IPW Minta Komisi III DPR Bentuk Pansus Djoko Tjandra

IPW Minta Komisi III DPR Bentuk Pansus Djoko Tjandra
Neta S Pane (Foto: Istimewa)
Gardi Gazarin / RSAT Rabu, 15 Juli 2020 | 15:22 WIB

Jakarta, Beritaatu.com - Indonesia Police Watch (IPW) meminta Komisi III DPR membentuk Pansus Djoko Tjandra untuk mengusut kemungkinan adanya persengkongkolan jahat untuk melindungi koruptor Djoko S Tjandra yang menjadi buronan. IPW juga mendesak agar Brigjen Prasetyo Utomo segera dicopot dari jabatannya jika terbukti bersalah setelah diperiksa oleh Propam Polri.

Hal itu disampaikan Ketua Presidium IPW, Neta S Pane kepada SP, Rabu (15/7/2020). Dikatakan IPW mengecam keras tindakan Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri yang sudah mengeluarkan surat jalan kepada Djoko Tjandra, sehingga buronan kelas kakap itu bebas berpergian dari Jakarta ke Kalimantan Barat, dan kemudian menghilang lagi.

Dari data yang diperoleh IPW, surat jalan untuk Djoko Tjandra dikeluarkan Bareskrim Polri melalui Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS, dengan Nomor: SJ/82/VI/2020/Rokorwas, tertanggal 18 Juni 2020, yang ditandatangi Kepala Biro Koordinasi dan Pengawasan PPNS Bareskrim Polri Brigjen Prasetyo Utomo. Dalam surat jalan tersebut  Djoko Tjandra disebutkan berangkat ke Pontianak Kalimantan Barat pada 19 Juni, dan kembali pada 22 Juni 2020.

Yang menjadi pertanyaan IPW apakah mungkin sekelas jenderal bintang satu (Brigjen) dengan jabatan Kepala Biro Karokorwas PPNS Bareskrim Polri berani mengeluarkan surat jalan untuk seorang buronan kakap sekelas Djoko Tjandra? Apalagi biro tempatnya bertugas tidak punya urgensi untuk mengeluarkan surat jalan untuk seorang pengusaha dengan label yang disebut Bareskrim Polri sebagai konsultan.

"Lalu siapa yang memerintahkan Brigjen Prasetyo Utomo untuk memberikan surat jalan itu. Apakah ada sebuah persekongkolan jahat untuk melindungi Djoko Tjandra," tanya Neta. 

Menurut Neta, Prasetyo Utomo sendiri adalah alumni Akpol 1991, teman satu angkatan dengan Kabareskrim Komjen Sigit.

IPW mengecam keras tindakan Bareskrim Polri yang sangat tidak Promoter, yang tidak segera menangkap buronan kelas kakap Djoko Tjandra, yang sudah masuk ke dalam markas besarnya. Tapi ironisnya Djoko Tjandra malah dilindungi dan diberikan surat jalan.

Melihat kinerja Bareskrim Polri, sudah saatnya Presiden Jokowi turun tangan mengevaluasi kinerja Bareskrim Polri. Sebab melindungi dan memberi surat jalan pada buronan kasus korupsi sekelas Djoko Tjandra sama artinya "menampar muka" Presiden Jokowi yang selalu menekankan pemberantasan korupsi di negeri ini.



Sumber: BeritaSatu.com