur Soekarno
Pemerhati masalah sosial

Selasa, 11 Mei 2021 | 15:30 WIB

Ketika pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia pada tahun 1949 dan keluar dari Bumi Pertiwi, ternyata mereka meninggalkan beberapa kapal perang jenis korvet dan LST (landing ship tank). Salah satunya adalah sebuah kapal perang jenis korvet yang diberi nama RI Hang Tuah.

Pada penghujung tahun 1950, Bung Karno, sebagai panglima tertinggi angkatan perang, melakukan inspeksi (peninjauan) ke kapal perang RI Hang Tuah. Dalam kunjungan tersebut saya diajak serta. Saya merasa sangat gembira dapat mengikuti kunjungan karena memang menggemari masalah kapal perang dengan berbagai jenis.

Sebagaimana biasanya, ketika tiba di tempat bersandarnya RI Hang Tuah, Pangti (Panglima Tertinggi) menerima tembakan kehormatan yang suaranya memekakkan telinga. Ketika menaiki tangga ke kapal disambut oleh tiupan seruling khas Angkatan Laut (AL) disertai penghormatan dari seluruh anak buah kapal (ABK). Setiba di geladak kapal, Bung Karno didampingi kapten kapal, langsung naik ke anjungan dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Saya juga turut duduk di sana.

Setelah kapten kapal memberi komando kapal mulai berlayar meninggalkan Pelabuhan Tanjung Priok mengarah ke Laut Jawa. Di tengah perjalanan diadakan latihan tempur. RI Hang Tuah dengan kecepatan penuh melaju memecah ombak dan sesekali berlayar zig-zag. Di samping itu meriam utama di anjungan kapal dan meriam buritan secara bergantian melakukan tembakan-tembakan salvo yang suaranya memekakkan telinga walaupun kita berada di dalam anjungan kapal. Saya terpaksa menutup telinga dengan kedua ujung jari telunjuk agar tidak terlalu pekak.

Latihan ini berlangsung sampai siang hari. Seluruh rombongan makan siang di atas RI Hang Tuah bersama-sama dengan seluruh ABK. Menjelang sore RI Hang Tuah balik arah menuju Tanjung Priok. Sewaktu menuju tangga untuk meninggalkan kapal, Pangti bersama rombongan kembali mendapatkan penghormatan tiupan seruling AL hingga meninggalkan kapal.

Berlayar di RI Gajah Mada
Beberapa tahun berikutnya, saya kembali diajak Bung Karno untuk berlayar bersama RI Gajah Mada. Jenis kapalnya adalah destroyer (kapal perusak) yang dilengkapi dengan peralatan canggih saat itu seperti sonar, bom bawah laut untuk menghancurkan kapal selam, termasuk sepasang meriam Bofors 40 mm anti serangan pesawat udara.

RI Gajah Mada ukurannya jauh lebih besar daripada RI Hang Tuah. Walaupun begitu ruangan-ruangannya, termasuk anjungan, belum dilengkapi dengan pendingin udara (AC).

Selama perjalanan di Laut Jawa dilakukan latihan menghadapi serangan pesawat udara dan kapal selam. Dalam latihan serangan udara, yang sangat difungsikan adalah meriam-meriam Bofors 40 mm, yang dapat menembak secara beruntun sekaligus 5 kali tembakan sesuai dengan kemampuan magazinnya. Ketika latihan serangan udara seluruh awak meriam Bofors mengenakan rompi tahan peluru dan topi baja.

Waktu latihan menghadapi serangan kapal selam, senjata yang menjadi andalan adalah alat deteksi bawah laut sonar dan bom-bom bawah laut. Alkisah ketika kapal selam sudah terdeteksi kedalaman dan kecepatannya, bom-bom bawah laut dilontarkan dari buritan kapal RI Gajah Mada. Ketika bom meledak di bawah laut, air tersembur ke atas beberapa meter di belakang buritan. Dari turet meriam di buritan kapal, kita dapat menyaksikan operasi pelontaran bom-bom bawah laut tadi.

Mencoba “Destroyer” Buatan Yugoslavia
Pada konferensi non-blok tahun 1961 di Beograd, Yugoslavia, Bung Karno menyempatkan meninjau pembuatan 2 kapal destroyer buatan Yugoslavia di galangan kapal pusat armada Angkatan Laut negara itu. Dengan diantar oleh Ibrahim Adjie, duta besar Indonesia untuk Yugoslavia kala itu, Bung Karno dengan seksama meneliti 2 kapal perang yang sedang dibuat.

Sekitar tahun 1962 kapal-kapal perang tersebut selesai dan masuk ke jajaran armada Angkatan Laut kita. Saya lupa diberi nama apa kapal tersebut. Saat itu kedua destroyer tersebut termasuk kapal perang dengan teknologi yang canggih, karena dilengkapi dengan radar, sonar, dan tak ketinggalan ruangan ber-AC.

Ketika Bung Karno dan saya berlayar dengan kapal tersebut, sebagaimana biasa di Laut Jawa saya merasa sangat nyaman berada di ruang anjungan kapal yang udaranya sejuk karena AC. Begitu pula ketika mencoba beristirahat di kamar kapten kapal, walaupun ruangannya tidak terlalu luas (lebih luas sedikit bila dibandingkan dengan sel tahanan Bung Karno di penjara Banceuy yang saat ini dijadikan museum di Bandung), namun udaranya sejuk dan nyaman karena ber-AC.

Saat sesi latihan perang dimulai, saya kembali ke anjungan untuk menyaksikan latihan. Ketika itu sayup-sayup terdengar suara mendengung dari bawah kapal. Setelah bertanya suara apa itu kepada salah seorang perwira ABK, ternyata suara berasal dari kamar mesin yang sedang bekerja maksimal agar kapal melaju dengan kecepatan penuh.

Tidak beberapa lama, tiba saatnya mencoba kemampuan meriam-meriam anti serangan udara yang terletak di kedua samping kapal. Meriam-meriam tersebut ternyata bukan jenis Orlikon 20 mm buatan Swedia yang terkenal, melainkan buatan Yugoslavia dan dilengkapi dengan radar.

Meriam tadi membidik secara otomatis dengan bantuan radar mengikuti ke mana pun pesawat terbang penyerang bermanuver. Kecanggihan yang lain, meriam tadi dapat memuntahkan peluru berturut-turut lebih dari 100 peluru ukuran 20 mm.

Kebetulan radar meriam menangkap pergerakan di angkasa. Secara otomatis meriam mengarah ke pergerakan tadi yang ternyata sekawanan burung laut terbang melintas di atas kapal. Setelah mendapat laporan dari penembak Kapten kapal memerintahkan agar tembak jatuh burung-burung tadi. Peluru-peluru pun berhamburan ke arah kawanan burung laut tadi dan asap mesiunya masuk ke ruang anjungan membuat nafas menjadi sesak termasuk juga dialami Bung Karno.

Akibat asap mesiu tadi, Bung Karno bertanya sasaran apa yang ditembak oleh meriam penangkis serangan udara. Mendapat jawaban bahwa sasaran tembak adalah kawanan burung laut yang melintas di udara, Bung Karno marah kepada kapten kapal dan menghardik mengapa makhluk hidup harus dijadikan sasaran tembak. Bung Karno pun memerintahkan agar segera menghentikan tembakan. Syukur alhamdulillah dari laporan penembak meriam ternyata tidak satu pun burung yang menjadi korban penembakan sehingga kemarahan Pangti Angkatan Perang menjadi reda. Sayang, saya lupa siapa nama kapten kapal yang terkena semprot Pangti gara-gara menembak sekawanan burung laut.

Begitulah pengalaman saya mengikuti Bung Karno meninjau tiga kapal perang Angkatan Laut kita beberapa tahun yang lalu, mudah-mudahan ALRI selalu tetap Jalesveva Jaya Mahe!


BAGIKAN






TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS