Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Siti Nurbaya dan Trenggono Minta Pendapat Ahli Susun Strategi Pengembangan Blue Carbon

Kamis, 6 Mei 2021 | 09:49 WIB
Oleh : Jeis Montesori / JEM

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya bersama Menteri Kelautan dan Perikanan (KK) Sakti Wahyu Trenggono, meminta masukan kepada para ahli terkait upaya memasukkan blue carbon (karbon biru) menjadi salah satu strategi penurunan emisi untuk memenuhi target Nationally Determined Contribution (NDC) pada tahun 2030.

Para ahli yang diminta pendapatnya adalah Daniel Murdiyarso The Center for International Forestry Research (Cifor)-Institut Pertanian Bogor (IPB), Anastasia Rita Tisiana Dwi Kuswardani dari Pusat Riset Kelautan KKP, Rohani Ambo Rappe dari Universitas Hasanuddin (Unhas), dan Haruni Krisnawati dari Badan Litbang dan Inovasi KLHK.

"Masukan dari para ahli sangat dibutuhkan oleh para eksekutif khususnya di KLHK dan KKP untuk dapat dijadikan sebagai sumber ilmiah terhadap suatu kebijakan. Blue carbon memiliki peran yang penting dan proses inventarisasi GRK (gas rumah kaca) sudah harus membedakan antara ekosistem blue carbon dan ekosistem hutan daratan, agar blue carbon memilki tempat khusus dan perkiraan penyerapan emisi GRK dan pelaporan emisi GRK akan menjadi lebih akurat pada tingkat nasional," kata Meneri Siti saat membuka diskusi dengan para ahli secara virtual, Selasa (5/5/2021).

Dalam diskusi bertema "Executive Brief: State of The Art Blue Carbon di Indonesia” ini, Siti mengharapkan dapat memberikan pemahaman yang sama antar-Kementerian/Lembaga (K/L) terutama KLHK dan KKP mengenai status terkini dari konsep dan strategi pengembangan blue carbon.

Karbon biru merupakan karbon yang ditangkap dan disimpan di samudra dan ekosistem pesisir, termasuk karbon pantai yang tersimpan di lahan basah pasang surut, seperti hutan yang dipengaruhi pasang surut, bakau, rawa pasang surut dan padang lamun, di dalam tanah, biomassa hidup dan sumber karbon biomassa yang tidak hidup. Seperti namanya, karbon ini berwarna biru, karena terbentuk di bawah air.

“Pertemuan ini sangat penting, karena akan menjadi titik tolak langkah awal untuk meningkatkan langkah-langkah kita dalam pencapaian NDC maupun dalam mengatasi emisi karbon,” kata Menteri Siti.

Sementara itu, Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono meminta agar secara bersama-sama dapat merumuskan dan menyepakati kebijakan terkait blue carbon di Indonesia dengan ekosistem berupa mangrove, padang lamun, dan rawa payau.

Menteri Trenggono juga mendorong penelitian-penelitian lebih lanjut terkait blue carbon yang dilakukan KLHK, KKP, LIPI dan lembaga penlitian lainnya, untuk dijadikan dasar ilmiah dalam suatu kebijakan. Dirinya juga mengharapkan ekosistem laut dan pesisir dapat dijaga kelestariannya, agar dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Kita juga harus melihat bahwa blue carbon juga dapat dimanfaatkan sebagai mekanisme untuk menciptakan nilai ekonomi melalui perdagangan karbon. Serta kita harus bersama-sama memastikan bahwa indeks kesehatan laut Indonesia dapat meningkat. Saat ini indeks ada di angka 65 atau menempati ranking 137 dari 221, dan ke depan harapannya angka tersebut dapat meningkat hingga 76 pada tahun 2024,” terang Menteri Trenggono.

Dijelaskan, ekosistem blue carbon yang didalamnya berupa ekosistem pesisir terutama mangrove, padang lamun dan kawasan rawa payau merupakan ekosistem penyerap serta penyimpan karbon alami dalam jumlah besar dan dalam waktu yang lama. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki luas kawasan mangrove 3,2 juta hektare (ha) dan luas padang lamun 3 juta ha. Dengan luasan tersebut ekosistem blue carbon, Indonesia dapat menyimpan hingga 17% dari cadangan blue carbon dunia sehingga memiliki peranan yang sangat penting dalam mengurangi perubahan iklim.

NIlai Ekonomi Tinggi
Pada kesempatan itu, Daniel Murdiyarso menyampaikan bahwa nilai ekonomi dari ekosistem blue carbon sangat tinggi. Ia mencontohkan salah satunya adalah mangrove yang nilainya dapat mencapai lebih dari 90.000 dolar Amerika Serikat per ha. Nilai ini bukan hanya dari kemampuan mangrove dalam menyerap karbon, tetapi juga jasa lingkungan yang dapat diberikan seperti pencegah abrasi dan kenaikan tinggi muka air laut, industri perikanan, dan ekowisata.

“Ekosistem blue carbon menyediakan barang dan jasa lingkungan dengan spektrum yang lebar, karbon salah satunya dan itu sangat penting bagi Indonesia dan dunia. Kerangka peraturan dan tata kelola perlu disusun berdasarkan data dan informasi yang handal, dan mengarusutamakan blue carbon ini memerlukan political will yang kuat agar dapat mencapai tujuan agenda global dan nasional,” katanya.

Sementara Haruni Krisnawati menerangkan bahwa laju pertumbuhan mangrove yang tinggi ditambah dengan kondisi anaerobik, tergenang air yang akan berdampak pada proses pembusukan yang lambat, sehingga akan menghasilkan penyimpanan karbon jangka panjang yang besar.

Mengingat peran mangrove yang signifikan sebagai penyerap karbon yang besar, maka mencegah hilangnya mangrove menjadi strategi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang efektif. Untuk itu, upaya rehabilitasi mangrove akan meningkatkan kontribusi Mangrove dalam penurunan emisi GRK.

“Terdapat tantangan berupa dinamika perubahan luas hutan mangrove seperti ekspansi pembangunan kawasan pesisir, tambak, pemenuhan kebutuhan kayu, arang, seringkali menjadi faktor pendorong berkurangnya luasan hutan mangrove yang akan berdampak pada meningkatnya emisi GRK,” kata Haruni.

Sedangkan Rohani Ambo Rappe membagikan pengetahuan dan pengalamannya terkait padang lamun. Ia menjelaskan bahwa kumpulan dari tumbuhan berbunga yang membentuk padang tersebut sepenuhnya dapat hidup terbenam di perairan laut.

"Lamun juga berperan sebagai penyedia makanan dan habitat berbagai organisme laut termasuk yang bernilai ekologi dan ekonomi penting, seperti penyu, dugong, kepiting, udang, dan berbagai juvenil ikan. Lamun memiliki kemampuan untuk menyerap karbon dari atmosfir (fotosintesis), sehingga dapat memitigasi perubahan iklim dari penyebab emisi karbon yang berlebihan," katanya.

Sementara itu Anastasia mengungkapkan bahwa laut menyerap lebih banyak panas matahari sebanyak 93% daripada yang dapat diserap oleh daratan. Melalui sirkulasi arus, panas terdistribusi dari lintang rendah ke lintang tinggi, dan ke laut dalam, menentukan pola hujan dan temperatur permukaan, yang kemudian berpengaruh terhadap iklim regional.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Pantau Penanganan Covid-19 di Jambi, Doni Monardo Tempuh Jalur Darat dari Palembang

Doni melakukan kunjungan kerja untuk memantau penanganan Covid-19 di Jambi dari Palembang, hari ini, melalui jalur darat.

NASIONAL | 6 Mei 2021

Wamenag: Tidak Mudik Lebaran Sama dengan Berjihad untuk Kemanusiaan

Tidak mudik Lebaran di tengah pandemi sama dengan berjihad untuk kemanusiaan.

NASIONAL | 6 Mei 2021

Hujan Disertai Petir dan Angin Kencang Diprakirakan Melanda 28 Wilayah

Waspada juga adanya potensi genangan di berbagai wilayah Indonesia yang bisa menyebabkan banjir dan tanah longsor.

NASIONAL | 6 Mei 2021

Sekolah Pelita Harapan Terapkan Checklist untuk Pembelajaran Tatap Muka

Sekolah Pelita Harapan memberikan checklist agar orang tua mempunyai gambaran persiapan yang harus mereka lakukan untuk pembelajaran tatap muka.

NASIONAL | 6 Mei 2021

Jokowi Temui Nelayan di Jawa Timur

Presiden Jokowi akan meninjau sarana dan prasarana fasilitas perikanan tersebut serta berdialog dengan perwakilan nelayan setempat.

NASIONAL | 6 Mei 2021

Kunjungi Jawa Timur, Jokowi Tinjau PPDI dan Resmikan Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Listrik

Presiden Jokowi diagendakan meninjau PPDI di Lamongan dan meresmikan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik di Surabaya, Jawa Timur.

NASIONAL | 6 Mei 2021

Dapat Jaminan Zaskia dan Shireen, Terdakwa Korupsi Mark Sungkar Jadi Tahanan Kota

Pengalihan status penahanan Mark Sungkar menjadi tahanan kota dilaksanakan pada pukul 17.00 WIB di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung.

NASIONAL | 5 Mei 2021

Wagub Jatim Sebut Sejak April 2021, Kedatangan Pekerja Migran Capai 900 Orang Per Hari

Emil Dardak mengatakan kedatangan Pekerja Migran Indonesia di provinsinya sejak April hingga 4 Mei sudah mencapai 900 per hari.

NASIONAL | 5 Mei 2021

DPR Ingatkan Pemerintah Siapkan Skenario Terburuk Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19

Anggota Komisi IX DPR Charles Honoris mengingatkan pemerintah untuk mempersiapkan skenario terburuk untuk mengantisipasi lonjakan penularan Covid-19.

NASIONAL | 5 Mei 2021

Hendardi: Kegagalan 75 Pegawai KPK Lolos Tes ASN Tak Perlu Diperdebatkan

Kegagalan 75 pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lolos dalam asesmen tes wawasan kebangsaan (TWK) merupakan hal lumrah dan tak perlu diperdebatkan.

NASIONAL | 5 Mei 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS