Polri Akui Salah Tembak, Pengacara Korban: Selanjutnya Apa?

Polri Akui Salah Tembak, Pengacara Korban: Selanjutnya Apa?
Ilustrasi (Foto: Antara)
Farouk Arnaz / HA Minggu, 5 Juli 2020 | 18:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pengusutan dugaan salah tembak dengan korban warga Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) bernama Qidam Al Fariski Mofance masih jalan di tempat. Pengacara keluarga korban mengatakan belum ada keadilan yang diterima keluarga korban atas meninggalnya pemuda 20 tahun itu.

“Sampai sekarang kasus Qidam jalan di tempat. Tak ada kemajuan sejak kita laporkan tiga bulan lalu. Menurut penyidik Polda Sulteng kasus ini diambi oleh Mabes Polri sementara dari Mabes juga tak ada penjelasan. Ini tak masuk di akal,” kata anggota Tim Pengacara Muslim (TPM) Sulteng Andi Akbar saat dihubungi Beritasatu.com, Minggu (5/7/2020).

Padahal, masih kata Akbar, sudah jelas Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Didik Supranoto telah meralat pernyataannya. Didik mengatakan korban tak termasuk dalam daftar pencarian orang (DPO) pelaku tindak pidana teroris Poso yang selama ini sudah beredar.

“Mohon maaf apabila klarifikasi yang disampaikan melalui media ini terkesan terlambat,” kata Didik, Jumat (26/6/2020) lalu. Didik awalnya memang menyebut korban memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Atas hal tersebut, Akbar mempertanyakan kelanjutan sikap Polri tentang kasus ini.

“Kabid Humas sudah menyatakan demikian, itu pun setelah kami melaporkannya karena ia awalnya menyebut Qidam ditembak karena ia teroris. Lalu jika almarhum bukan teroris, mengapa korban ditembak? Siapa pelakunya?” ujarnya.

Semakin lama kasus ini didiamkan, masih kata Akbar, semakin menunjukkan tidak adanya itikad baik dari kepolisian.

Ia mengingatkan jika kasus pembunuhan adalah delik umum, tanpa ada laporan pun seharusnya tetap diusut demi keadilan dan penegakan hukum.

”Kami segera berkunjung ke Jakarta untuk mencari kejelasan. Kami akan ke Mabes Polri, ke Kontras, ke YLBHI, dan Komnas HAM. Ini supaya segera clear dan ada yang bertanggungjawab,” urainya.

Sebelumnya diberitakan Qidam tewas setelah ditembak saat melintas di belakang Polsek Poso Pesisir Utara pada Kamis, 9 April 2020. Di tubuhnya ditemukan luka tusuk dan sayatan. Saat kejadian ia membawa ransel berisi baju, dan menurut informasi yang dihimpun saat itu ia kabur dari rumah karena masalah internal keluarga.

Menurut keterangan pihak keluarga, semasa hidupnya almarhum bekerja serabutan di salah satu SPBU di Poso dan sebagai buruh bangunan.

Di sisi lain, Polda Sulteng mengaku kasus ini sudah ditangani Oleh Div Propam Mabes Polri dan KorBrimob Polri. Namun dua juru bicara Polri Irjen Argo Yuwono dan Brigjen Awi Setiyono belum merespon saat ditanya Beritasatu.com secara terpisah terkait perkembangan isu panas ini.

Padahal kematian Qidam kini jadi isu di ibu kota. Kematiannya bahkan menarik perhatian hingga Pengurus Pusat Muhammadiyah. Organisasi besar ini menyurati Kapolri Jenderal Idham Azis terkait tewasnya Qidam yang di nilai tak wajar.

Diduga ia merupakan korban salah sasaran satuan tugas Tinombala yang memang fokus mengejar kelompk Mujahidin Indonesia Timur yang dipimpin Ali Kalora di pegunungan Poso, Sulteng. Saat ini ada 13 terduga teroris yang masuk dalam DPO.



Sumber: BeritaSatu.com