Operasi Senyap Bareskrim Tangkap Djoko Tjandra Diapresiasi

Operasi Senyap Bareskrim Tangkap Djoko Tjandra Diapresiasi
Buronan kasus cessie Bank Bali Djoko Soegianto Tjandra (baju tahanan) tiba di Bandara Halim Perdakusuma, Jakarta, Kamis (30/7/2020) malam. (Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao)
Carlos KY Paath / JAS Minggu, 2 Agustus 2020 | 21:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN dan RB) Tjahjo Kumolo mengapresiasi operasi senyap penangkapan Djoko Tjandra. Kabareskrim Komjen Listyo Sigit Prabowo dinilai berhasil melaksanakan tugas dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Kapolri Jenderal Idham Azis.

“Selamat dan sukses untuk Bareskrim Polri dalam mengemban tugas Bapak Presiden dan Kapolri. Bareskrim berhasil secara tegas, dan cepat lewat gerakan senyap, menangkap dan membawa pulang Djoko Tjandra ke Tanah Air,” kata Tjahjo kepada Beritasatu.com, Minggu (2/8/2020).

Tjahjo optimistis kerja-kerja Bareskrim tidak hanya berhenti pada Djoko. Menurut Tjahjo, Polri serta aparat penegak hukum seperti Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan terus memburu para koruptor maupun buronan kejahatan lain.

Tjahjo juga mengapresiasi Jaksa Agung ST Burhanuddin, menindak oknum Kejagung yang terlibat dalam kasus pelarian Djoko. “Komitmen Jaksa Agung memproses oknum Kejagung yang bermain layak diacungi jempol,” ujar mantan Menteri Dalam Negeri ini.

Sejauh ini, Kejagung telah mencopot jaksa Pinangki Sirna Malasari dari jabatan struktural karena dianggap pergi ke luar negeri tanpa izin. Pinangki pun diduga berulang kali bertemu Djoko Tjandra di luar negeri.

Diketahui Djoko Tjandra yang merupakan buronan kasus cessie atau hak tagih Bank Bali dibekuk saat bersembunyi di Malaysia. Djoko diterbangkan ke Indonesia pada Kamis (30/7/2020). Djoko kini ditahan di Rutan Salemba Cabang Mabes Polri, Jakarta.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengungkap pada Senin (20/7/2020), sekitar pukul 17.30 WIB, Kabareskrim datang menemuinya. Menurut Mahfud, Listyo menyebut Polri sudah menyiapkan suatu operasi penangkapan Djoko.

Operasi tidak dilakukan antara government to government (G to G) atau pemerintah ke pemerintah, tetapi B to B atau antara Polri dengan Polisi Malaysia. “Waktu itu Pak Listyo meyakinkan kami tidak G to G tapi cukup B to B, jadi polisi ke polisi,” ungkap Mahfud, belum lama ini.

Mahfud menambahkan ada kesepakatan juga bahwa operasi itu hanya diketahui olehnya, Presiden, dan Kapolri. “Itu sebabnya sejak tanggal 20 Juli, saya tidak pernah bicara secara spesifik bagaimana menangkap Djoko Tjandra,” ucap Mahfud.



Sumber: BeritaSatu.com