Cegah Kejahatan Terorisme dengan Pendekatan Budaya

Cegah Kejahatan Terorisme dengan Pendekatan Budaya
Ilustrasi terduga teroris. (Foto: Antara)
Yeremia Sukoyo / FER Selasa, 23 Juni 2020 | 18:31 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Terorisme merupakan kejahatan luar biasa atau extraordinary crime yang butuh penanganan serius dari semua pihak. Gerakan teroris biasanya bermula dari pemikiran radikal yang disusupi ideologi tertentu yang bermaksud mengganti ideologi sebuah negara dengan ideologi yang diyakininya.

Baca Juga: Waspadai Virus Radikalisme saat Pandemi Covid-19

Untuk menanggulangi kejahatan terorisme, di banyak negara, termasuk Indonesia biasanya melakukan banyak pendekatan untuk menyadarkan kelompok masyarakat yang sudah terpapar pemikiran radikal. Diantaranya pendekatan hukum, keamanan hingga pendekatan ekonomi.

Budayawan dan Kepala Makara Art Center Universitas Indonesia (UI), Zastrouw Al Ngatawi, menjelaskan, terorisme adalah tindakan biadab yang dilakukan manusia yang mengabaikan moral dan etik. Perilaku terorisme jika dibiarkan dapat merusak peradaban dan mengancam kehidupan manusia.

"Tindakan teror hanya bisa dilakukan oleh manusia yang sudah tercerabut jiwa kemanusiaannya. Teroris adalah orang yang tertutup mata hatinya," kata Zastrouw Al Ngatawi, dalam diskusi publik daring Program Studi Kajian Terorisme "Strategi Kebudayaan Menghadapi Terorisme", di Jakarta, Selasa (23/6/2020).

Zastrouw mengingatkan, pelaku teror tidak mengenal usia, kondisi ekonomi, maupun level pendidikan. Virus terorisme seperti layaknya narkoba yang bisa menyerang siapa saja. "Jika sudah terpapar virus terorisme maka akan kehilangan akal dan nurani sebagaimana orang terpapar narkoba. Kenapa orang bisa menjadi teroris, karena masalah hati. Sementara teroris tidak punya hati sehingga bisa melakukan apa saja," ujarnya.

Baca Juga: Tidak Semua Penanganan Teroris Butuh Kekuatan Militer

Menurut Zastrouw, salah satu cara efektif untuk menyadarkan pelaku teror, bisa dilakukan melalui konsep strategi kebudayaan. Yakni gerakan untuk menghidupkan kembali rasa kemanusiaan yang mati melalui kebudayaan untuk meningkatkan kepekaan batin.

"Strategi kebudayaan menekankan agar manusia mempertahankan kebudayaan, termasuk dalam beragama. Sasaran strategi kebudayaan ini adalah hati manusia," katanya.

Dirinya meyakini, teroris itu tidak melulu bisa didekati dengan pendekatan hukum, keamanan, maupun ekonomi. Pendekatan keamanan, misalnya. Meskipun penting, pendekatan keamanan malah justru mempersulit mengembalikan kepercayaan teroris terhadap sebuah negara.

"Pendekatan keamanan justru memperkeras hati teroris. Begitu juga pendekatan hukum, yang membuat teroris bangga. Pendekatan ekonomi kalau hatinya belum tersentuh, malah dijadikan alat untuk membantu keluarganya namun yang bersangkutan tetap bergerilya," kata Zastrouw Al Ngatawi.

Baca Juga: Ormas Islam Kunci Pencegahan Radikalisme

Dosen Kajian Terorisme UI, Amanah Nurish, menjelaskan, tindakan teror merupakan kejahatan yang berlatarbelakang absennya empati diri dari pelaku teror. Pelaku teror biasanya kuat dalam hal beragama, namun lemah dalam berkebudayaan.

"Seharusnya, memang ada kesejajaran antara budaya dan agama. Dua-duanya simbiosis mutualisme. Pelaku teror dimungkinkan karena adanya krisis kebudayaan," kata Amanah Nurish.

Dirinya mengingatkan, radikalisme di sekolah hingga perguruan tinggi membuktikan gerakan teror tidak menyasar ke orang-orang yang tidak berpendidikan.

"Bukan karena faktor ekonomi ataupun pendidikan. Mungkin adanya krisis kebudayaan. Polarisasi keagamaan, semakin ke sini semakin mengkhawatirkan. Munculnya terorisme atau gerakan seperti ISIS sebetulnya muncul bukan karena agama. Tetapi muncul sebagai krisis kebudayaan dan politik," ungkap Amanah Nurish.



Sumber: BeritaSatu.com