Jaga Stabilitas Produksi Cabai, BMKG Adakan Sekolah Lapang Iklim

Jaga Stabilitas Produksi Cabai, BMKG Adakan Sekolah Lapang Iklim
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati dalam acara seremonial perdana Sekolah Lapang Iklim (SLI) di Desa Kalimanggis, Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (7/7/2020) (Foto: istimewa)
Bernadus Wijayaka / BW Selasa, 7 Juli 2020 | 23:46 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyelenggarakan Sekolah Lapang Iklim (SLI), seiring dengan masuknya masa tanam cabai di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (7/7/2020). Lokasi tanam berada di Desa Kalimanggis, Kaloran, Temanggung. SLI bekerja sama dengan dinas pertanian setempat.

SLI tahap III ini dihadiri langsung oleh Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Sekda Temanggung Hary Agung Prabowo, dan diikuti oleh seluruh stasiun klimatologi melalui sambungan video konferensi. Hadir pula secara virtual anggota DPR Komisi V, Sudjadi.

"Kegiatan SLI ini adalah bagian dari upaya BMKG turut mengawal stabilitas produksi cabai merah nasional," ungkap Dwikorita seusai acara.

Dwikorita mengatakan, pengetahuan akan iklim dan cuaca menjadi bekal penting bagi petani dan juga penyuluh pertanian. Hal itu untuk meningkatkan hasil panen dan menjaga pasokan cabai sepanjang tahun, sehingga dapat membantu mengurangi fluktuasi harga di pasar.

Mengingat, kata Dwikorita, cabai adalah salah satu komoditas pertanian yang menyumbang tinggi rendahnya laju inflasi di Indonesia. Utamanya, cabai merah dan cabai rawit. Naik turunnya harga cabai selalu dipengaruhi oleh musim.

"Tentunya kami berharap melalui SLI ini hasil panen cabai nantinya bisa lebih meningkat. Begitu juga dengan harga cabai di tingkatan petani," imbuhnya.

Materi yang diberikan selama SLI antara lain pengenalan alat ukur cuaca dan iklim serta tata cara pengamatan unsur cuaca dan agroekosistem.

Selain itu, peserta juga diberi pemahaman informasi prakiraan iklim atau musim dan iklim ekstrem, cara budidaya cabai, pengendalian hama dan penyakit tanaman cabai, teknis pemasaran hasil, analisis usaha tani, dan teknik pengubinan.

"Dengan berbagai materi tersebut, petani dapat lebih detail berhitung tentang komoditas tanamnya. Termasuk beradaptasi manakala terjadi cuaca ekstrem yang berdampak pada tanamannya," paparnya.

Dwikorita menambahkan, kegiatan SLI tidak hanya berfokus pada tanaman cabai saja, tetapi juga pada tanaman-tanaman bahan pokok lainnya seperti beras dan jagung, serta tanaman hortikultura.

Melalui SLI, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dan penyuluh pertanian dalam memanfaatkan informasi lklim dan cuaca di wilayah tanam, sehingga stabilitas produksi dan harga tetap terjaga.

"Beda komoditas tentu berbeda pula penanganannya. Oleh karena itu, pengetahuan akan musim dan cuaca sangat-sangat berpengaruh terhadap produktivitas komoditas tersebut dan harga jualnya," terangnya.

Dikarenakan Indonesia masih berstatus darurat Covid-19, lanjut Dwikorita, maka petani dan penyuluh pertanian akan didampingi secara digital. Baik melalui whatsapp grup maupun aplikasi digital Info BMKG.

Melalui aplikasi tersebut, secara rutin petani akan mendapatkan update informasi perkembangan cuaca harian serta peringatan dini cuaca ekstrem (hujan, angin, kelembaban, ataupun suhu udara) hingga tujuh hari ke depan.

"Melalui metode tersebut, potensi risiko gagal panen dapat diminimalisasi, bahkan dengan kegiatan ini upaya pemulihan ekonomi yang sempat terpuruk akibat wabah Covid-19, diharapkan dapat dipercepat, meskipun saat ini wilayah Kabupaten Temanggung telah memasuki musim kemarau," pungkas Dwikorita.



Sumber: BeritaSatu.com