Pakar: Vaksin Covid-19 Jadi Sia-Sia Tanpa Protokol Kesehatan
Logo BeritaSatu

Pakar: Vaksin Covid-19 Jadi Sia-Sia Tanpa Protokol Kesehatan

Jumat, 15 Januari 2021 | 18:14 WIB
Oleh : Dina Fitri Anisa / YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo beserta tim Gugus Tugas Covid-19 seringkali menghimbau masyarakat bahwa, vaksin dan protokol kesehatan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan untuk memutus rantai penularan. Sehingga, vaksinasi tanpa mentaati protokol kesehatan adalah sebuah kesia-siaan.

Dokter spesialis penyakit dalam Siloam Hospitals Lippo Village Dr dr Benyamin Lukito, Sp.PD mengatakan bahwa, rata-rata kekebalan tubuh terhadap Covid-19 dapat terbentuk secara optimal setelah penyuntikan dosis kedua vaksin. Penyuntikkan vaksin Sinovac ke dua berdurasi 14 hari setelah penyuntikkan pertama.

“Pembentukan antibodi tidak bisa secara langsung. Penyuntikkan dosis pertama vaksin ini bertujuan untuk merangsang sistem kekebalan tubuh agar dapat membentuk antibodi dalam melawan penyakit Covid-19,” terangnya, Kamis (14/1).

Dengan demikian, protokol sangat diperlukan untuk memproteksi diri dan orang lain dari penyebaran virus Covid-19. Mengingat, orang yang telah divaksin masih bisa atau ada kemungkinan terinfeksi Covid-19 jika tidak menerapkan protokol kesehatan dengan baik.

“Tingkat efektivitas vaksin Covid-19 buatan Sinovac China di Indonesia 65,3 persen, jadi masih ada 34,7 persen yang belum efektif. Jadi tetap saja, masih bisa kena (Covid-19) dan bisa menularkan ke orang lain. Jadi prokes itu penting,” jelasnya.

Pendapat tersebut diperkuat oleh Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin dari Profesor Nidom Foundation (PNF), Prof dr Chairul Anwar Nidom yang mengatakan bahwa, vaksin ini bukan untuk membunuh atau menghilangkan virus dari muka bumi, tapi hanya untuk menurunkan angka kesakitan (morbiditas) yang selanjutnya baru diharapkan bisa menurunkan angka kematian (mortalitas).

Bahkan, Nidom mengingatkan bahwa program vaksinasi ini bisa menjadi boomerang bagi masyarakat apabila tidak dilaksanakan dengan serius, dan masyarakatnya mengabaikan prokes. Mengingat, dari aspek sains vaksin ini dapat mendorong mutasi virus lebih cepat. Mengingat, cara bekerja vaksin adalah menjebak virus yang sengaja dimasukkan ke dalam tubuh manusia dengan cara menetralkan keganasannya dengan antibodi.

“Virus filosofinya tidak mau mati sia-sia. Virus yang terjebak di dalam akan meliuk menjadi varian baru yang bisa mengatasi antibodi di tubuh seseorang. Hal ini disebut dengan virus escape mutant. Hal ini dicontohkan dengan virus influenza, sehingga vaksin influenza perlu diperbarui setiap tahun,” jelasnya.

Sementara 3M menghalangi virus masuk ke dalam tubuh sehingga virus mati dengan sendirinya di udara. Dengan demikian, Nidom lebih menganjurkan masyarakat untuk memproteksi diri dari Covid-19 dengan menggunakan masker, mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, dan juga menghindari kerumunan.

Namun sayangnya, masih ada sebagian masyarakat, bahkan figur publik yang masih melalaikan hal ini. Seperti, kontroversi kasus perwakilan millennial yang ditunjuk Presiden Joko Widodo, Raffi Ahmad sebagai salah satu penerima vaksin perdana.

Diketahui, Raffi Ahmad menghadiri sebuah pesta ulang tahun pendiri KFC Indonesia, Ricardo Gelael yang berlokasi di kawasan Mampang, Jakarta Selatan. Raffi beserta tamu undangan lainnya, termasuk sang istri, Nagita sedang berfoto dengan tidak melakukan protokol kesehatan seperti memakai masker ataupun menjaga jarak.

Atas kejadian tersebut, peneliti pandemi dari Griffith University Australia, Dicky Budiman pun berkomentar. Ia mengatakan bahwa, pemilihan tokoh ataupun influencer untuk menyukseskan program vaksinasi tidak boleh asal pilih.

Pemerintah harus menggunakan data ilmiah yang melibatkan para ahli pandemi. Apabila kriteria pemilihan influencer atau tokoh tersebut tidak berdasarkan data ilmiah, maka akan menimbulkan dampak kontradiktif.

“Artis itu tidak dalam posisi yang cukup tepat dari pada kampanye vaksinasi di masa pandemi ini. Ini yang harus dipahami, karena bisa menjadi boomerang. Karena sering kali, dan terbukti mereka tidak memahami. Dalam situasi pro kontra, kesalahan memilih (influencer) malah menjadi kontraproduktif,” jelasnya melalui pesan suara yang dikirimkan kepada Suara Pembaruan, Kamis (14/1/2021).

Ia menjelaskan, tokoh atau influencer yang tepat untuk menggaungkan kampanye vaksinasi ada dua. Pertama adalah politisi berpengaruh, dan juga tokoh kesehatan yang bisa dipercaya penjelasannya oleh media dan publik.

Selain itu, Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital, Firman Kurniawan mengatakan, awalnya Raffi Ahmad terpilih mengingat dirinya dianggap mewakili anak muda, yang jumlahnya menurut data demografi mencapai 35% dari keseluruhan populasi penduduk Indonesia. Sehingga kelompok yang jumlahnya signifikan ini bersedia menerima vaksinasi tanpa ragu, lewat keteladanan Raffi, dalam mengendalikan penularan, yang lajunya makin tinggi.

Namun, ia mengatakan bahwa alangkah sangat disayangkannya jika semiotika vaksinasi tak ditangkap oleh Sang Pesohor, dengan berpesta tanpa protokol kesehatan.

“Para perencana vaksinasi akan sia-sia menunjuk personal teladan jika di kemudian hari kedapatan tertular, akibat abai protokol terhadap kesehatan pasca vaksinasi,” jelasnya.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Rizieq dan Menantu Diperiksa Sebagai Tersangka Kasus Swab

Rizieq diperiksa bersama dengan Muhammad Hanif Alatas (menantu Rizieq) yang juga jadi tesangka dalam kasus swab di RS Ummi Bogor.

NASIONAL | 15 Januari 2021

Anggota Komisi VII DPR Minta Vaksin Merah Putih Segera Diproduksi

Kehadiran vaksin Merah Putih dinilai penting agar Indonesia tidak tergantung vaksin impor.

NASIONAL | 15 Januari 2021

PT PPI Distribusikan Sodium Sianida Sesuai GCG

PPI sebagai BUMN perdagangan, mengelola importasi sodium sianida atau sodium cyanide sesuai Peraturan Menteri Perdagangan nomor: 47 tahun 2019.

NASIONAL | 15 Januari 2021

Beacon dan Badan CVR Sriwijaya Air Sudah Ditemukan, Memori CVR Masih Dicari

Memori CVR berisi percakapan di kokpit.

NASIONAL | 15 Januari 2021

Novel Baswedan Harap Komjen Listyo Sigit Berani Reformasi Polri

Novel Baswedan menaruh harapan besar kepada Komjen Listyo Sigit agar dapat melakukan reformasi di internal Polri.

NASIONAL | 15 Januari 2021

Jokowi Dukung Pendirian Universitas Insan Cita Indonesia

Jokowi menegaskan, pendirian Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) akan memperkaya inovasi pendidikan tinggi di Indonesia.

NASIONAL | 15 Januari 2021

Kasus Grabtoko.com, Polisi Periksa Supervisor

Pelaku melancarkan aksinya dengan cara membuat sebuah situs GrabToko yang menawarkan berbagai macam barang elektronik dengan harga sangat murah.

NASIONAL | 15 Januari 2021

Tak Penuhi Syarat Kesehatan, Wali Kota Yogyakarta Gagal Divaksin

Haryadi Suyuti dan 13 pejabat publik yang masuk dalam daftar penerima vaksin perdana, gagal menerima suntikan vaksin karena tidak memenuhi syarat.

NASIONAL | 15 Januari 2021

Jokowi Dorong Kontribusi KAHMI di Tengah Pandemi

Jokowi meminta anggota KAHMI untuk ikut berkontribusi dalam mengembangkan inovasi bagi kemajuan Indonesia.

NASIONAL | 15 Januari 2021

Petani Kaur di Bengkulu Tewas Diserang Kera Liar

Terjadi perkelahian hebat antara korban dan kera liar tersebut. Korban Tuslah mengalami luka besar di bagian dada sebelah kiri.

NASIONAL | 15 Januari 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS