Logo BeritaSatu

Prof Cornelis Lay, Menjadi Guru Besar Berkat Celengan Recehan

Rabu, 5 Agustus 2020 | 19:46 WIB
Oleh : Fuska Sani Evani / FMB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM, Prof Dr Cornelis Lay, MA, menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 61 tahun, Rabu (5/8/2020) pukul 04.00 WIB di Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta, akibat sakit jantung yang dideritanya selama lima tahunan.

Jenazahnya akan dimakamkan Kamis (6/8/2020) pukul 14.00 WIB di kompleks pemakaman UGM, Sawitsari, Sleman.

Prof Cornelis Lay yang akrab disapa Conny, meninggalkan istri, Jeanne Cynthia Lay Lokollo, dan dua orang anak: Dhiera Anarchy Rihi Lay serta Dhivana Anarsya Ria Lay.

Dekan Fisipol UGM, Prof Dr Erwan Agus Purwanto membenarkan kalau Conny, memang sakit jantung dan sudah menahun.

“Beliau sakit jantung sudah cukup lama, sekitar 5 tahun dan sudah dipasangi alat khusus untuk membantu jantung beliau dan juga harus check up rutin,” ujar Erwan.

Conny masuk rumah sakit Selasa malam, dan wafat Rabu dini hari.

“Cornelis Lay masih aktif di berbagai kegiatan akademik dan menjabat sebagai Ketua Pusat Kajian Politik dan Pemerintahan atau Research Centre for Politics and Government (PolGov) Fisipol UGM,” terang Erwan.

Dalam 5 tahun terakhir, beliau fokus pada riset dan terus mendorong rekan-rekan mudanya untuk menulis di jurnal internasional dan akrab dengan mahasiswa.

“Beliau sosok yang sangat dedicated, artinya kalau mengajar serius, tetapi dekat dengan mahasiswa,” tutur Erwan.

Erwan mengakui bahwa sosok Conny sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan Fisipol UGM dan dalam situasi yang kurang begitu sehat pun, Conny masih bersedia membantu teman-temannya yang sedang menulis untuk menjadi reviewer.

“Teman diskusi yang baik, kami kehilangan orang yang baik seperti Mas Conny,” ucap Erwan.

Dukungan Ibu
Disarikan dari laman Kagama, sosok Conny muda, memilik tekad sekuat baja untuk mengubah nasib. Lahir dari orang biasa, sejak kecil hingga SMA, anak keempat dari enam bersaudara itu hidup bersama keluarganya dari pasar ke pasar. Conny membantu orang tuanya jualan, bahkan menjadi buruh demi ingin mengubah nasib.

Keadaan susah memang harus diterima, tetapi Conny menyimpan tekad besar untuk mengubah nasib.

Conny muda bertetad untuk keluar dari kampungnya, dan kuliah di kota. Waktu itu, bersama sobat karibnya George Eman, nekat tanpa bekal pengetahuan apapun untuk menyeberang ke pulau Jawa, dan rupanya, niat itu didukung sepenuhnya oleh sang ibu, dengan membuka celengan yang selama ini sudah disiapkan untuk Conny.

Recehan antara Rp 50 dan Rp 100, terkumpul hingga Rp 268.000. Maka uang receh itulah yang menjadi bekal bagi Conny untuk melebarkan langkahnya menuju kampus Biru di Yogyakarta.

Tiket pesawat Kupang-Surabaya waktu itu dibeli dengan harga Rp 68.000, dan sisanya, untuk biaya naik bus menuju Yogya, hingga bertahan hidup di awal-awal kuliah.

Conny pun menjadi banyak belajar kepada masyarakat, saat mulai mengenyam pendidikan di UGM. Kalau di kampungnya, masyarakat cenderung homogen. Sedang di Yogya, lebih heterogen. Berbagai bahasa daerah didengarnya saat itu, memang bahasa Jawa lantas menyatukan mereka. Ada yang tiba-tiba berucap dengan bahasa Batak, Sunda, Bali dan banyak lagi. Bagi Conny, kenyataan yang heterogen itulah yang menjadi basis penting baginya dalam memutuskan pilihan karier.

Conny mulai kuliah di Jurusan Ilmu Pemerintahan (sekarang Departemen Politik Pemerintahan) pada 1980. Untuk bisa bertahan dan menghidupi diri sendiri, Conny menulis untuk media massa yang akhirnya justru mengasah kemampuan akademiknya, sebab untuk bisa menulis, harus punya banyak referensi dan wajib membaca berbagai macam buku.

Dalam sebuah pernyataanya, Conny menyebut, Negeri ini, betul-betul negeri yang majemuk dan unik.

Conny lulus dari Ilmu Pemerintahan pada 1987 lalu menjadi dosen, melanjutkan pendidikan S2 di St. Mary’s University, Halifax, Kanada (1992), dan meraih gelar Doktor Ilmu Politik UGM (2007).

Berkat celengan uang receh dari sang ibu, Conny dipercaya untuk menyusun teks pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo saat dilantik pada Oktober 2014.

Pengukuhan sebagai Guru Besar Fisipol UGM pada 2019 lalu pun menjadi puncak karier bagi Conny yang dilalui penuh perjuangan.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

TAG: 

BERITA LAINNYA

Tim SAR Lanjutkan Pencarian Korban Tenggelam di Pelabuhanratu

Tim SAR gabungan bersiaga dan melanjutkan pencarian korban tenggelam kecelakaan laut di Pantai Kebonkalapa Citepus, Pelabuhanratu, Sukabumi.

NASIONAL | 20 September 2021

Antisipasi Tsunami Terulang, BMKG Sempurnakan Sistem Peringatan Dini

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan pihaknya dan kementerian/lembaga terkait sedang menyempurnakan sistem gempabumi dan peringatan dini tsunami.

NASIONAL | 19 September 2021

Dirtipidum: Napoleon Pukuli dan Lumuri M Kece dengan Kotoran

Hasil pemeriksaan perkara penganiayaan yang dialami Muhammad Kece di Rutan Bareskrim Polri terungkap bahwa Napoleon Bonaparte memukuli dan melumuri kotoran

NASIONAL | 19 September 2021

Komisi I DPR Dukung Peremajaan Alutsista Koamarda II Surabaya

Komisi I DPR mendukung peremajaan alat utama sistem pertahanan (alutsista) Koarmada II Surabaya.

NASIONAL | 19 September 2021

9 Nakes Korban Kekerasan KKB Jalani Pemulihan Trauma

Sebanyak sembilan tenaga kesehatan korban kekerasan d Kiwirok, Pegunungan Bintang, Provinsi Papua pada Senin (13/9/2021)saat ini menjalani pemulihan trauma

NASIONAL | 19 September 2021

Mulai 25 September, Denpasar Terapkan Ganjil Genap di Daerah Tujuan Wisata

Polrestra Denpasar akan menerapkan peraturan lalu lintas berupa penyekatan ganjil genap bagi kendaraan di Daerah Tujuan Wisata (DTW) mulai 25 September 2021.

NASIONAL | 19 September 2021

Wasekjen Demokrat Minta Pemerintah Perhatikan Nasib Guru Honorer

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Irwan meminta pemerintah memperhatikan nasib para guru honorer.

NASIONAL | 19 September 2021

BNPT: Sikap Intoleran Sebabkan Bencana, Hargai Perbedaan

Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, sikap intoleran terhadap agama dapat menyebabkan bencana sehingga mengajak masyarakat untuk menghargai perbedaan

NASIONAL | 19 September 2021

Ini Isi Lengkap Surat Terbuka Irjen Napoleon Soal Penganiayaan M Kece

Irjen Napoleon Bonaparte menuliskan surat terbuka terkait dugaan penganiayaan terhadap Muhammad Kece atau Muhammad Kace. Ini isi lengkap surat tersebut.

NASIONAL | 19 September 2021

Banjir Rendam Ratusan Rumah di Mukomuko

Sebanyak 108 rumah warga Desa Rawa Mulya Kecamatan XIV Koto, Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, sejak Sabtu (18/9/2021) sampai Minggu (19/9/2021) terendam banjir.

NASIONAL | 19 September 2021


TAG POPULER

# Myanmar


# Mujahidin Indonesia Timur


# Napoleon Bonaparte


# Pengobat Alternatif Ditembak


# Manchester United



TERKINI
IHSG Melemah di Awal Perdagangan

IHSG Melemah di Awal Perdagangan

EKONOMI | 7 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings