Si Hitam Pertamax Turbo dan Kisah Para Penyalur Migas

Si Hitam Pertamax Turbo dan Kisah Para Penyalur Migas
Pembongkaran muatan 24 KL BBM dari Si hitam Pertamax Turbo ke tangki pendam milik SPBU Rest Area Tol Semarang-Solo di Km 429 Ungaran Timur. (Foto: Beritasatu,com / Stefi Thenu)
Stefi Thenu / JEM Senin, 13 Juli 2020 | 15:28 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Agus Listiawan (38) memacu sepeda motornya. Jarum jam menunjukkan angka 04.45 WIB. Dari rumahnya di Perum Griya Lestari, Ngaliyan, ke tempat kerjanya di Pengapon Semarang, terpaut jarak cukup jauh, yakni 46,8 km. Dia harus memacu motornya lebih cepat, agar tidak terlambat. Dalam catatan google maps, waktu yang harus ditempuhnya 1 jam 15 menit. Namun, jarak sejauh itu, dari ujung barat hingga utara Kota Semarang, ayah beranak satu itu cukup menempuhnya dalam tempo rata-rata 45 menit.

Hampir 05.30 WIB, dia tiba juga di Integrated Fuel Terminal Semarang Pengapon, tempat kerjanya selama lima belas tahun terakhir. Setelah memarkir sepeda motornya dan melapor di Pos Satpam, lelaki itu segera bergegas menuju ruangan di sudut kantornya. Di sana, sudah menunggu Achmad Romadhon (30), mitranya sesama awak mobil tangki (AMT) Pertamina.

Sembari menunggu jadwal pemeriksaan kesehatan, keduanya menghampiri truk tangki Quester bernopol B 9779 SEH. Truk berbadan besar itu tampak mencolok, berbeda dari warna kebanyakan truk tangki Pertamina yang bercat merah-putih. Quester tipe GKE 280 itu menjadi satu-satunya yang berwarna hitam pekat. Truk setinggi 3,6 meter dan memiliki panjang tangki 6 meter bertuliskan Pertamax Turbo itu, tampak kuat, gagah, dan berwibawa. Si hitam Pertamax Turbo adalah truk tangki berkapasitas 24 ribu liter atau 24 kiloliter (KL), yang berisi tiga kompartemen, masing-masing berisikan 8 KL produk Pertamina. Itulah Si hitam Pertamax Turbo yang menjadi “kuda tunggangan” Agus dan Achmad setiap hari.

“Ban sudah beres. Tekanan udara sudah pas. APAR (alat pemadam api ringan) ready, oli sudah ganti dan mesin dalam kondisi bagus. Kendaraan sangat laik jalan,’’ ujar Achmad Romadhon. Laki-laki bertubuh sedang ini sehari-hari menjadi mitra Agus. Posisinya adalah sebagai AMT 2 yang bertugas membantu Agus sebagai AMT 1.

Itu adalah kegiatan pemeriksaan rutin kendaraan yang harus dilakukan AMT sebelum bekerja. Kegiatan itu meliputi pemeriksaan kotak peralatan, pemeriksaan dan pemasangan flame trap (saringan knalpot truk untuk menahan percikan api), pemeriksaan air radiator, tekanan ban, pelumas mesin, APAR, dan indikator lampu-lampu kendaraan.

Sejurus kemudian, tiba waktunya untuk pemeriksaan kesehatan. Waktu menunjukkan pukul 06.30 WIB. Mereka dan para AMT lainnya bergantian menjalani pemeriksaan. Petugas kesehatan, Sofi menuturkan, Suhu tubuh Agus Listiawan 36 derajat, tensi 110/70, denyut nadi 63, kadar alkohol nol. Sedangkan, Achmad Romadhon, suhu tubuhnya 36 derajat, tensi 100/70, denyut nadi 73, kadar alkohol juga nol. Keduanya dinyatakan sehat dan layak untuk bekerja.

“Jika AMT 1 atau 2 tak lolos dari pemeriksaan kesehatan, maka akan diganti oleh kru lainnya. AMT yang bersangkutan akan dilarang bekerja dan diminta beristirahat di rumah,” kata Agus Listiawan, kepada Beritasatu.com, Kamis (9/7), yang secara khusus melakukan peliputan kegiatan layanan distribusi Pertamina dari depot hingga SPBU. Atas bantuan humas PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) IV Jateng-DIY, Beritasatu.com mendapatkan izin khusus dari pihak otoritas Integrated Fuel Terminal Semarang Group, untuk menumpang di truk tangki Pertamina dan mengikuti perjalanan distribusi BBM.

Sejak penerapan NGS, pemeriksaan kesehatan atau sesi fit to work (laik kerja) merupakan langkah paling awal yang wajib dilalui para AMT sebelum bekerja. Rangkaian fit to work dimulai dari mengisi buku absen, pemeriksaan tensi, suhu tubuh, kadar alkohol, denyut nadi, keseimbangan hingga konsentrasi.

Setelah itu, dilakukan pengambilan jadwal kerja dan identifikasi sidik jari elektronis (finger ready). Dari situ, para AMT menuju Anjungan Validasi Mandiri (AVM) untuk scanning loading order (LO) dan mendapatkan penugasan baru. Di sini, mereka mengambil print out order (cetak pemesanan) berisi jenis produk yang akan dibawa, serta jarak tempuh pengantaran. Usai menerima print out order, para AMT melakukan finger print, tanda seluruh proses selesai.

Dari sini, mereka dikumpulkan di lapangan untuk menjalani briefing singkat selama 10 menit—ditekankan pentingnya safety alert (peringatan keselamatan), safety driving (keselamatan berkendara), defensive driving (perilaku mengemudi) dan protokol kesehatan selama perjalanan.

“Selamat pagi kawan-kawan pejuang energi. Saya ingatkan untuk selalu mengikuti prosedur yang telah ditetapkan perusahaan. Tidak melakukan tindakan perbaikan pada mobil tangki yang sedang melakukan pembongkaran BBM di SPBU. Selalu menggunakan alat pelindung diri saat di depot maupun di SPBU. Gunakan seragam kerja sesuai ketentuan, Karena di masa pandemik, protokol kesehatan wajib diterapkan, yakni selalu menggunakan masker saat bekerja, tidak bersalaman atau tos, jaga jarak aman dan selalu mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer. Mohon dengan sangat kawan-kawan, jangan bosan mengingatkan dan menerapkan hal tersebut,” tegas Agus Listiawan, dalam briefing tersebut. Sebagai AMT berpengalaman dan berkinerja baik, dia mengaku sering diminta memberikan briefing kepada rekan-rekan sesama AMT.

Berbekal print out order, kami pun mengantre untuk proses pengisian muatan. Setelah menempelkan i-button (kartu akses), dan melewati pemeriksaan petugas Health Safety Security and Environment (HSSE), Agus merapatkan truknya ke Shed Loading Bay New Gantry System (gerbang pengisian BBM dengan NGS). Tiba di sana, dengan sigap, Achmad Romadhon mengganjal ban dan menyiapkan APAR. Dilanjutkan memasang grounding cable (kabel pengaman dari korsleting) dan overfill cable (kabel pencegah tumpah), mengaktifkan safety valve (katup pengaman), memasang bottom loader (penutup pipa), dan mengaktifkan pengisian dengan i-button. Proses pengisian hanya berlangsung 15 menit.

Achmad kemudian melepas dan menaruh kembali bottom loader, mengembalikan grounding cable dan safety valve, serta mengembalikan ganjal ban dan APAR ke tempatnya semula, dilanjutkan dengan memasang segel berwarna kuning untuk setiap kompartemen. Sebagai leader, AMT 1 Agus Listiawan berkeliling mobil tangki untuk memastikan semua prosedur pengisian berjalan sesuai ketentuan.

“Istilahnya pengecekan 2x360. Keliling pertama, memastikan semua koneksi yakni bottom loader, grounding serta pengganjal ban, tercabut. Keliling kedua, memastikan rambu stop dan APAR telah dipindahkan ke tempat semula,” ujarnya.

Sampailah truk di Gate Out. Di sini, AMT melakukan pemasangan segel di menhole (penutup kompartemen) maupun bottom loader, serta mencetak loading order. “Setelah mencetak loading order, lokasi tujuan baru diketahui. Dari print out ini, kita langsung meluncur ke SPBU 43.507.17 di Rest Area Tol Semarang-Solo. Semuanya kita bongkar di situ,” ujar Agus, sembari menunjukkan print out loading order.

Sesaat meninggalkan Gate Out, Agus membuka sedikit daun pintu truknya. Seorang perempuan paruh baya menyodorkan segelas temulawak dan kunir asam kepada Agus. Secepat kilat, diteguknya langsung hingga tandas. Rupanya, itu tradisi rutin yang setiap hari dilakoni para AMT; minum jamu tradisional untuk mendongkrak stamina.

“Minum jamu dulu, Mas, agar semangat bekerja dan tidak mudah capek. Jamu racikan Bu Andre ini sudah dikenal dan jadi langganan para AMT,” ujar Agus. Bu Andre yang disebutnya adalah perempuan paruh baya penjual jamu gendong, yang sejak 30 tahun lebih menjajakan dagangannya di depan pintu masuk depot.

Dorongan jamu tradisional racikan Bu Andre, nyatanya membuat Agus bergairah. Si hitam Pertamax Turbo-nya pun sontak melesat, membelah pagi yang sibuk. Tapi, jangan lupa. Semangat boleh kencang, namun, laju kendaraan tidak boleh setali tiga uang. Untuk perjalanan dalam kota, AMT diwajibkan memacu kendaraannya maksimal 40 km perjam, sedangkan luar kota dan tol maksimal 60 km perjam.

“Kami harus mematuhi SOP, seperti 6 J itu,” ujar Agus sembari menunjuk sebuah stiker yang tertempel di kaca belakang kabin truk.

Di situ tertulis, “Patuhi 6 J. Jaga jarak kendaraan, minimum 15 meter; Jaga kecepatan, maksimum 60 km perjam; Jaga waktu kerja, maksimal 12 jam sehari; Jaga konsentrasi, jangan pakai handphone dan waspada keteledoran pengendara lain; Jangan mengantuk saat berkendara, dan Jangan lupa pakai sabuk pengaman.”

Supervisor PT Pertamina Patra Niaga, Abimanyu menuturkan, selaku operator mobil tangki Pertamina, bersama mitra PT Ardina Prima, pihaknya memiliki 153 armada truk tangki dan mempekerjakan 600 orang AMT. Jam kerja dibagi dua sif, yakni sif pertama jam 00.00 WIB-12.00 WIB, dan sif kedua jam 12.00 WIB-00.00 WIB. “Seluruh AMT telah dibekali pelatihan dan SOP (standard operating procedure) dalam bekerja, sehingga diharapkan dapat memberikan layanan terbaik kepada konsumen,” ujar Abimanyu.

New Gantry System
Dengan sistem NGS, seluruh proses administrasi dan pengisian muatan BBM dilakukan secara digital. NGS adalah sistem untuk mendukung proses distribusi dan penyaluran BBM secara terpadu di Terminal BBM. Semua proses kegiatan mulai dari mobil tangki masuk ke TBBM, proses pengisian, hingga keluar dari TBBM termonitor di control room. Menurut Pjs General Manager PT Pertamina MOR IV Jateng-DIY Rahman Pramono Wibowo, didampingi Integrated Fuel Terminal Manager Semarang Group Agus Zulfa Irianto, NGS mempercepat proses pengisian dan mampu menghindari tindak penyelewengan.

“Proses yang dulu bisa lebih dari 30 menit, sekarang paling cepat bisa 5 menit hingga 15 menit. Selain itu, truk dilengkapi GPS (global positioning system), sehingga bisa mendeteksi keberadaan AMT. Jadi, AMT tak bisa keluar dari rute yang telah ditentukan. Kalau dia nekat keluar dari rute, masuk dalam black zone (zona hitam) pasti terdeteksi di monitor. Dia pasti kena sanksi,” tegas Rahman Pramono Wibowo.

Agus Zulfa Irianto menambahkan, jika begitu, AMT pasti kena blokir atau pemecatan langsung. “Sebab, kuat diduga dia melakukan penyelewengan. Sistem ini memang bertujuan agar tak ada lagi truk tangki Pertamina yang ‘ngencing’ di sembarang tempat. Jadi, sanksinya sangat keras,” tegas Agus Zulfa, sembari mengatakan baru-baru ini pihaknya memblokir 10 AMT karena terdeteksi masuk black zone.

Sistem NGS di Fuel Terminal Semarang Group beroperasi sejak 24 Agustus 2017, sehingga menjadikan Integrated Fuel Terminal Semarang Group sebagai World Class Fuel Terminal. Terminal BBM terpadu ini telah memenuhi standar sebagai green terminal dengan fasilitas blending biofuel dan telah meningkatkan standar Health Safety Security and Environment (HSSE).

Bagi AMT, sistem NGS menutup celah untuk bertindak curang. Menurut Agus Listiawan, sistem online saat ini tidak memungkinkan para AMT untuk melakukan penyelewengan. “Karena semuanya sudah masuk dalam sistem, jadi seluruh prosesnya sudah terdeteksi. Seluruh proses, mulai dari pengisian muatan hingga bongkar muat di SPBU, tercatat dan dapat dimonitor hingga ke kantor pusat di Jakarta. Pihak SPBU pun memonitor perjalanan kita, berangkat kapan dan tiba jam berapa. Jadi, sulit untuk berbuat neko-neko (macam-macam),” ungkap pria kelahiran Semarang, 16 Mei 1982 itu.

Praktis, sistem ini menjadi seleksi yang ideal untuk mencari sosok AMT yang profesional dan berintegritas. Pria yang telah bekerja sejak 2005 ini pun menuai prestasi atas kinerjanya yang baik. Agus selalu membukukan zero claim atau zero complain dari pihak SPBU yang dilayaninya. Atas prestasinya itu, pria yang beberapa kali terpilih menjadi AMT terfavorit ini, mendapatkan hadiah menunaikan ibadah umroh ke Tanah Suci bersama keluarganya, pada Februari 2020 lalu.

Zero Claim
Pukul 09.19 WIB, Si hitam Pertamax Turbo tiba di SPBU Rest Area Tol Semarang-Solo Km 429, yang terletak di Kalirejo, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Usai berkoordinasi dengan petugas setempat, supervisor SPBU, Danang Setiawan, segera naik ke atas menhole. Didampingi Agus, Danang membuka satu per satu segel dan menhole. Pria berbadan besar itu lalu memasukan besi ukur, sedangkan Agus mengawasi sambil membawa surat keterangan pengujian Tangki Ukur Mobil (TUM) yang dikeluarkan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Metrologi Legal Dinas Perdagangan Kota Semarang.

Hasil pengukuran, untuk kompartemen pertama berisikan Biosolar, ketinggian cairan tercatat 166,5 mm. Hasil itu di atas tera yakni 165,0 mm. Untuk kompartemen kedua berisi Biosolar, ketinggian cairan 164,5 mm, juga di atas tera 164,1 mm. Begitu pula ketinggian cairan di kompartemen ketiga berisi Partalite tercatat 165,9 mm atau di atas tera 164,3 mm. Setelah pengukuran selesai, bongkar muat pun berlangsung. Danang dan Agus Listiawan melanjutkan proses pengisian Online Delivery Info (ODI), melalui aplikasi khusus yang dikembangkan Pertamina. Hasilnya, total claim loss dinyatakan nol atau zero.

“Aplikasi ODI memiliki fitur-fitur yang memudahkan pelanggan SPBU untuk memonitor status pengiriman BBM yang telah dipesan sesuai Loading Order (LO), mulai dari proses pengisian BBM di Terminal BBM, proses pengangkutan hingga penyerahan BBM di lokasi SPBU tujuan,” ujar Rahman.

Proses bongkar muat BBM 24 KL dari Si hitam Pertamax Turbo ke tangki pendam SPBU, itu pun rampung sekitar 1 jam 5 menit. Danang Setiawan mengaku puas dengan layanan Pertamina. Dia mengaku, dengan adanya NGS, antara order dengan produk yang diterima, jumlahnya selalu pas. “Sejak adanya NGS, layanan Pertamina menjadi semakin baik. Layanan semakin cepat, hari ini kita order, besok produknya sudah datang,’’ ujar Danang.

Namun, layanan cepat itu kadang membuat pihaknya tidak siap. Dia meminta agar pengiriman Pertamina tidak dilakukan langsung, tapi bertahap. “Contoh, saat kami pesan Solar 40 KL, langsung diantar sebanyak itu, padahal kapasitas tangki pendam solar kami hanya 32 KL. Kami minta dikirim bertahap, agar tangki kami bisa menampung,” ujarnya memberi masukan.

Agus Zulfa Irianto menuturkan, dengan adanya NGS, jika ada kekurangan, bisa diklaim, sehingga pengiriman berikutnya dapat diganti sesuai jumlah yang diklaim. “Jadi kekurangan atau kelebihan order, dilakukan secara oil to oil, tidak cash,’’ tambahnya.
Di samping itu, dengan NGS, praktis AMT baru dapat mengetahui lokasi pengiriman saat berada di pintu keluar (Gate Out) terminal. Jadi, AMT tak bisa memilih SPBU mana yang dia mau atau jarak terdekat saja yang dipilih. “Karena saat dia mau keluar dari Gate Out, dia baru tahu lokasi SPBU yang menjadi tujuan,” ujarnya.

Dijelaskan, pihaknya melayani 250 SPBU di wilayah Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Grobogan, Pekalongan, Pemalang, hingga Pasuruan (Jawa Timur). Data dari Januari hingga awal Maret 2020, penyaluran BBM rata-rata 6.300-6.500 KL perhari. Namun, memasuki pertengahan Maret, April dan Mei atau saat pandemi turun menjadi rata-rata 4.000 KL perhari. “Baru mulai awal Juni sampai sekarang, mulai naik menjadi rata-rata 5.000 KL perhari,” ujarnya.

Menurut Agus Listiawan, sebelum diterapkan NGS, AMT harus bekerja selama lebih dari 20 jam. “Kalau kita dapat tugas ke SPBU luar kota yang jauh, kalau dihitung dengan proses pembongkaran BBM, dan waktu tempuh pergi pulang bisa memakan waktu lebih dari 20 jam, bahkan pernah hampir 24 jam,’’ ujarnya.

Namun, pada awal Juli 2020, jam kerja AMT dibatasi hanya 12 jam saja. “Sosialisasi 12 jam kerja sudah lama, tapi baru berlaku awal bulan ini,” ungkapnya. Dulu perhitungan jam kerja memakai jarak tempuh maksimal 200 km. Namun kenyataannya bisa memakan jarak tempuh 250 hingga 300 km. “Tapi saat ini, seandainya kita dapat rute jauh di luar kota, seperti Blora misalnya, jam kerja bisa lebih dari 12 jam, sampai Semarang pasti malam,’’ imbuhnya, sembari mengatakan, setiap AMT mendapat waktu kerja empat hari, libur dua hari.

Dia juga mengakui, pihaknya juga mendapatkan penugasan tambahan untuk mengambil BBM alih supply yakni Pertamax turbo ke TBBM Balongan, Indramayu, Jawa Barat. Pengambilan dilakukan seminggu sekali, karena di TBBM Terpadu Pengapon Semarang belum ada pengolahan BBM Pertamax Turbo. Praktis, waktu tempuhnya menjadi lebih jauh dan memakan waktu lebih dari maksimal 12 jam kerja.

Namun, semua beban tugas itu, diakui Agus Listiawan dan Achmad Romadhon sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian untuk negeri. “Namanya orang kerja, capek dan ngantuk itu sudah biasa. Tapi, kalau hasil kerja kami mendapat apresiasi dari pihak SPBU dan atasan, itu kepuasan tersendiri bagi kami,’’ tutur Agus Listiawan, yang punya motto dalam bekerja “Doa, Sabar, Ikhlas dan Santun”.

Prinsipnya, dia melakukan pekerjaannya dengan ikhlas. “Menumbuhkan kepercayaan tidaklah mudah. Terus berusaha melakukan yang terbaik, dan percayalah saat kita melakukan itu semua dengan ikhlas, disitulah semesta bekerja,” demikian filosofi hidup yang selalu dipegangnya.

Potret Agus Listiawan bersama si hitam Pertamax Turbo, hanya secuil kisah dari ribuan AMT Pertamina, para penyalur migas yang menjadi ujung tombak dan garda terdepan distribusi BBM di negeri ini. Beban kerja, jarak tempuh dan peluh yang bercucuran dari para awak mobil tangki, menjadi bagian tak terpisahkan dari tekad dan pengabdian Pertamina untuk selalu melayani dengan sepenuh hati bagi seluruh konsumen di Bumi Pertiwi. 



Sumber: BeritaSatu.com