Nadiem Luncurkan Guru Penggerak untuk Dukung Transformasi Pendidikan

Nadiem Luncurkan Guru Penggerak untuk Dukung Transformasi Pendidikan
Nadiem Makarim. (Foto: Antara / Rivan Awal Lingga)
Jayanty Nada Shofa / JNS Senin, 6 Juli 2020 | 08:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - ​Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim telah meluncurkan secara virtual program Merdeka Belajar episode kelima yakni Guru Penggerak pada Jumat lalu (3/7/2020).

Menurut Nadiem, program Guru Penggerak menjadi inisiatif terpenting yang telah diluncurkan Kemendikbud. Sebab, sebaik apapun teknologi pendidikan, kurikulum maupun infrastruktur sekolah tidak dapat menggantikan peran guru penggerak untuk mengembangkan budaya pembelajaran yang berpusat pada murid.

“Guru penggerak adalah ujung tombak transformasi pendidikan Indonesia. Mereka mendorong tumbuh kembang murid secara holistik untuk memenuhi profil Pelajar Pancasila,” jelas Mendikbud Nadiem pada sambutannya.

Nadiem melanjutkan, guru penggerak bertindak sebagai mentor bagi guru lainnya baik di dalam atau bahkan di luar sekolahnya. Usai mengikuti pelatihan, mereka diharapkan menjadi calon kepala sekolah, pengawas sekolah maupun pelatih program pelatihan guru.

“Guru yang baik berkinerja hanya dalam kelasnya, tetapi guru penggerak harus punya dampak lain kepada guru lain, sekolahnya dan menjadi obor perubahan pendidikan,” pungkas Nadiem.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendibud Iwan Syahril menyatakan penilaian guru penggerak nantinya akan berbasis dampak dan bukti terciptanya pembelajaran yang berpusat pada murid.

Untuk mengembangkan kepemimpinan, program Guru Penggerak akan menerapkan pendekatan andragogi atau pembelajaran orang dewasa.

“Kita harus lebih fokus pada ​on the job learning.​ Artinya, pembelajaran yang relevan dan kontekstual, sehingga memberikan dampak sebaik-baiknya,” jelas Iwan.

Dirinya menambahkan, peserta program akan mengikuti tiga modul pelatihan.

Pertama, peserta akan mempelajari refleksi filosofi Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak Pendidikan Nasional, nilai-nilai dan visi guru penggerak, serta cara membangun budaya positif di sekolah.

Kedua adalah pembahasan praktik pembelajaran yang berpihak pada murid termasuk diferensiasi pembelajaran, pembelajaran sosial dan emosional, serta pelatihan.

“Penting untuk kita memahami cara ​teach at the right level a​tau diferensiasi pembelajaran sesuai dengan kemampuan siswa. Kita juga harus mengingat bahwa manusia (atau siswa) bukan hanya kognitif, tetapi berkaitan dengan sosial dan emosi,” jelas Iwan.

Modul ketiga membahas kepemimpinan pembelajaran termasuk pengambilan keputusan maupun pengelolaan program sekolah yang berdampak pada murid.

Iwan menambahkan program Guru Penggerak merupakan bentuk kolaborasi dari seluruh pihak dengan fokus pada murid.

“Guru penggerak harus bisa menginspirasi untuk terus belajar dan menggali potensi serta menjadi teladan bagi siswa. Mari kita kuatkan kolaborasi untuk anak-anak Indonesia menuju kualitas pendidikan yang semakin baik,” pungkas Iwan.

Pada angkatan pertama guru penggerak, Kemendikbud menargetkan adanya 50 calon penggerak per daerah yang terpilih. Di tengah pandemi Covid-19, sebagian besar pelatihan akan dilakukan secara daring.

Pelatihan kepemimpinan sekolah ini akan diawali dengan proses rekrutmen calon guru penggerak. Kemudian, pelatihan guru penggerak dilanjutkan dengan lokakarya pada fase pertama dan pendampingan di fase kedua.

Adapun pendaftaran guru penggerak akan dibuka pada 13 Juli-22 Juli 2020 melalui laman resmi ​guru penggerak​. Informasi lebih lanjut mengenai program beserta jadwal lengkap penyelenggaraan Guru Penggerak dapat diakses melalui tautan berikut ini.



Sumber: BeritaSatu.com