Menguber Pelaku Kriminal Siber

Opini: Seto Mulyadi

Penulis adalah ketua umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) dan dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma Jakarta.

Senin, 19 Agustus 2019 | 17:07 WIB

Berkat kemajuan teknologi komunikasi, kejahatan konvensional menjelma sebagai kejahatan siber. Pelaku dapat memangsa tanpa sama sekali pernah bertemu korbannya. Aksinya begitu cepat. Bahkan saat sudah menjadi sindikat kejahatan terorganisasi, sebagaimana jaringan pedofil online, operasi jahat mereka berlangsung begitu terstruktur, sistematis, masif, dan brutal.

Tayangan atau pun informasi tentang perilaku-perilaku tak senonoh yang sama sekali tidak patut ditonton, apalagi ditiru anak-anak, juga tumpah ruah di berbagai kanal media sosial. Bentuknya bisa berupa kampanye lesbian, gay, biseksual, transeksual (LGBT) dan orientasi menyimpang lainnya, dakwah aliran-aliran sesat, agitasi-agitasi kebencian, dan banyak lagi.

Semakin mencengangkan sekaligus menakutkan adalah, mengutip Biro Kepolisian Federal AS (FBI), generasi baru kriminal siber tidak lagi semata-mata termotivasi oleh ego dan penguasaan mereka akan teknologi. Bahkan para penjahat siber itu menemukan bahwa keahlian yang mereka miliki--seperti meretas laman populer dan menciptakan virus--ternyata juga bermanfaat untuk menghadirkan beragam kenyamanan dalam hidup. Kenyamanan pribadi di atas penderitaan orang lain, tentunya.

Jelas, kecepatan para penjahat serta perusuh siber dalam menciptakan kekacauan dan mengincar anak-anak kita tidak akan tertandingi bila pendekatan otoritas hukum masih saja tetap konvensional. Pelaku tidak akan dapat dikejar mobil atau pun motor patroli. Pelaku sudah kabur entah ke mana, bahkan menjahati anak-anak berikutnya, bila masyarakat hanya bisa meminta bantuan dengan menelepon polisi agar datang atau warga mendatangi kantor polisi. Sekali pun kantor polisi di polsek begitu dekatnya.

Atas dasar itulah, inovasi Polri dengan mengadakan patrolisiber patut diapresiasi. Patrolisiber menjadi bukti awal bahwa korps Tribrata siap tarung di gelanggang kejahatan berbasis siber. Pesan yang terkirim ke para kriminal daring adalah, “Kalian boleh berlari, namun tidak akan mampu bersembunyi. Dan bersiaplah segera masuk ke dalam bui!”

Sebagai bentuk pemanfaatan teknologi canggih, patrolisiber niscaya merupakan ruang yang amat-sangat luas untuk pengembangan terus-menerus. Salah satunya adalah bagaimana menjadikan patrolisiber benar-benar sebagai media interaktif antara pihak kepolisian dan masyarakat pelapor.

Agar ini dapat berlangsung lebih optimal, sekaligus memunculkan efek teror terhadap pelaku maupun calon pelaku yang bergentayangan di dunia siber, adalah dengan memperluas tampilan data. Ketika saat ini data yang tersaji di patrolisiber adalah jumlah kasus (laporan), ke depan data tersebut akan semakin bernilai bila juga dilengkapi dengan jumlah laporan yang sedang atau pun telah tuntas ditangani. Juga, berapa yang sudah masuk ke peradilan. Dan, tak kalah pentingnya, jenis vonis atas kasus-kasus dimaksud. Data selengkap itu akan sekaligus memberikan gambaran utuh tentang bekerjanya sistem peradilan pidana secara keseluruhan, bukan sebatas Polri.

Bentuk inovasi berikutnya yang dapat diupayakan adalah Polri mengembangkan jebakan virtual semacam Sweetie. Sweetie adalah avatar internet yang dioperasikan organisasi bernama Terre des Hommes di Amsterdam. Avatar bernama Sweetie itu diklaim dalam waktu singkat berhasil membantu polisi meringkus ribuan predator yang mengincar anak-anak sebagai objek syahwat seksual mereka. Berkat Sweetie pula, teridentifikasi dengan cepat sejumlah negara yang menjadi lokasi keberadaan “wisatawan” seks anak, yaitu, 254 di Amerika Serikat, 103 di India, Kanada (54), Australia (46), dan Jerman (44).

Avatar semacam Sweetie tentu akan bermanfaat terutama untuk tujuan pencegahan. Sebelum para bromocorah daring itu memangsa anak-anak (berikutnya), mereka bisa dipancing untuk kemudian diringkus oleh unit siber Polri.

Responsivitas Kepolisian
Kita dapat memahami bahwa membongkar tuntas kasus-kasus yang masuk ke patrolisiber tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Publik tentu dapat memakluminya. Pada titik itulah tersajinya data secara lebih komprehensif sebagaimana digambarkan sebelumnya akan memperlihatkan posisi kendala-kendala penanganan yang mungkin muncul: apakah di institusi kepolisian atau di lembaga-lembaga penegakan hukum lainnya. Secara khusus, data rasio antara laporan yang masuk dan laporan yang tertangani juga merupakan bentuk transparansi institusi kepolisian kepada publik -- salah satu elemen penting dalam perpolisian demokratis.

Pada akhirnya, ada harapan yang seketika muncul seiring dengan peluncuran patrolisiber. Harapan itu terkait dengan waktu reaksi lembaga kepolisian. Konkretnya, Polri diharapkan akan mempunyai tempo kerja lebih cepat lagi dalam mengambil langkah-langkah penegakkan hukum terhadap bentuk-bentuk kriminalitas berbasis siber. Kecepatan, di samping konsistensi kerja, merupakan prasyarat bagi terbentuknya efek jera dan sekaligus efek tangkal. Ini yang tentu saja sangat diharapkan oleh masyarakat kita.

Semoga.