Pertanian Sayur Organik Selamatkan Petani Bengkulu dari Dampak Pandemi Covid-19
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 513.144 (-1.14)   |   COMPOSITE 6258.75 (-10.28)   |   DBX 1361.34 (-0.65)   |   I-GRADE 179.18 (-0.62)   |   IDX30 502.509 (-1.33)   |   IDX80 134.874 (0.02)   |   IDXBUMN20 393.542 (-2.05)   |   IDXESGL 138.721 (0.08)   |   IDXG30 140.869 (-0.28)   |   IDXHIDIV20 444.908 (-0.07)   |   IDXQ30 144.657 (-0.05)   |   IDXSMC-COM 296.3 (0.74)   |   IDXSMC-LIQ 351.212 (3.56)   |   IDXV30 132.413 (1.76)   |   INFOBANK15 1051.36 (-9.47)   |   Investor33 433.839 (-1.51)   |   ISSI 179.41 (0.06)   |   JII 608.801 (0.64)   |   JII70 214.954 (0.38)   |   KOMPAS100 1205.85 (-1.58)   |   LQ45 941.363 (-1.13)   |   MBX 1692.14 (-3.13)   |   MNC36 321.868 (-1.1)   |   PEFINDO25 321.871 (0)   |   SMInfra18 304.318 (3.57)   |   SRI-KEHATI 368.746 (-1.3)   |  

Pertanian Sayur Organik Selamatkan Petani Bengkulu dari Dampak Pandemi Covid-19

Jumat, 27 November 2020 | 11:17 WIB
Oleh : Usmin / JEM

Bengkulu, Beritasatu.com - Jarum jam sudah menunjukan pukul 10.00 WIB, tetapi kedua wanita itu tetap asyik mencangkul tanah dan membersihkan tanaman sayur organik di kawasan Padang Harapan, Kota Bengkulu. Sinar matahari terhalang awan tebal seakan mau turun hujan, sehingga cuaca tidak terlalu panas dan kedua wanita tetap bertahan di lahan pertanian mereka.

Keduanya seperti tidak menghiraukan akan isyarat mau turun hujan lebat, tetapi terus saja mencangkul tanah dan membersihkan tanaman sayur yang masih muda agar bisa bertumbuh dengan baik. Dua wanita tersebut bernama Hartina (36) dan Mulyani (43), mereka bagian dari puluhan petani sayur organik yang ada di Kota Bengkulu.

Hartina dan Mulyani bersama 6 orang petani lainnya menggarap lahan sekitar 0,5 hektare di kawasan Padang Harapan, Kota Bengkulu. Lahan seluas 5.000 meter persegi ini mereka tanam dengan tiga jenis sayuran, yakni bayam, kangkung, dan sawi.

Tanaman sayur yang mereka kembangkan ini menggunakan pupuk organik terbuat dari kotoran hewan, sehingga bila dikonsumsi aman terhadap kesehatan karena tidak mengandung zat kimia.

Di atas lahan seluas 0,5 hektare ini mereka buat puluhan petak-petak berukuran 3 x 6 meter. Dari puluhan petak itu, mereka tanami sayur bayam, kangkung dan sawi. Usaha tanaman sayur organik yang digeluti Hartina dan kawan-kawan ini dimulai sejak tahun 2015 lalu dan sampai kini berjalan lancar meski dalam suasana pandemi virus corona atau Covid-19.

"Kami bersyukur Mas, meski sekarang masyararakat dilanda kesulitan ekonomi sebagai dampak penyebaran virus corona di Tanah Air, termasuk di Bengkulu, tapi usaha yang kami geluti menanam sayur organik tetap berjalan lancar, sehingga kesulitan ekonomi rumah tangga dapat diteratasi meski pas-pasan dari hasil panen sayur tersebut," kata Hartina kepada Beritasatu.com, di Bengkulu, Jumat (27/11/2020).

Tanaman sayur organik yang mereka kembangan tersebut, hasil panen dalam setiap petaknya berbedah bergantung dengan jenis sayur yang ditanam. Hasil panen tanaman kangkung dalam satu petak menghasilkan sekitar Rp 300.000. Pendapatan ini jika petani jual kepada pedagang keliling, tapi kalau menjual sendiri ke pasar bisa dapat uang Rp 400.000/petak.

Sedangkan hasil tanaman sayur bayam dan sawi dalam satu petak bisa mencapai Rp 500.000, tapi jika petani yang menjual sendiri ke pasar dalam satu petak bisa menghasilkan uang Rp 600.000. Namun, kebanyakan hasil panen mereka langsung dijual kepada pedagang keliling.

Sebab, kalau hasil panen dijual sendiri ke pasar repot tidak ada waktu lagi untuk menggarap lahan untu ditanami lagi. Karena itu, mayoritas hasil panen sayur organik di Kota Bengkulu, dijual petani ke pedagang keliling.

Dari hasil panen kangkung sebesar Rp 400.000/petak jika dikurangi biaya operasional termasuk beli bibit dan pupuk sebesar Rp 150.000, maka dalam satu petak petani memperoleh penghasilan bersih Rp 250.000.

Sedangkan hasil panen tanaman bayam dan sawi sebesar Rp 500.000/petak setelah dikurangi biaya operasional membeli bibit dan pupuk organik, maka penghasilan bersih didapat petani sebesar Rp 325.000/petak.

Tanaman sayur organik yang mereka kembangkan tersebut, mulai dari pembibittan sampai siap panen dibutuhkan waktu selama 21 hari atau 3 minggu. Jika setiap kali panen tiga petak, yakni sayur kangkung, bayam dan sawi, maka pendapatan bersih satu orang petani bisa mencapai Rp 900.000 dalam waktu tiga minggu.

"Lumayan Pak pendapatan kami dari hasil bertanam sayur organik. Kami tidak terlalu sulit mengatasi kebutuhan keluarga di masa pandemi Covid-19 ini. Sayuran hasil panen kami masih lancar dijual ke masyarakat meski tidak sebanyak ketika belum datang wabah virus corona melanda Bengkulu," ujar Mulyani, petani lainnya.

Ia mengatakan, sebelum wabah virus corona datang melanda Bengkulu, permitaan sayur organik dari pemilik restoran, hotel, pedagang bakso dan mie pangsit cukup tinggi. Tapi, setelah datang badai Covid-19, permintaan dari sayur organik dari pelanggan tersebut berkurang.

Hal ini terjadi karena omset mereka juga mengalami penurunan akibat wabah virus corona tersebut. Bahkan, pelanggaran hotel sempat lebih dari lima bulan tidak memesan sayur karena hotel tutup karena tidak ada tamu.

Namun, sejak dua bulan lalu sampai kini pesanan sayur dari pemilik hotel dan restoran mulai datang lagi meski tidak sebanyak sebelum datang wabah Covid-19 di Bengkulu. "Kami tetap bersyukur meski pesanan sayur dari hotel dan restoran masih sedikit, tapi bagi kami hasil panen yang ada membelinya, sehingga dapat uang untuk kebutuhan rumah tangga," ujarnya.

Mulyani dan petani sayur organik lainnya di Bengkulu, berharap wabah virus corona di daerah ini segera berakhir, sehingga dunia usaha di daerah ini kembali bangkit seperti dulu, termasuk usaha perhotelan dan restoran. Soalnya, jika usaha hotel dan restoran maju maka pesanan sayur kepada petani juga meningkat.

Demikian pula usaha bakso dan mie pangsit di Bengkulu juga bangkit, sehingga mereka membutuhkan sayur sawi dalam jumlah banyak. Dengan begitu, hasil panen sayur sawi petani menjadi laris terjual dan penghasilan tani meningkat.

Pengaruh Curah Hujan

Terkait kendala menanam sayur organik, Mulyani mengatakan, intensitas hujan yang tinggi melanda Kota Bengkulu, saat ini membuat tanaman sayur organik milik petani di daerah ini banyak rusak alias gagal panen.

Hujan lebat yang melanda Kota Bengkulu, Selasa (24/11) lalu membuat belasan petak tanaman sayur organik milik petani di Kota Bengkulu, rusak digenangi air hujan. Tanaman sayur yang masih muda begitu terendam air langsung busuk dan mati.

"Ada belasan petak tanaman sayur kami yang baru disemai mati terendam saat hujan lebat melanda Bengkulu pada Selasa lalu. Kami mengalami kerugian karena dalam satu petak petani sudah mengeluarkan biaya Rp 150.000. Tapi, apa mau dikata yang namanya musibah tidak bisa diramal kapan akan datang," ujarnya.

Petani berharap intensitas hujan di Bengkulu, kedepan akan berkurang sehingga tanaman sayur organik yang mereka kembangkan tumbuh dengan baik dan dalam tempo tiga minggu dapat dipanen dengan baik sesuai harapan.

Petani sayur organik di Kota Bengkulu mengaku selama ini tidak ada pembinaan dari Dinas Pertanian setempat, sehingga mereka tidak mendapatkan bantuan pupuk subsidi dari pemerintah, khususnya pupuk organik.

Selama ini, kata Mulyani sudah ada beberapa orang mengaku pegawai Dinas Pertanian Bengkulu mendatangi mereka, tapi kedatangan mereka hanya sebatas mencatat dan tidak ada tindaklanjutnya untuk membantu petani sayur organik.

Di Kota Bengkulu, terdapat puluhan petani tanaman sayur organik, tersebar di sejumlah kelurahan di beberapa kecamatan, salah satunya di Kelurahan Tanah Patah, Kecamatan Teluk Ratu Samban. Di kelurahan ada sekitar 20 petani menanam sayur organik.

Untuk itu, Mulyani mengharapkan bantuan dari Dinas Pertanian setempat, baik bibit sayur maupun pupuk organik yang berasal dari kotoran ternak. Dengan adanya bantuan tersebut, biaya operasional yang dikeluarkan petani lebih murah dari sekarang.

Selama pandemi Covid-19 melanda Bengkulu, petani sayur organik mengaku tidak mendapatkan bantuan dari pemerintah baik BLT, UKMK dan bantuan Covid-19 lainnya kecuali bantuan dari Pemkot Bengkulu berupa beras 2 karung dan 2 dus mie instan pada bulan Juli lalu dan sampai sekarang tidak ada bantuan lagi.

Mereka mengaku pernah mendatangi Dinas Koperasi Kota Bengkulu untuk mendaftar agar mendapatkan bantuan dana UMKM dari pemeritah pusat, tapi saya pendaftaran untuk mendapatkan bantuan UMKM sudah tutup, sehingga harapan mendapatkan bantuan UMKM pupus, katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Bengkulu, Ricky Gunarwan mengatakan, pembinaan petani sayur organik berada dibawah naungan Distan Kota Bengkulu, sehingga jika mereka membutuhkan bantuan pupuk organik silakan mengajukan usulan ke instansi tersebut.

Meski demikian, jika ada usulan permintaan bantuan pupuk organik dari dari kelompok tani sayur organik di Kota Bengkulu, silakan saja sampaikan ke Distan Provinsi Bengkulu, dan jika persyaratanya lengkap akan dibantu.

Syarat untuk mendapatkan bantuan pupuk dan sebagainya dari Distan Bengkulu, harus diajukan oleh kelompok tani bersangkutan dan kelompok tani harus memilik badan hukum dan memiliki anggotanya. "Jika persyaratan ini dapat dipenuhi oleh kelompok tani bersangkutan, maka bantuan akan kita salurkan," ujarnya.

Ricky mengaku cukup banyak kelompok tani di Bengkulu, telah dibantu pupuk dan bibit tanaman holtikultura oleh Distan Bengkulu. "Jadi, kalau petani sayur organik ingin mendapatkan bantuan pupuk dari Distan Bengkulu silakan ajukan usulan melalui kelompok tani dan jika syaratnya lengkap akan kita bantu," ujarnya.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Pemkab Taput Diminta Kaji Ulang Transformasi Kampus IAKN Jadi Untara

Pemkab Taput sebaiknya membangun gedung Untara tanpa harus menghilangkan IAKN yang sudah banyak melahirkan penginjil penerus dari IL Nommensen.

NASIONAL | 27 November 2020

Kemdagri: Pilkada Momentum Mobilisasi Agen Perlawanan Covid-19

Kemdagri menjelaskan Pilkada 2020 bisa menjadi momentum untuk memobilisasi seluruh pihak agar menjadi agen pencegahan penyebaran Covid-19.

NASIONAL | 27 November 2020

Kiara: Edhy Prabowo Abaikan Peringatan Ombudsman

Ombudsman pernah mengingatkan adanya potensi kecurangan dalam kebijakan pemberian izin ekspor benih lobster dan juga bertentangan dengan UUD 1945.

NASIONAL | 27 November 2020

Relawan N4J Gencarkan Sosialisasi Pilkada untuk Menangkan Bobby-Aulia di Medan

Relawan menyosialisasikan masyarakat agar menggunakan hak suaranya dengan terlebih dulu mengecek formulir C6 di setiap kantor kelurahan

NASIONAL | 27 November 2020

Mendes PDTT Jelaskan Perbedaan BUMDes dan BUMDes Bersama

Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar menyatakan setiap desa hanya boleh memiliki satu BUMDes. Sementara itu, BUMDes Bersama adalah kerja sama antar desa.

NASIONAL | 27 November 2020

UBL Raih Penghargaan dari Asosiasi Big Data dan AI

Universitas Budi Luhur mendapatkan penghargaan ini, karena kontribusinya dalam pemanfaatan ICT dan pengelolaan big data pada perguruan tinggi.

NASIONAL | 27 November 2020

Tank, Meriam, dan Apache TNI Pukul Mundur "Musuh"

Prajurit TNI AD terus melakukan penekanan. Sejurus kemudian, dua heli Apache muncul dari sisi selatan dan melepaskan dua tembakan AGM-114 Hellfire ke arah musuh

NASIONAL | 27 November 2020

KPK Duga Ada Penyuap Lain ke Edhy Prabowo Terkait Izin Ekspor Benur

KPK menduga di rekening PT ACK telah terkumpul setoran dari sejumlah perusahaan ekspor benur sebesar Rp 9,8 miliar.

NASIONAL | 27 November 2020

BNPT Kukuhkan Gugus Tugas Pemuka Agama untuk Cegah Radikalisme

Pengukuhan gugus tugas pemuka agama tersebut sebenarnya formalitas saja.

NASIONAL | 27 November 2020

DPRD dan Pemkab Klungkung Sepakati APBD 2021

Semua fraksi menyetujui Ranperda APBD 2021 tersebut menjadi Perda, dengan beberapa catatan.

NASIONAL | 26 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS