Kasus Maria Pauline Buka Luka Lama Polri

Kasus Maria Pauline Buka Luka Lama Polri
Menteri Hukum dan HAM (Menkumham) Yasonna H Laoly (berdiri memakai topi) bersama buronan pembobol Bank BNI senilai Rp 1,7 triliun, Maria Pauline Lumowa dalam pesawat perjalanan ke Indonesia, Rabu (8/7/2020). Dalam kunjungan ke Serbia, delegasi yang dipimpin Yasonna berhasil memproses ekstradisi Maria dari negara tersebut. (Foto: istimewa)
Farouk Arnaz / YUD Kamis, 9 Juli 2020 | 12:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penangkapan dan pemulangan Maria Pauline Lumowa, buron kasus pembobol BNI sebesar Rp 1,7 triliun pada 2003, mengungkap aib dan luka lama di tubuh Polri. Sebab dalam rentetan kasus ini sejumlah petinggi Polri terseret ke dalamnya.

Saat itu Polri dipimpin Kapolri Jenderal Sutanto. Jenderal bintang empat yang dikenal bersih itu tegas memeritahkan pengusutan kasus pembobolan BNI secara terang benderang termasuk apabila ada penyidik Polri yang main mata.

Sebab saat itu muncul isu jika para tersangka kasus ini ‘main mata’ dengan polisi supaya kasusnya ‘diamankan’. Para oknum polisi ini tidak menyidik kasus ini secara profesional dan bahkan menjadikan kasus ini bak mesin ‘ATM’.

Buntut dari investigasi internal yang dibuat Sutanto pada 2016 itulah terungkap sejumlah anggota Polri memang terindikasi ‘kecipratan’ uang haram itu. Mereka pun jadi pesakitan termasuk jenderal aktif (saat itu) yakni Kabareskrim Komjen Suyitno Landung dan Direktur II Ekonomi Khusus Brigjen Samuel Ismoko.

Suyitno terseret kasus ini karena dinyatakan terbukti melakukan tindak pidana korupsi dengan menerima mobil Nissan X-Trail dari Ishak—konsultan bisnis Adrian Waworuntu. Adrian adalah dalang pembobol Bank BNI bersama Maria.

Suyitno pun divonis 1,5 tahun dan diharuskan membayar denda Rp 50 juta subsider 6 bulan kurungan. Oleh hakim pemberian mobil tersebut dinyatakan terbukti berkaitan dengan kedudukan Suyitno saat awal kasus ini ditangani polisi yakni saat ia menjabat Wakabareskrim.

Begitupun Ismoko yang divonis penjara satu tahun delapan bulan. Ismoko dinilai terbukti bersalah dengan menerima hadiah 10 travel cek senilai Rp 250 juta saat menyidik pembobolan Bank BNI. Anak buah Ismoko yakni Kombes Irman Santoso pun terbukti menerima suap dan divonis dua tahun sementara Ishak divonis empat tahun penjara karena menyuap polisi.

Selain tiga nama polisi diatas, saat itu, ada 17 anggota Polri yang divonis dalam sidang disiplin. Lima orang dibebaskan, 12 orang diberi teguran tertulis dan 2 orang diantaranya dimutasi dari Bareskrim. Pendek kata kasus ini benar-benar mencoreng Polri. Babak belur.

Kini Pauline telah kembali. “Barang panas” ini akan kembali disidik oleh Barekrim Polri. Sebab berkas Pauline memang belum lengkap. Ini beda dengan Adrian yang telah divonis seumur hidup pada 2005 lalu.

“Setelah (Pauline) diserahkan maka Bareskrim akan melanjutkan penyidikannya. Akan kita rilis nanti setelah kita periksa. Kita tidak ada kendala,” kata Kabareskrim Komjen Listyo Sigit saat dihubungi Beritasatu.com, Kamis (9/7/2020).

Kasus Adrian-Maria berawal saat pemilik PT Gramarindo Group itu mendapat mendapat pinjaman BNI cabang Kebayoran Baru pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003.

Bank pelat merah ini mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro—atau setara Rp 1,7 triliun dengan kurs saat itu—kepada mereka. Aksi PT Gramarindo Group bisa mulus karena dibantu orang dalam bank. Pada 2003 BNI pusat mengendus sesuatu yang tidak beres dalam transaksi keuangan PT Gramarindo Group. Mereka menggunakan L/C fiktif untuk mendapatkan kredit.

Kasus L/C fiktif inilah yang kemudian dilaporkan ke Mabes Polri. Adrian, oknum polisi, dan oknum internal BNI pun ditangkap dan telah di vonis sementara Maria kabur tak lama saat kasus ini disidik.

Maria licin bagai belut termasuk kini jadi warga negara Belanda sebelum kini akhirnya ia pun terpeleset. Seperti peribahasa, "Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga". Semoga kali ini tak ada oknum yang terpeleset.



Sumber: BeritaSatu.com