Logo BeritaSatu

Awal 2021, Waspadai Curah Hujan Tinggi

Selasa, 29 Desember 2020 | 22:14 WIB
Oleh : Ari Supriyanti Rikin / EAS

Jakarta, Beritasatu.com - Masyarakat perlu mewaspadai kondisi cuaca ekstrem yang ditandai curah hujan di atas normal pada puncak musim hujan Januari hingga Februari 2021. Hal ini mengacu pada prakiraan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyebut pada periode puncak, curah hujan bisa mencapai 300 milimeter per bulan( masuk kategori sangat lebat).

Kepala Sub Bidang Prediksi Cuaca BMKG Muhammad Fadli mengatakan, puncak musim hujan sebagian besar wilayah Indonesia terjadi pada Januari-Februari 2020. Sementara untuk prediksi curah hujan 300 milimeter per bulan sejak Desember 2020-Januari 2021 berpeluang terjadi di wilayah pesisir Sumatera Barat, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Kalimantan bagian barat dan tengah, Sulawesi, sebagian Maluku, Maluku Utara, sebagian Papua Barat, dan Papua.

"Perlu diwaspadai curah hujan di atas normal yang dapat berpeluang terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, sebagian besar Sulawesi, Jawa, NTB, NTT, Maluku dan Papua," kata Fadli dalam konferensi pers virtual kaleidoskop bencana 2020, di Jakarta, Selasa (29/12/2020).

Sementara berdasarkan data, khusus untuk kejadian cuaca ekstrem di Indonesia pada 2020 didominasi hujan lebat 1.425 kejadian, lalu diikuti hujan es 10 kejadian, puting beliung 188 kejadian, angin kencang 456 kejadian, dan suhu ekstrem 3 kejadian. Kejadian cuaca ekstrem paling banyak di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Fadli menambahkan, pada 2020 juga terjadi 19 siklon tropis di sekitar Indonesia, yang terdiri dari 13 siklon tropis di wilayah belahan bumi utara dan 6 siklon di belahan bumi selatan. Bahkan salah satu siklon yang tumbuh di dekat wilayah Indonesia diberi nama Mangga. Penamaan ini menjadi kewenangan Indonesia memberi nama karena siklon tumbuh di wilayah Indonesia.

"Dampak siklon Mangga yang tumbuh di Indonesia yakni hujan lebat, angin kencang dan gelombang tinggi," ucapnya.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo juga mengungkapkan, Indonesia menurut para ahli ibarat supermarket bencana, semua potensi bencana ada di Indonesia. Bahkan menurut World Bank, Indonesia menjadi satu dari 35 negara dengan tingkat risiko ancaman bencana tertinggi.

Awal 2021, Waspadai Curah Hujan Tinggi

Data BNPB dari 1 Januari-28 Desember 2020 telah terjadi 2.925 kejadian bencana. Dari jumlah kejadian bencana tersebut bencana hidrometeorologi masih mendominasi. Bencana hidrometeorologi tersebut terdiri dari banjir 1.065 kejadian, puting beliung 803, tanah longsor 572, bencana lainnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 326, gelombang pasang abrasi 36, kekeringan 29, gempa 16, erupsi gunung api 7 kejadian.

"Dari total bencana sepanjang 2020, dampak orang meninggal 370 jiwa, hilang 39 orang, luka-luka 536 orang, serta dampak kerusakan tempat tinggal dan infrastuktur publik lainnya," ungkapnya.

Bencana Covid-19
Selain dilanda bencana alam, 2020 Indonesia dan dunia dilanda bencana nonalam yakni pandemi Covid-19. Di tengah pandemi Covid-19 perlindungan kelompok rentan di pengungsian harus diperhatikan. Doni menjelaskan, pengelolaan tempat pengungsian harus dikontrol mulai dari sanitasi, air bersih, MCK, dapur lapangan, petugas kesehatan, makanan bayi dan ibu hamil dan kaum difabel. Selain itu mitigasi dini risiko bencana perlu dilakukan.

"Kita belum tahu kapan Covid-19 berakhir. Namun di tengah dinamika yang terjadi kita lihat ada langkah-langkah positif," imbuhnya.

Meski begitu, lanjutnya, kedisiplinan kolektif menjalankan protokol kesehatan sangat diperlukan. Sebab pada akhir September 2020 angka kasus aktif mampu ditekan di angka 12,12 %. Hal ini terjadi berkat sinergi pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat dengan disiplin protokol kesehatan.

Tetapi selama satu bulan terakhir ini, tambah Doni, mulai terlihat adanya penurunan dari angka kepatuhan terhadap protokol kesehatan, sehingga kasus kesembuhan mengalami penurunan. Semula angka kesembuhan pada 10 November 2020 berada posisi 84,57 % namun saat ini menurun sebanyak 2,75 % menjadi persen 81,82 %.

"Upaya untuk menekan kasus ini harus betul-betul dilakukan serentak dan bersama-sama," imbuhnya.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Suara Pembaruan

BAGIKAN

BERITA LAINNYA


TAG POPULER

# Deddy Corbuzier


# UAS


# Timnas Indonesia


# Minyak Goreng


# Lin Che Wei


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Uni Eropa Dukung Indonesia Terapkan Penerbangan Ramah Lingkungan

Uni Eropa Dukung Indonesia Terapkan Penerbangan Ramah Lingkungan

NEWS | 7 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2022 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings