Fadel Sebut Daya Tahan Jadi Kunci Utama Adaptasi Normal Baru

Fadel Sebut Daya Tahan Jadi Kunci Utama Adaptasi Normal Baru
Founder & Prescom Warta Ekonomi, Fadel Muhammad, pada penghargaan Indonesia Best Bank AWARD 2019 di Jakarta Jumat, 15 November 2019. (Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus)
Markus Junianto Sihaloho / FER Senin, 6 Juli 2020 | 19:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Fadel Muhammad, mengatakan, soal daya tahan hidup menjadi kunci utama sukses tidaknya menghadapi kenormalan baru atau new normal di tengah pandemi Covid-19 yang belum selesai. 

Baca Juga: Pemprov Libatkan Bank DKI Pulihkan Ekonomi Warga

"Saya mau bilang dalam masa Covid-19 ini yang paling utama adalah daya tahan. Siapa yang kuat, dia bertahan," kata Fadel, dalam diskusi Empat Pilar bertema 'Adaptasi New Normal' di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin (6/7/2020).

Menurut Fadel, hal yang pertama adalah daya tahan tubuh masing-masing orang secara fisik. Maka itu, kebiasaan baru memakai masker, mencuci tangan, menjaga kebersihan setiap saat, harus dilaksanakan.

Kedua, upaya meningkatkan kesehatan tubuh dengan cara memperkuat pelayanan kesehatan, pasokan vitamin, hingga kebiasaan berolahraga. Ketiga, penguatan teknologi dan ukuran produktivitas tak lagi dari kehadiran fisik, namun produktivitas kerjanya.

"Jadi dihitung berapa besar inovasi yang diberikan. Sekarang di Perancis, Amerika, semua bergeser orang menghitung seperti begini. Jadi ini teknologi pun luar biasa banyak yang berkembang saat ini," kata Wakil Ketua MPR dari unsur DPD ini.

Baca Juga: Patuhi Protokol Kesehatan, Roda Ekonomi Bergerak

Selanjutnya, adalah soal pendanaan dari masing-masing orang. Menurut Fadel, saat ini seharusnya pemerintah dan lembaga keuangan terkait bisa mendorong agar dana murah bisa disediakan lewat kredit kepada pelaku usaha mikro, kecil, menengah, hingga yang besar. Fadel bahkan mengusulkan kalau boleh ada terobosan bunga kredit bisa turun sampai 1 persen saja.

"Ini harus pemerintah yang berani memberikannya, jadi pemerintah yang mensubsidi perbedaan bunga. Tanpa ini, tidak akan liquid. Kalau ekonomi tidak liquid, maka kita akan kesulitan. Saat ini hampir semua pengusaha menengah kecil dalam keadaan yang sulit dan tidak liquid," bebernya.

"Tanpa ada keberanian dari pemerintah, maka tidak liquid, yang pasti PHK akan lebih besar dan keadaan lebih rusak. Dan 4 bulan dari sekarang akan lebih sulit lagi," tambah Fadel.

Saat ini, lanjut Fadel, industri yang paling berat adalah pariwisata yang terkait dengan hotel serta restoran, dan hampir habis daya tahannya karena perbankan tidak bersedia menurunkan bunga kreditnya.

Baca Juga: Anggaran Pariwisata Diminta Garap Pasar Domestik

"Saya hitung secara kasar, ada bikin simulasi, itu sekitar tak sampai Rp 200 triliun. Kalau pemerintah injeksi ini, saya percaya kita bisa lebih cepat recovery," tegas Fadel.



Sumber: BeritaSatu.com