Sejumlah Pemilik Suara Tolak Calon Tunggal Musornas KONI

Sejumlah Pemilik Suara Tolak Calon Tunggal Musornas KONI
Mantan Ketua Umum PSSI La Nyalla Mattalitti.
Hendro D Situmorang / CAH Kamis, 27 Juni 2019 | 07:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sejumlah pemilik hak suara (voters) dalam pemilihan Ketua Umum (Ketum) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Pusat 2019-2023 terganggu dengan isu akan adanya aklamasi pada Musyawarah Organisasi Nasional Luar Biasa (Musornaslub) 2 Juli mendatang. Voters tak ingin bursa calon Ketum KONI Pusat hanya diikut oleh satu calon tunggal saja.

Wakil Ketua Umum KONI Jawa Timur, La Nyalla Mahmud Mattalitti mengatakan ajang pemilihan Ketua KONI Pusat periode 2019-2023, hendaknya terbuka kepada siapa pun bagi caketum yang akan ikut meramaikan ajang ini dan harus mendengarkan aspirasi para anggotanya.

"Jangan jadi belenggu dengan menerapkan syarat-syarat yang memberatkan para caketum yang akan mencalonkan diri. Jika ada lebih dari satu calon biarkan bertanding dengan sportif. Jangan ada upaya pengkondisian hanya satu calon saja. Dengarkan aspirasi para anggotanya," kata La Nyalla Mattalitti ketika dihubungi Rabu (26/6/2019) malam.

Hal itu disampaikannya menanggapi keputusan tim penjaringan dan penyaringan bakal calon ketua umum KONI Pusat periode 2019-2023 yang hanya meloloskan satu calon, Letjen TNI (Purn) Marciano Norman. Sementara calon lainnya Muddai Madang dinyatakan tak lolos karena tak memenuhi dokumen persyaratan.

Dikatakan, jika nantinya musornas hanya diikuti oleh satu calon saja, maka dikhawatirkan muncul sikap otoriter bagi calon yang terpilih secara aklamasi.

"Maka dari itu fungsi dari Tim Penjaringan dan Penyaringan juga harus bersikap lebih fair. Mereka tugasnya bukan menyeleksi calon tapi hanya merekomendasikan calon untuk kemudian diserahkan kepada rapat pleno dalam musornas nanti. Jadi yang memutuskan calon itu berhak atau tidak untuk maju adalah melalui forum bukan oleh Tim Penjaringan dan Penyaringan yang dibentuk KONI Pusat," ungkap nmantan Ketua Umum PSSI itu.

La Nyalla menegaskan bahwa kewenangan tertinggi ada pada peserta Musornas karena di situlah demokrasi akan berjalan. Intinya Tim Penjaringan dan Penyaringan bukan memposisikan sebagai penyeleksi. Menurutnya, semakin banyak caketum yang maju semakin banyak pilihan alternatif bagi para voters atau anggota KONI Pusat demi kemajuan KONI Pusat ke depan.

Hal senada diungkapkan Sekjen KONI Sulawesi Utara, Tonny. Dia juga menolak calon tunggal atau aklamasi pada musornas KONI pada 2 Juli mendatang.

"Saya tidak setuju kalau calon tunggal karena tidak demokratis dan tidak sportif. Sebaiknya minimal dua calon atau lebih agar ramai ," ujar Tonny. 



Sumber: Suara Pembaruan