Logo BeritaSatu

Teluk Jakarta, Minamata, dan Membenahi 13 DAS

Minggu, 24 Januari 2021 | 09:22 WIB
Oleh : Heriyanto / HS

Jakarta, Beritasatu.com - Saat ini nelayan-nelayan Jakarta Utara yang tersebar di Kalibaru, Marunda, Cilincing, Kamalmuara, dan Muara Angke mengaku menangkap ikan harus membawa perahu jauh ke tengah laut, namun dengan risiko biaya bahan bakar lebih mahal terlebih lagi, termasuk harus menghadapi kondisi cuaca di tengah laut yang sulit diprediksi.

Asep (40) mengaku kalau penghasilan harian dari mencari kerang sepuluh tahun lalu sanggup mencapai Rp 200 ribu, namun kini hanya bisa mengantongi Rp 50 ribu. Sebenarnya menurut dia, kalau dipaksa bekerja satu hari penuh bisa menghasilkan Rp 100 ribu, namun tentunya membutuhkan fisik yang prima.

Para nelayan mengaku kualitas perairan yang semakin buruk menjadi penyebab turunnya hasil tangkapan. Menurut mereka di dasar laut Teluk Jakarta kini sudah penuh dengan lumpur membuat sulit untuk memanen kerang. Mereka akhirnya lebih memilih ke perairan dengan kedalaman di atas 15 meter tentunya dengan berbagai risiko.

Soal kerusakan lingkungan ini juga dapat dilihat dari matinya ribuan ikan di pesisir Teluk Jakarta sepanjang 2020 yang mencapai lima kasus. Kasus kematian ikan itu terjadi di perairan Marunda, Kalibaru dan Cilincing.

Peristiwa itu membuat Sudin Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Pemprov DKI Jakarta bekerja sama dengan Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD), Dinas Kebersihan, serta Dinas Perindustrian dan Energi meneliti kualitas perairan di Teluk Jakarta untuk mencari penyebab dan sumber pencemaran. Pencemaran yang bersumber dari sungai-sungai di Jakarta dituding menjadi penyebab matinya biota laut sehingga membuat nelayan di pesisir Jakarta semakin sulit untuk menangkap ikan.

Hasil riset dari kolaborasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, IPB University dan Universitas Terbuka menyebutkan lingkungan di perairan Teluk Jakarta perlu dikelola dengan cara-cara yang lebih bertanggungjawab melalui pendekatan dari berbagai unsur.

Hasil penelitian itu menyebut terdapat tujuh tipe dan 19 kategori sampah yang masuk ke perairan Teluk Jakarta melalui sungai di Marunda dan Cilincing selama periode Maret sampai dengan April 2020. Disebutkan, sebanyak 23-28 persen limbah yang masuk ke perairan masih berasal dari plastik.

Tak hanya itu, seperti ditulis Antara, Sabtu (23/1/2021) masih dari penelitian itu volume sampah yang masuk perairan meningkat sebanyak lima persen. Meskipun dari segi berat terjadi penurunan sebanyak 23 sampai 28 persen.

Pencemaran yang terjadi di Teluk Jakarta sudah saatnya dilakukan perbaikan tentunya melibatkan masyarakat dan sektor industri agar semakin sadar tidak lagi membuang sampah dan limbah ke sungai.

Peristiwa pencemaran Teluk Minamata Jepang pada 1958 seharusnya menjadi pembelajaran, kewajiban memelihara lingkungan tak bisa diserahkan seluruhnya kepada pemerintah. Masyarakat dan sektor usaha juga memiliki tanggung jawab besar untuk memelihara lingkungan.
Mungkin banyak yang melupakan peristiwa Minamata yang kini dikenal dengan nama sindrome Minamata. Peristiwa itu terjadi saat perairan di Teluk Minamata Jepang tercemar logam berat merkuri dengan kode kimia Hg. Saat itu, muncul wabah aneh yang membuat warga di Perfektur Kumamoto jatuh sakit bahkan meninggal dunia.

Saat ini, orang-orang yang mengalami penyakit (biasanya yang diserang hati) akibat tercemar logam berat disebut dengan sindrom Minamata. Penyakit ini selain menimbulkan cacat seumur hidup karena penderita tergantung kepada obat juga bisa mengakibatkan kematian.

Paling mudah mengetahui adanya pencemaran di perairan adalah dengan melakukan penelitian terhadap kerang hijau. Hewan ini memiliki kemampuan beradaptasi di perairan yang tercemar logam berat. Kalau kandungan merkuri dalam hewan ini sudah terlalu tinggi maka patut diwaspadai perairan ini sudah tercemar.

Bagi nelayan Teluk Jakarta tentunya tidak paham soal ini. Mereka hanya tahu bahwa hasil tangkapannya terus turun. Bahkan kalau ingin mendapat hasil yang lebih banyak, berarti mereka harus lebih berani lagi ke tengah laut dengan biaya operasi lebih tinggi dan harus berhadapan dengan ganasnya cuaca di tengah laut.

Pekerjaan nelayan yang telah dijalankan turun temurun kini semakin terancam. Mereka merupakan pelaut dan penyelam tangguh, namun dengan kualitas perairan yang semakin buruk membuat mereka semakin tersingkir.
Beberapa sudah ada yang mulai berbisnis sampingan selain melaut, entah berjualan air bersih, menjadi tukang ojek atau pekerja bangunan. Semua itu dijalani agar sekedar bisa bertahan hidup.

Kunci untuk membantu para nelayan ini sebenarnya bisa diawali dengan menjaga lingkungan. Penegakan hukum agar tidak membuah limbah sembarangan menjadi hal utama agar hewan laut kembali lagi ke perairan ke Teluk Jakarta.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# Deddy Corbuzier


# UAS


# Timnas Indonesia


# Minyak Goreng


# Lin Che Wei


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Wamendag: Bangga Buatan Indonesia Jangan Hanya Jadi Slogan

Wamendag: Bangga Buatan Indonesia Jangan Hanya Jadi Slogan

EKONOMI | 8 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings